Feby Novalius
, Jurnalis-Jum'at, 28 Agustus 2026 |13:02 WIB

Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan terjadi di nyaris seluruh wilayah Indonesia berpotensi mengganggu konektivitas pikulan udara. (foto: Okezone.com/Kemenhub)
JAKARTA - Kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan terjadi di nyaris seluruh wilayah Indonesia berpotensi mengganggu konektivitas pikulan udara nasional jika tidak segera diatasi. Kondisi tersebut dapat memberikan akibat serius terhadap operasional penerbangan serta penumpang pesawat.
Dampak utama karhutla terhadap operasional penerbangan antara lain penurunan jarak pandang (visibility) akibat kabut asap, terutama di sekitar bandara. Kondisi tersebut dapat membikin pesawat kudu melakukan holding, mengalami keterlambatan (delay), mengalihkan penerbangan, alias membatalkan penerbangan hingga kabut asap menghilang.
Kabut asap juga dapat membikin petugas ATC menambah jarak pemisahan (separation distance) antarpesawat, terutama saat pesawat bakal lepas landas dan mendarat. Selain itu, akibat keselamatan penerbangan meningkat lantaran partikulat asap, jelaga, dan abu berpotensi mengotori filter udara turbin mesin pesawat, menyumbat tabung pitot-static nan sensitif, serta mempercepat keausan komponen internal mesin jika terhirup secara terus-menerus.
Dampak karhutla juga dapat menimbulkan pengaruh berantai terhadap operasional penerbangan. Jika penerbangan di satu airport mengalami keterlambatan akibat kabut asap, kondisi tersebut dapat menyebabkan keterlambatan di airport lainnya lantaran adanya gangguan pada rotasi penerbangan.
Gangguan operasional tersebut pada akhirnya dapat meningkatkan biaya nan kudu ditanggung maskapai penerbangan. Biaya tambahan tersebut antara lain bahan bakar akibat pesawat melakukan holding sebelum mendarat, kompensasi keterlambatan penumpang, pengembalian biaya (refund) tiket, serta gangguan terhadap rotasi pesawat dan penjadwalan kru penerbangan (flight crew scheduling).
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·