Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian PPN/Bappenas berkomitmen untuk meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) pada masa mendatang. Bersamaan dengan itu, Bappenas juga terus berupaya menurunkan emisi karbon di Indonesia.
Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi mengatakan, salah satu agenda nan tertera di dalam rencana pembangunan jangka panjang nasional (RPJPN) adalah transformasi ekonomi. Salah satunya diimplementasikan melalui penerapan ekonomi hijau nan diharapkan bisa menopang sasaran pertumbuhan ekonomi nasional 8% pada 2029.
"Nanti diharapkan kelak di 2029 ini bisa tercapai, tapi memang kebutuhan ataupun requirement untuk mencapai ini cukup tinggi konsekuensinya, jadi kudu ada tambahan investasi 17% dari nan biasa kita investasikan kita peroleh, ekspor juga kudu meningkat lebih dari 11% per tahun dari tingkat ekspor nan selama ini kita miliki," ujar dia dalam Media Gathering Peluncuran Green Indonesia Future Initiative (GIFT) di Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Sebagai gambaran, penerapan ekonomi hijau ditujukan untuk menyeimbangkan antara kesejahteraan nasional dan keberlanjutan lingkungan dengan konsentrasi pada investasi, modal, infrastruktur, lapangan kerja, dan pengembangan keterampilan. Dengan kata lain, konsep ekonomi hijau mendorong pendapatan setara dengan negara maju, namun juga menargetkan untuk penurunan emisi karbon.
"Berarti kan kita kudu more GDP, GDP kita kudu naik, tapi juga kita punya sasaran untuk menurunkan intensitas emisi, jadi ya GDP kudu naik tapi emisinya, tingkat emisinya itu kudu berkurang, nah ini setidaknya nan mau kita capai melalui konsep ekonomi hijau di Indonesia," terang dia.
Guna mencapai tujuan tersebut, salah satu langkah nan bisa ditempuh adalah dengan menggencarkan hilirisasi sumber daya alam (SDA), baik mineral maupun pertanian dan perkebunan. Meski begitu, upaya hilirisasi juga tetap kudu memperhatikan tingkat emisi nan berpotensi dikeluarkan dari akomodasi pabrik.
"Untuk ekonomi hijau ini kan ada dua jalur, kita pakai nan pertama, nan dekarbonisasi. Jadi gimana kita hilirisasi tapi juga menggunakan teknologi nan lebih rendah akun," jelasnya.
Upaya berikutnya adalah menumbuhkan pusat dan sektor pertumbuhan ekonomi nan baru. Di sini, Kementerian PPN/Bappenas aktif melakukan pertimbangan dan menyusun strategi untuk mengembangkan sektor-sektor prioritas berasas kekayaan alam Indonesia, terutama kekayaan keragaman hayati nan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan nan sama, Deputi Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo Teguh Sambodo menjelaskan, untuk bisa lepas dari posisi middle income trap, Bappenas terus berupaya melakukan transformasi ekonomi. Salah satunya dengan mengurangi ketergantungan kepada komoditas mentah dan beranjak pada pengolahan komoditas tersebut untuk bisa meningkatkan nilai tambah.
"Sehingga kita bisa mengekspor produk nan lebih baik, mengekspor produk nan nilai tambah tinggi sehingga pendapatan kita juga meningkat dan itu kita harapkan dapat kemudian memberikan faedah bagi kesejahteraan masyarakat. Di sisi nan lain, ada juga syarat nan fondasi untuk pertumbuhan tinggi tersebut nan perlu dikerjakan, ialah melalui gimana membangun daya dukung sosial dan ekologi kita," ujar Teguh.
Lebih lanjut, Teguh juga menyebut, Indonesia perlu membangun ketahanan nasionalnya secara berdikari dan berkepanjangan melalui swasembada pangan, energi, dan air sebagai bagian dari upaya transformasi ekonomi. Tak hanya itu, pemanfaatan sumber-sumber pertumbuhan baru juga kudu terus dilakukan, seperti optimasi ekonomi biru dan ekonomi hijau nan tentu berwawasan lingkungan.
Tak hanya itu, Teguh juga bilang, salah satu pengarahan RPJPN ini adalah mengendalikan dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengolahan komoditas mentah menjadi produk berbobot tambah tinggi nan dilaksanakan dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pada saat nan sama, upaya tersebut juga kudu bisa menghasilkan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat luas.
"Nah ini bagian-bagian nan kemudian sebenarnya untuk Indonesia sendiri belum secara optimal dimanfaatkan dan ini merupakan salah satu komponen nan tidak terpisahkan gimana kita mendorong pertumbuhan ekonomi pada saat nan sama juga menjalankan praktek-praktek nan berkelanjutan," pungkas dia.
(mij/mij)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
18 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·