Insentif Pajak EV Berbasis Nikel Dinilai Punya Dampak Besar, Tapi Tak Instan

Sedang Trending 3 minggu yang lalu
Proses perakitan baterai mobil listrik Hyundai. Foto: Hyundai

Kebijakan insentif pajak untuk kendaraan listrik berbasis nikel dinilai menjadi salah satu langkah krusial dalam mendorong industri otomotif nasional. Skema ini tak hanya menyasar peningkatan penjualan, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat rantai industri baterai di dalam negeri.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu memandang kebijakan tersebut sebagai upaya memanfaatkan kelebihan sumber daya alam Indonesia. Terutama dalam perihal persediaan nikel nan menjadi salah satu nan terbesar di dunia.

Menurutnya, arah kebijakan ini berpotensi menarik investasi baru di sektor baterai. Selain itu, pengaruh berganda seperti pembuatan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah industri juga bisa ikut terdorong.

Modifikasi mobil listrik Chery J6 di GIIAS 2025. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

“Insentif Kemenkeu nan memberikan PPN lebih tinggi untuk kendaraan dengan baterai berbasis nikel berpotensi mendorong industri dalam negeri. Kebijakan ini memanfaatkan kelebihan persediaan nikel Indonesia untuk mempercepat hilirisasi, menarik investasi pabrik baterai, dan menciptakan nilai tambah serta lapangan kerja,” ujar Yannes kepada kumparan, Sabtu (16/5/2026).

Ia menjelaskan, keberhasilan strategi ini sangat berjuntai pada kesinambungan kebijakan dan support ekosistem industri. Tanpa itu, potensi nan dimiliki Indonesia tidak bakal optimal.

Namun demikian, dia mengingatkan bahwa pengembangan industri baterai bukan perkara mudah. Dibutuhkan teknologi tinggi serta kapabilitas produksi dalam skala besar agar bisa bersaing secara global.

Ilustrasi Tambang Nikel Indonesia Foto: Masmikha/Shutterstock

“Tapi keberhasilannya tidak otomatis. Produksi sel baterai memerlukan teknologi tinggi dan skala besar, sementara Indonesia tetap berjuntai pada impor material lain,” katanya.

Ketergantungan terhadap material impor tetap menjadi pekerjaan rumah besar. Hal ini membikin industri dalam negeri belum sepenuhnya berdikari dalam memproduksi baterai kendaraan listrik.

Di sisi lain, perubahan tren dunia juga menjadi aspek nan tidak bisa diabaikan. Perkembangan teknologi baterai terus bergerak mengikuti kebutuhan efisiensi dan biaya produksi.

Proses perakitan baterai mobil listrik Hyundai. Foto: Hyundai

“Selain itu, tren dunia nan bergeser ke baterai LFP nan lebih murah bisa menjadi handicap kita,” ucapnya.

Yannes menilai, baterai jenis LFP sekarang semakin diminati lantaran menawarkan nilai nan lebih kompetitif. Kondisi ini berpotensi menjadi tantangan bagi strategi berbasis nikel jika tidak diantisipasi dengan tepat.

Karena itu, dia menekankan pentingnya pembangunan ekosistem kendaraan listrik nan menyeluruh. Mulai dari prasarana hingga rantai pasok kudu dikembangkan secara bersamaan.

Pelanggan mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), Medan, Sumatera Utara, Kamis (5/3/2026). Foto: Yudi Manar/ ANTARA FOTO

Menurutnya, sinergi antara kebijakan pemerintah dan kesiapan industri menjadi kunci utama. Dengan begitu, akibat dari insentif bisa dirasakan secara lebih luas dalam jangka menengah hingga panjang.

“Jika insentif ini dibarengi dengan pengembangan prasarana dan rantai pasok nan lengkap, maka dampaknya terhadap industri otomotif dan baterai nasional baru bisa signifikan dalam jangka menengah hingga panjang,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan