Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun dalam pada perdagangan Rabu (3/6). Berdasarkan info RTI hingga pukul 11.52 WIB, IHSG merosot 304,89 poin alias 4,92 persen ke level 5.890.
Pelemahan tajam pasar saham domestik terjadi di tengah tekanan berlapis. Mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, menyusutnya surplus neraca perdagangan, hingga meningkatnya ketidakpastian dunia akibat bentrok di Timur Tengah. Ini memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pelemahan rupiah nan telah menyentuh level Rp 17.922 per dolar AS menjadi salah satu sentimen nan membebani pergerakan IHSG.
Selain itu pasar juga mencermati penurunan tajam surplus neraca perdagangan Indonesia. Surplus perdagangan pada April 2026 tercatat hanya USD 89,1 juta alias nan terendah dalam 6 tahun terakhir.
“Menunjukkan adanya perlambatan dari kontribusi sektor eksternal dan menjadi penahan laju penguatan IHSG,” ujar Nafan kepada kumparan, Rabu (3/6).
Menurut Nafan, penanammodal juga mulai mengantisipasi potensi volatilitas akibat proses rebalancing indeks FTSE Russell nan bertindak efektif pada 22 Juni. Perubahan komposisi indeks dunia tersebut kerap memicu penyesuaian portofolio oleh penanammodal lembaga dan biaya asing.
Dari sisi eksternal, sentimen pasar juga dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Di saat nan sama, operasi militer Israel di Lebanon juga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan.
Pasar dunia pun tengah menunggu info ketenagakerjaan Amerika Serikat alias US Nonfarm Payrolls periode Mei nan dirilis akhir pekan ini. Data tersebut dinilai krusial lantaran dapat memengaruhi ekspektasi arah kebijakan suku kembang bank sentral AS alias The Fed.
Dana Asing Keluar dari Pasar Saham
Sementara itu Ekonom Bank Tabungan Negara (BTN), Myrdal Gunarto, menilai anjloknya IHSG lebih banyak dipengaruhi perpindahan biaya penanammodal dari negara berkembang menuju pasar negara maju.
Menurut dia, kondisi dunia nan tetap dipenuhi ketidakpastian membikin penanammodal memilih aset nan dianggap lebih aman.
“Terutama setelah memandang kondisi dunia tetap kurang kondusif, di mana perkembangan dari perang ini belum terlihat ujungnya,” kata Myrdal.
Myrdal menambahkan, bentrok di Timur Tengah maupun perang Rusia-Ukraina nan kembali memanas telah mendorong penanammodal mengalihkan biaya ke pasar saham negara maju. Kondisi tersebut tecermin dari penguatan indeks-indeks utama di AS nan tetap memperkuat di level tinggi.
“Kalau kita lihat dari 21 Mei sampai 2 Juni ada outflow (dana asing keluar -red) sebesar USD 820 juta,” ujarnya.
Keluarnya biaya asing tersebut, kata Myrdal, dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor, termasuk tindak lanjut penyesuaian portofolio penanammodal dunia serta tindakan jual pada saham-saham konglomerasi nan selama ini menjadi penopang kapitalisasi pasar.
Meski demikian, Myrdal menilai sejumlah rumor domestik seperti ranking angsuran Indonesia tetap sebatas sentimen pasar dan belum menjadi aspek utama nan mendorong penurunan IHSG saat ini.
“Kemungkinan penanammodal mereka keluar juga lantaran memang dipengaruhi oleh aspek dunia nan kurang kondusif,” tutupnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·