Tangguh Yudha
, Jurnalis-Jum'at, 12 Juni 2026 |17:03 WIB

Kenaikan nilai BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berpotensi menambah tekanan bagi pengusaha warteg. (Foto: Okezone.com)
JAKARTA - Kenaikan nilai BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter berpotensi menambah tekanan bagi pelaku upaya mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk pengusaha warung tegal (warteg). Selain memicu kenaikan biaya operasional, kenaikan tersebut dikhawatirkan berakibat pada nilai bahan baku dan daya beli masyarakat nan menjadi pengguna utama warteg.
Ketua Komunitas dan Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), Mukroni mengatakan, meski nilai BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tidak mengalami perubahan, kenaikan nilai Pertamax tetap berpotensi menimbulkan pengaruh domino terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut dia, pelaku upaya nan menggunakan Pertamax untuk mobilitas sehari-hari bakal menghadapi peningkatan biaya operasional nan pada akhirnya dapat memengaruhi nilai peralatan dan jasa di beragam sektor.
"Cepar alias lambat, tambahan biaya ini bakal digeser ke nilai jual komoditas pangan. Pelaku warteg diprediksi bakal segera menghadapi kenaikan nilai bahan baku secara merayap di tingkat pasar tradisional tempat mereka berbelanja harian," kata Mukroni saat dihubungi, Jumat (12/6/2026).
Ia menilai pelaku warteg berpotensi menghadapi kenaikan nilai beragam bahan pokok, seperti cabai, bawang, minyak goreng, dan sayuran nan dibeli setiap hari di pasar tradisional.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·