Feby Novalius
, Jurnalis-Senin, 19 Oktober 2026 |11:06 WIB

Indonesia dinilai patut berterima kasih kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI) lantaran telah mendorong pembenahan persoalan struktural di pasar modal. (Foto: Okezone.com/Aldhi Chandra)
JAKARTA — Indonesia dinilai patut berterima kasih kepada Morgan Stanley Capital International (MSCI) lantaran telah mendorong pembenahan persoalan struktural di pasar modal, terutama transparansi kepemilikan saham dan tata kelola perdagangan nan selama ini menjadi sorotan.
Dalam waktu relatif singkat, otoritas Indonesia telah mengumumkan sejumlah langkah reformasi. Langkah tersebut mencakup keterbukaan info pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1%, pengelompokkan penanammodal nan lebih terperinci, pelaporan High Shareholding Concentration (HSC), serta peta jalan menuju persyaratan minimum free float sebesar 15%. MSCI juga menyinggung langkah-langkah tersebut dalam rilisnya pada 15 Oktober 2026.
Namun, di tengah beragam upaya pembenahan tersebut, MSCI justru membuka konsultasi atas usulan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menilai kemajuan nan diumumkan belum menunjukkan akibat nan konsisten dan signifikan dalam menjawab persoalan transparansi kepemilikan saham, dugaan perdagangan terkoordinasi, serta efektivitas penegakan aturan.
Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Bagi Adhamaski Pangeran, menilai situasi ini kudu menjadi bahan pertimbangan serius bagi Indonesia, khususnya dalam menyusun strategi negosiasi dengan MSCI.
“Reformasi memang kudu terus berjalan. Kita kudu mengakui bahwa pasar modal Indonesia mempunyai persoalan struktural nan telah lama mengakar dan perlu dibenahi, sehingga dorongan MSCI menjadi momentum untuk memperbaikinya,” ujarnya, Senin (19/10/2026).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·