Bekasi -
Yumar Dwi Pralita, seorang pembimbing matematika, menceritakan pengalaman mengajarnya di Sekolah Rakyat Bekasi, Jawa Barat. Sekolah Rakyat tersebut digagas pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos).
Sebelum menjadi pembimbing di sekolah tersebut, dia menerima training dari Kemensos. Saat ini, dia juga tinggal di pondok sebagai pembina bagi siswa.
Baginya, mengajar di Sekolah Rakyat menjadi pengalaman baru. Dia mengajar di satu kelas dan menyambut baik keahlian siswanya dalam menyerap pelajaran matematika.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena saya tetap pembimbing baru, untuk saat ini saya baru mengajar satu kelas di 7A. Nah, ketika saya memasuki kelas, alhamdulillahnya siswanya itu ketika diajari materi bilangan bulat, mereka itu sudah mulai paham," kata dia kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).
Menurutnya, siswa juga sigap memahami materi baru nan diberikan. Namun, dia menyebut sebagian siswa perlu dibimbing dari tingkat dasar terlebih dahulu.
"Jadi untuk tingkatan soalnya dimulai dari eh bilangan satuan, baru berjenjang ke puluhan, kemudian kelak berjenjang ke nan lebih susah seperti itu," jelasnya.
Selain sebagai pembimbing matematika, dia juga menjadi pembina kesiswaan dan pembina OSIS di sekolah. Dia bekerja menyiapkan dan membimbing siswa saat melakukan persiapan penampilan.
"Jadi misalkan ada penampilan Paskibra dari tim kesiswaan sudah ada perwakilan untuk membimbing siswanya dalam menyiapkan event tersebut, gitu. Untuk aktivitas pondok biasanya ketika kita libur, seperti di Sabtu, kita biasanya memandang mereka bermain, kemudian mereka berkegiatan seperti biasanya," sebutnya.
Terkait perilaku siswa, dia menilai mereka cukup baik. Para siswa juga sopan terhadap dirinya dan selalu menyapa ketika berhadapan di area sekolah.
"Ketika mereka berjumpa dengan pembimbing baru, itu mereka selalu menyapa seperti kayak 'ibu,' gitu. Kemudian 'ibu pembimbing baru ya?.' Nah, jadi mereka itu tetap penasaran dengan orang-orang baru," ucapnya.
(rdh/aik)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·