Jakarta, CNBC Indonesia - Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel bahwa Teheran telah menyiapkan rencana operasi baru jika kembali diserang. Ancaman ini muncul saat sejumlah kapal komersial diserang di perairan Semenanjung Arab, memicu kekhawatiran atas keamanan pelayaran dan pasokan daya global.
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan militer Iran telah menyiapkan respons nan lebih keras dibandingkan bentrok sebelumnya.
"Angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan tanggapan terhadap setiap tindakan petualangan baru, nan bakal jauh lebih menghancurkan daripada perang 12 hari maupun perang 40 hari sebelumnya," tulis Rezaei melalui platform X, Minggu (18/10/2026).
Rezaei juga memperingatkan bahwa strategi baru Teheran bakal berbeda dari pola nan selama ini dikenal lawan-lawannya.
"Rencana operasional baru Iran tidak bakal mengikuti aturan-aturan nan selama ini mereka kenal," ujarnya dalam komentar nan diterjemahkan, seperti dikutip CNBC International.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan tidak berencana menggunakan senjata nuklir untuk menyerang Iran maupun mengerahkan pasukan darat ke negara tersebut. Hal ini disampaikannya dalam wawancara dengan Newsmax pada Kamis malam.
"Saya tidak bakal menggunakan senjata nuklir. Kita tidak perlu melakukannya. Kita adalah kekuatan nuklir terbesar di dunia," kata Trump. Pernyataan itu muncul setelah muncul laporan mengenai kemungkinan penggunaan peledak konvensional GBU-43/B MOAB, nan dijuluki Mother of All Bombs.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, seperti dikutip instansi buletin pemerintah IRNA, menyatakan Teheran tidak bakal menyerahkan hak-hak kedaulatannya di bawah tekanan, tetapi tetap membuka kesempatan dialog. Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketegangan militer meningkat dan sejumlah kapal melaporkan kejadian keamanan di kawasan.
Lembaga pemantau maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), melaporkan sebuah kapal tunda nan bergerak ke selatan di timur laut Uni Emirat Arab (UEA) terkena dua proyektil tak dikenal pada Minggu.
Sehari sebelumnya, sebuah kapal tanker gas alam cair di barat daya Yaman dilaporkan didekati perahu mini berisi tujuh orang nan melepaskan dua tembakan. Tim keamanan kapal membalas dengan dua tembakan peringatan. Pada Jumat, kapal tanker lain di timur laut Arab Saudi juga melaporkan terkena granat berpeluncur roket dari perahu kecil.
Ketegangan turut mendorong kenaikan nilai minyak dunia. Minyak mentah Brent sempat menyentuh US$110 per barel sebelum ditutup naik 3,7% ke US$109,86 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS naik 3,5% menjadi US$101,41 per barel. Sepanjang pekan, WTI menguat lebih dari 10%, sedangkan Brent naik nyaris 5%.
Di Arab Saudi, militer menyatakan telah mencegat sejumlah rudal nan melintasi Laut Merah, termasuk satu nan mengarah ke terminal ekspor minyak Yanbu. Tiga drone juga dilaporkan dihancurkan di Riyadh dan wilayah selatan kerajaan.
Kementerian Energi Arab Saudi sebelumnya menyebut Aramco menjadi sasaran serangan di salah satu gedung administrasinya di Dhahran, di tengah serangkaian serangan golongan Houthi Yaman nan berkawan dengan Iran.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·