Jakarta, CNBC Indonesia - Prancis dilanda gelombang demonstrasi nan berujung pada kerusuhan di sejumlah kota pada Sabtu (17/10/2026). Aksi nan dipicu keresahan terhadap biaya hidup dan memburuknya jasa publik itu bersambung hingga Minggu (18/10/2026), dengan korban jiwa, ratusan petugas terluka, dan ribuan orang ditangkap.
Berikut kronologi dan kebenaran mengenai demo di Prancis nan berhujung rusuh hingga menimbulkan penjarahan, seperti dihimpun CNBC Indonesia dari beragam sumber pada Senin (19/10/2026).
Kronologi Demonstrasi nan Berujung Ricuh
Melansir laporan Reuters, tindakan bermulai dari protes pelajar nan menyoroti kekurangan guru, ruang kelas nan terlalu padat, dan buruknya akomodasi sekolah. Demonstrasi nan berjalan sejak September 2026 itu kemudian meluas dengan melibatkan serikat pekerja dan pendukung aktivitas Yellow Vest, nan sebelumnya dikenal lewat tindakan menentang kenaikan nilai bahan bakar.
Pada Sabtu (17/10/2026), demonstrasi berkembang menjadi tindakan massa nan lebih luas. Peserta menyuarakan penolakan terhadap kenaikan biaya hidup, ketimpangan sosial, dan penurunan kualitas jasa publik.
Di sejumlah lokasi, situasi berubah menjadi bentrok ketika golongan demonstran melemparkan barang ke arah aparat. Polisi merespons dengan gas air mata dan meriam air.
Sejumlah Kota Prancis Terdampak
Kerusuhan dilaporkan terjadi di Paris, Marseille, Lyon, Lille, Bordeaux, Limoges, Nice, dan Strasbourg. Di Paris, Place de la République menjadi salah satu titik utama demonstrasi. Di Marseille, sejumlah demonstran memasuki balai kota dan merusak akomodasi di dalamnya.
Di Lyon, sejumlah gedung dan toko mengalami kerusakan, sedangkan di Bordeaux kompleks kediaman pejabat setempat dilaporkan diserbu golongan bertopeng. Kerusakan besar juga terjadi di Limoges setelah balai kota berhistoris nan dibangun pada 1883 terbakar.
Bentrokan Berlanjut pada Minggu
Ketegangan bersambung pada Minggu (18/10/2026), terutama di Place de la République, Paris. Ratusan orang berkumpul di letak tersebut dan bentrok kembali terjadi. Polisi menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa, sementara sejumlah sepeda dilaporkan dibakar.
Di Marseille, abdi negara juga melaporkan kejadian dan upaya sejumlah golongan menerobos masuk ke toko. Perkembangan ini menunjukkan bahwa situasi keamanan belum sepenuhnya pulih sehari setelah demonstrasi besar melanda beragam wilayah Prancis.
Jumlah Korban, Penangkapan, dan Kerugian
Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez melaporkan lebih dari 2.000 orang ditangkap dalam rangkaian kerusuhan tersebut. Lebih dari 600 polisi, personil gendarmerie, dan petugas pemadam kebakaran dilaporkan terluka. Seorang demonstran juga meninggal bumi setelah mengalami henti jantung ketika tindakan berjalan di Paris.
Dampak ekonomi turut dirasakan pelaku usaha. Carrefour melaporkan sekitar 50 gerainya mengalami kerusakan, termasuk 20 toko nan dijarah. Perusahaan memperkirakan kerugian mencapai puluhan juta euro.
Presiden Emmanuel Macron mengecam perusakan dan penjarahan serta menegaskan bahwa para pelaku bakal diproses hukum.
"Mereka nan melakukan penjarahan, menyerang instansi pemerintahan maupun upaya bakal dituntut dan dihukum," tulis Macron di media sosial X.
Biaya Hidup dan Ketegangan Politik Jadi Pemicu
Tekanan ekonomi menjadi salah satu aspek utama di kembali kemarahan masyarakat. Survei nan dirilis L'ObSoCo berbareng Sciences Po pada 8 Oktober menunjukkan 45% responden Prancis menyebut inflasi dan daya beli sebagai persoalan utama. Keluhan tersebut beriringan dengan keresahan terhadap jasa publik, kondisi sekolah, dan ketimpangan sosial.
Menurut laporan Deutsche Welle (DW), tingginya utang serta defisit negara juga membatasi ruang pemerintah untuk meningkatkan shopping publik. Situasi ini memperbesar ketidakpuasan masyarakat nan merasa kebutuhan sehari-hari semakin berat, sementara kualitas jasa nan mereka terima tidak membaik.
Kerusuhan berjalan menjelang pemilihan presiden Prancis pada 2027, sehingga turut meningkatkan tensi politik. Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen mengecam kekerasan, sedangkan tokoh sayap kiri Jean-Luc Mélenchon mendukung tuntutan demonstran tetapi meminta agar tindakan tidak berujung pada penjarahan.
Pemerintah sendiri menyalahkan golongan radikal sayap kiri dan pelaku pidana nan memanfaatkan demonstrasi untuk melakukan perusakan.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·