Habiburokhman: Kritik Dino Patti Djalal ke Prabowo Kurang Etis

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman menilai kritik nan disampaikan eks Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal terkait soal kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto, tidak konstruktif dan kurang etis.

"Di era kerakyatan dan keterbukaan tentu kita senantiasa membuka diri terhadap kritik, termasuk dari mantan pejabat tinggi seperti Dino Patti Djalal. Namun demikian, sebagai sesama anak bangsa saya kudu mengkritik kembali Dino," kata Habib, sapaannya dalam keterangan tertulis, Selasa (2/6).

Ia mengatakan kritik dari Dino tidak produktif lantaran tidak berbasis info nan akurat, apalagi ada tendensi kritik tersebut sebagai serangan politik nan membabi buta dan sekedar mengolok-olok pemerintahan Prabowo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, solusi nan disampaikan Dino agar Prabowo lebih banyak mengundang pemimpin negara lain juga agak aneh.

"Di tengah ketidakpastian situasi dunia saat ini apalagi Donald Trump merasa perlu mengunjungi China untuk memperjuangkan kepentingan negaranya. Menurut kami justru Presiden Prabowo kudu sangat proaktif baik menerima kunjungan maupun juga mengunjungi pemimpin negara lain," katanya.

Ia mengatakan sebagai mantan Wamenlu, kurang etis jika Dino mengkritik keahlian politik luar negeri pemerintahan Prabowo.

Menurutnya, di negara-negara maju, mantan pejabat membatasi diri untuk mengkritik keahlian para penerus alias penggantinya.

"Hal tersebut didasarkan pada sikap menghormati orang nan sedang bekerja. Kritik mantan pejabat kepada penerusnya apalagi bisa menjadi bumerang jika publik membanding keahlian si mantan dengan nan sedang menjabat," ujarnya.

Dino sebelumnya menyoroti tingginya gelombang kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto sejak menjabat kepala negara.

Menurut Dino, pola perjalanan tersebut memunculkan perhatian publik sehingga dia menyampaikan sejumlah masukan, mulai dari pengurangan lawatan hingga pemanfaatan diplomasi virtual.

Dino menyampaikan pandangan itu dalam unggahan video reels IG nan ditujukan kepada Prabowo. Ia mengaku merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan pandangan mengenai politik luar negeri Indonesia.

"Bapak Presiden (Prabowo) telah menganugerahkan Bintang Mahaputera kepada saya nan berfaedah Bapak mempercayai kredibilitas dan pandangan saya mengenai politik luar negeri. Karena itu, saya juga merasa mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan pesan apa adanya," kata Dino dalam video tersebut, Sabtu (30/5).

Ia kemudian mengimbau Prabowo agar secara signifikan mengurangi gelombang kunjungan luar negeri dan tidak menganggap remeh bunyi publik mengenai perihal tersebut.

"Dalam kalkulasi kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara nan paling sering melakukan perjalanan keluar negeri. Semenjak menjabat menjadi presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran jika ada nan beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar pemisah kewajaran," ujarnya.

Menurut Dino, susah membayangkan Presiden Prabowo terus melakukan perjalanan luar negeri dengan intensitas setinggi sekarang selama 18 bulan ke depan.

Ia juga menyoroti besarnya biaya nan kudu dikeluarkan negara dalam setiap kunjungan kepala negara ke luar negeri. Menurutnya, biaya tersebut mencakup tim pendahulu, pesawat, hotel, logistik, konsumsi, protokol, pengamanan hingga duit harian delegasi.

"Satu perjalanan keluar negeri bisa keluar puluhan, apalagi ratusan miliar," katanya.

Sebagai solusi, Dino menyarankan Prabowo lebih mengandalkan video call, telepon, alias pertemuan virtual untuk menjaga komunikasi dengan para pemimpin dunia.

(yoa/isn)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional