ESDM-SKK Migas Ungkap Pemicu Produksi Minyak RI di Bawah 600.000 Barel

Sedang Trending 49 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan sejumlah aspek nan menyebabkan produksi minyak nasional tetap berada di bawah 600.000 barel per hari (bph).

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) ESDM Laode Sulaeman mengatakan, rata-rata produksi minyak nasional hingga 31 Juli 2026 tercatat sebesar 578.156 bph. Karena itu, pihaknya tetap berupaya mengejar sasaran produksi minyak dan gas nan telah ditetapkan untuk tahun ini.

"Sampai dengan 31 Juli 2026, rata-rata produksi minyak itu ada di nomor 578.156 bph. Demikian juga dengan realisasi produksi gas bumi. Keduanya memang sampai hari ini tetap kita upayakan untuk bisa mencapai sasaran produksi di tahun 2026 ini," kata Laode dalam Rapat Dengar Pendapat berbareng Komisi XII DPR RI, Rabu (26/8/2026).

Menurut Laode, penurunan produksi dipengaruhi sejumlah gangguan operasional sejak awal tahun. Salah satunya terjadi di Blok Rokan akibat kebocoran pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) nan mengganggu pasokan gas ke lapangan tersebut dan berakibat terhadap aktivitas produksi.

Tak hanya itu, produksi Blok Rokan juga menghadapi hambatan pada sistem kelistrikan. Pihaknya berbareng operator tetap mengupayakan perbaikan pembangkit MCTN agar dapat kembali beraksi secara optimal.

Selain di Blok Rokan, aspek lainnya juga berasal dari Blok Cepu nan mengalami natural decline alias penurunan produksi secara alamiah nan cukup ekstrem pada 2026.

Laode mengatakan, pihaknya telah berbincang dengan operator untuk mengambil sejumlah langkah guna menekan laju penurunan produksi. Saat ini, upaya nan dilakukan difokuskan untuk mempertahankan produksi Blok Cepu agar tetap datar dan tidak kembali mengalami penurunan.

"Kami sudah melakukan serangkaian obrolan dengan operator lapangan, operator WK, dan sudah diambil langkah-langkah untuk melakukan upaya agar natural decline ini dapat direduksi sehingga saat ini kondisi nan terjadi di lapangan adalah mempertahankan untuk datar. Jadi jangan turun lagi seperti itu nan kita lakukan dengan lapangan cepu," katanya.

Di tempat nan sama, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menambahkan bahwa gangguan pipa TGI turut memberikan akibat signifikan terhadap produksi minyak nasional. Menurut dia, kebocoran pipa terjadi dua kali pada Januari 2026 dan menyebabkan terganggunya pasokan gas ke lapangan migas.

Selain gangguan pipa TGI, Djoko menyebut produksi ExxonMobil juga mengalami penurunan. Produksi perusahaan tersebut nan pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 151.000 bph sekarang berada di kisaran 124.000 bph.

Sementara itu, produksi Pertamina Hulu Rokan (PHR) pada tahun sebelumnya berada di sekitar 151.000 bph. Tahun ini, sasaran produksinya ditetapkan sebesar 163.000 bph namun realisasi baru sekitar 133.000 bph.

"Di samping itu juga Ada 270 rig dihentikan oleh Pertamina operasinya paling besar di PHR Kemudian juga ada shutdown Itu di BP sampai hari ini belum full 100% Di Pertamina Subang itu juga pipa kebakaran," tambahnya.

Sebelumnya, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkapkan penyebab menurunnya produksi minyak di Wilayah Kerja (WK) Rokan di awal 2026. Adapun, hingga Mei 2026, realisasi lifting minyak Blok Rokan tercatat sebesar 131.040 barel per hari (bopd) alias sekitar 80% dari sasaran nan ditetapkan sebesar 163.859 bopd.

Direktur Utama PHR Ruby Mulyawan mengatakan penurunan produksi tersebut dipengaruhi sejumlah gangguan operasional nan terjadi sejak awal tahun, mulai dari terhentinya pasokan gas hingga hambatan kelistrikan.

Menurut dia, pasokan gas ke WK Rokan sempat terganggu akibat putusnya pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) pada periode 2 Januari hingga 2 Februari 2026. Kondisi tersebut berakibat terhadap operasi produksi di lapangan.

"Atas persoalan tersebut sudah teratasi dan saat ini PHR Rokan bisa apa namanya menerima suplai gas sesuai dengan kebutuhan," ujar Ruby dalam RDP berbareng Komisi XII DPR RI, Rabu (3/6/2026).

Selain gangguan pasokan gas, PHR juga menghadapi tantangan di sektor kelistrikan nan berjalan sejak akhir 2025. Gangguan tersebut memengaruhi sejumlah akomodasi produksi di lapangan.

Oleh karena itu, saat ini pihaknya berbareng PLN tengah menyelesaikan perbaikan genset di akomodasi MCTN. Ia pun berambisi proses perbaikan dapat rampung dan sistem kelistrikan kembali normal pada pertengahan Juli 2026.

"Saat ini year-to-date-nya di Rokan produksi kita sudah di 131.000 barel oil per day dan insyaallah diprognosakan semuanya lancar, minta doanya Bapak Ibu sekalian jika kita bisa di tahun ini memproduksi sampai di 144.000 barel oil per day," ujar Ruby.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News