Jakarta, CNBC Indonesia - Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO resmi meluncurkan sebuah unit eksperimental baru nan bekerja untuk menguji beragam sistem tanpa awak di wilayah Arktik, Senin. Langkah tersebut memperluas jejak militer blok ketua Amerika Serikat (AS) nan terus meningkat di area kutub utara.
Inisiatif terbaru NATO ini diumumkan saat kapal riset Alliance berangkat dari La Spezia di Italia. Keberangkatan kapal tersebut sekaligus menandai peluncuran Satuan Tugas X-Arktik alias TFX-Arctic.
Unit eksperimental ini dijadwalkan beraksi sepanjang tahun 2026 hingga tahun depan. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan keahlian sistem tanpa awak dalam memberikan kesadaran situasional multi-domain nan persisten, dengan wilayah operasi Atlantik Utara dan Arktik serta High North.
"Task Force X-Arctic adalah tentang menguji dan mengintegrasikan teknologi baru di salah satu lingkungan operasional paling menuntut di planet ini. Ini bakal membantu Sekutu menetapkan standar masa depan dan mempertahankan kelebihan tempur nan diperlukan untuk beroperasi, beradaptasi, serta menang di High North," tegas perwira militer Prancis, Laksamana Pierre Vandier, dikutip RT, Selasa (9/6/2026).
Penempatan pasukan baru di area kutub utara ini dibangun berasas pengalaman masa lampau NATO. Mereka memanfaatkan rekam jejak dari satuan tugas serupa nan diluncurkan di Laut Baltik pada tahun lalu.
Pengumuman ini juga muncul di tengah latihan militer skala besar BALTOPS 26 milik NATO nan sedang berjalan di Baltik. Latihan ke-55 tersebut melibatkan sekitar 6.000 personel dari 15 negara personil NATO.
Tahun ini latihan dipimpin untuk pertama kalinya oleh struktur komando internal mereka sendiri. Otoritas tersebut adalah Komando Pasukan Gabungan Sekutu Brunssum nan bermarkas di Belanda dan bukan lagi dipimpin oleh AS.
Kebutuhan untuk mencegah ancaman Rusia pun disebut secara terbuka sebagai tujuan utama dari latihan besar ini. NATO secara konsisten memang menggunakan argumen dugaan ancaman dari Rusia demi membenarkan penumpukan kekuatan militer mereka di Arktik.
Eropa Panas Lagi?
Sementara itu, perihal ini membikin situasi Eropa memanas lagi. Di mana Rusia menolak keras klaim sepihak dari NATO itu dan berdasar bahwa militerisasi area justru didorong oleh tindakan NATO sendiri.
Negara beruang merah tersebut juga berjanji bakal merespons tindakan NATO secara setimpal. Rusia sendiri menguasai lebih dari separuh garis pantai Arktik.
Para pejabat Rusia termasuk Presiden Vladimir Putin telah berulang kali membunyikan sirine tanda bahaya. Mereka menyoroti penumpukan militer NATO di Arktik dan wilayah sekitarnya.
Pihak Moskow menilai blok militer tersebut memandang Arktik sebagai batu loncatan untuk bentrok masa depan. Rusia juga memperingatkan bahwa mereka bakal memberikan respons nan sepadan terhadap setiap aktivitas di sana.
"Mitos gila tentang ancaman Rusia di Arktik dan tempat lain telah digembar-gemborkan oleh para pemimpin personil NATO untuk menjelaskan kepada masyarakat mereka kenapa mereka kudu membelanjakan lebih banyak duit untuk militerisasi," ujar Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova.
"Pengalokasikan biaya tambahan tersebut hanya digunakan untuk mengatasi masalah imajiner. Pengeluaran jumbo itu dinilai mengabaikan tantangan nyata nan berangkaian dengan penyelesaian masalah ekonomi dan sosial masyarakat di negara-negara personil NATO," tambahnya.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·