El Nino Aktif, Mayoritas Wilayah Indonesia Diprediksi Alami Kemarau Lebih Kering dan Panjang

Sedang Trending 2 jam yang lalu
El Nino Aktif, Mayoritas Wilayah Indonesia Diprediksi Alami Kemarau Lebih Kering dan Panjang Petugas Tim Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) mencatat penggunaan varietas padi saat melakukan pendampingan terhadap petani di Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Selasa (5/5/2026). Kegiatan nan dilakukan berbareng petugas Badan Pusat Statistik (BPS) terseb(. ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/hma)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa kejadian El Nino diperkirakan mulai aktif pada pertengahan 2026 dan berpotensi menyebabkan musim kemarau nan lebih kering serta lebih panjang di sebagian besar wilayah Indonesia.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan hasil pemantauan hingga akhir Mei 2026 menunjukkan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik telah melampaui periode netral dan mengindikasikan penguatan El Nino.

“BMKG memprediksi bahwa kejadian El Nino bakal segera aktif dan terus memperkuat hingga awal tahun 2027, dengan kesempatan intensitas El Nino mencapai kategori moderat sebesar 98 persen dan mencapai kategori kuat sebesar 92 persen,” ujar Sena dalam konvensi pers pemutakhiran prediksi musim tandus 2026, Rabu (10/6).

Menurut BMKG, akibat El Nino diperkirakan membikin curah hujan di Indonesia berkurang selama musim kemarau. Kondisi tersebut juga memperkuat prediksi bahwa musim tandus tahun ini bakal lebih kering dibandingkan kondisi normal.

Berdasarkan pemutakhiran prediksi BMKG, sebanyak 482 area musim alias 56,18 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami sifat musim tandus di bawah normal alias lebih kering dari biasanya. Sementara hanya tujuh area musim nan diperkirakan mengalami kondisi lebih basah dari normal.

Selain lebih kering, musim tandus tahun ini juga diperkirakan berjalan lebih lama. BMKG mencatat sebanyak 437 area musim alias 48,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami lama musim tandus nan lebih panjang dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991-2020.

“Curah hujan nan turun selama periode musim tandus 2026 diprediksi umumnya berkategori bawah normal alias lebih kering dari kondisi nan pada umumnya. Puncak musim tandus diprediksi sebagian besar terjadi pada bulan Agustus dan lama musim tandus diprediksi lebih panjang dari normalnya,” tutur dia. 

BMKG juga memperkirakan musim tandus tahun ini datang lebih awal di sejumlah wilayah. Sebanyak 308 area musim alias 39,77 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami awal musim tandus nan lebih maju dibandingkan kondisi normal.

Dalam waktu dekat, sebanyak 198 area musim alias 31,6 persen wilayah Indonesia bakal memasuki musim tandus pada Juni 2026. Wilayah tersebut meliputi sebagian besar Sumatra, Kalimantan, Jawa bagian tengah dan barat, Sulawesi, Maluku, serta Papua.

Adapun, puncak musim tandus diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di 369 area musim alias 48,84 persen wilayah Indonesia. Wilayah nan diperkirakan mengalami puncak tandus pada periode tersebut antara lain sebagian besar Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku.

BMKG meminta pemerintah wilayah dan beragam pemangku kepentingan segera menyiapkan langkah antisipasi, terutama untuk sektor pangan, sumber daya air, energi, lingkungan, kehutanan, dan kebencanaan dalam menghadapi El Nino dan tandus panjang. "Untuk sektor pertanian, BMKG merekomendasikan penyesuaian agenda tanam serta penggunaan varietas tanaman nan lebih tahan terhadap kekeringan. Sementara di sektor kehutanan dan kebencanaan, pemerintah wilayah diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan dan kebakaran rimba dan lahan (karhutla)," bebernya.  (H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia