Peningkatan suhu bumi memperluas wilayah tropis, memicu penyebaran penyakit.(Dok. Magnific)
Peningkatan suhu bumi secara dunia sekarang tidak hanya memicu cuaca ekstrem, tetapi juga secara signifikan mengubah peta penyebaran penyakit infeksi di seluruh dunia. Fenomena ini menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat dunia seiring meluasnya wilayah tropis nan memungkinkan patogen beranjak ke wilayah nan sebelumnya aman.
Indonesia, sebagai negara beriklim tropis, berada dalam posisi nan sangat rentan terhadap penyakit tular vektor, seperti malaria nan ditularkan nyamuk Anopheles dan demam berdarah (DBD) oleh nyamuk Aedes. Faktor suasana nan mencakup curah hujan, suhu, dan kelembapan menjadi pendorong utama penyebaran penyakit ini, dengan golongan usia 0-18 tahun sebagai pihak nan paling terdampak.
Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim (KLPI) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Riyadi, mengungkapkan bahwa pemanasan dunia telah menghapus batas alamiah bagi penyebaran penyakit. Dalam seminar IDAI nan digelar Selasa (9/6), dia menjelaskan bahwa kenaikan suhu bumi telah memperluas cakupan wilayah tropis melampaui garis ekuator tradisional.
"Dulu tuh 23,5 derajat ke atas, 25,3 derajat ke bawah garis ekuator. Sekarang makin luas wilayah tropis itu lantaran suhu bumi makin naik," ujar Riyadi.
Perubahan ini menciptakan kediaman baru nan menguntungkan bagi serangga pembawa kuman untuk berkembang biak di wilayah nan sebelumnya tidak bisa mereka huni.
Selain penyakit tular vektor, perubahan suasana memperburuk akibat penyakit tular air (water-borne diseases), terutama diare. Bencana banjir dan kekeringan ekstrem nan dipicu krisis suasana meningkatkan akibat jangkitan di wilayah dengan akses air bersih dan sanitasi terbatas. Anak-anak di bawah usia lima tahun tercatat sebagai golongan dengan akibat tertinggi akibat kondisi sanitasi nan buruk.
Mitigasi dan Kolaborasi
Riyadi menegaskan bahwa mitigasi suasana adalah kunci utama untuk menekan laju penyebaran penyakit. Meskipun sasaran kenaikan suhu dunia di bawah 1,5 derajat Celsius per tahun susah dipertahankan, upaya kolektif tetap kudu dilakukan untuk mengembalikan keseimbangan suhu bumi.
Di sisi lain, mobilitas manusia nan tinggi melalui transportasi modern turut mempercepat perpindahan kuman antarnegara dalam hitungan jam. Menghadapi tantangan ini, IDAI mendesak adanya kerjasama lintas sektoral untuk menjaga kelestarian lingkungan serta penguatan upaya pencegahan melalui vaksinasi guna melindungi generasi mendatang dari akibat jelek perubahan iklim. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·