Nilai tukar rupiah hari ini bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan info Bloomberg, kurs rupiah terhadap dolar AS siang ini berada di Rp 17.170 alias melemah sekitar 0,16 persen (27 poin).
Ekonom Maybank, Myrdal Gunarto, mengatakan pelemahan rupiah beberapa hari terakhir terutama dipicu oleh tingginya permintaan kurs asing (valas) di dalam negeri nan melampaui pasokan nan tersedia.
“Jadi di saat permintaannya lebih tinggi dibandingkan dengan suplai valasnya itu nan membikin kenapa rupiah melemah,” kata Myrdal saat dihubungi kumparan, Rabu (22/4).
Ia memaparkan, meningkatnya permintaan valas didorong oleh beberapa aspek utama. Pertama, tindakan jual penanammodal asing di pasar finansial domestik nan kemudian mengonversi aset rupiahnya ke mata duit asing.
Kedua, adanya kebutuhan valas untuk pembayaran dividen kepada penanammodal asing, seiring dengan periode pembagian dividen emiten nan tengah berlangsung.
“Investor asing nan berinvestasi di pasar saham kita menerima dividen, lampau biaya tersebut ditransfer ke luar negeri. Mau tidak mau, rupiah kudu ditukarkan ke kurs asing,” lanjut Myrdal.
Kebutuhan Impor
Selain itu, permintaan valas juga meningkat akibat kebutuhan impor, terutama untuk daya seperti bahan bakar minyak (BBM), nan nilainya semakin besar di tengah kenaikan nilai minyak dunia.
Kondisi ini berpotensi menekan neraca perdagangan, apalagi membuka kemungkinan berkurangnya surplus alias beranjak menjadi defisit andaikan nilai impor terus meningkat.
“Selain itu, pembayaran utang luar negeri juga menjadi lebih mahal lantaran pelemahan rupiah. Kita memerlukan konversi rupiah ke valas nan lebih besar, sehingga ikut mendorong permintaan valas,” jelas Myrdal.
Meski demikian, Myrdal menilai kondisi ini menguntungkan bagi eksportir, terutama nan tidak terdampak gangguan geopolitik maupun halangan perdagangan global.
Selama pasar ekspor seperti negara-negara ASEAN, Asia Selatan, dan Asia Timur tetap terbuka, pelaku ekspor berpotensi memperoleh untung dari pelemahan rupiah.
Sementara itu, Myrdal juga menyebut Bank Indonesia (BI) telah melakukan beragam langkah untuk menjaga stabilitas rupiah, mulai dari intervensi di pasar spot, non-deliverable forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pasar sekunder surat utang negara. Selain itu, kebijakan suku kembang referensi nan tetap dipertahankan juga menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas.
“Namun, kondisi dunia saat ini memang tetap kurang kondusif untuk penguatan rupiah. Ditambah lagi dengan aspek musiman seperti pembagian dividen, nan turut meningkatkan permintaan valas,” tutur Myrdal.
Menambahkan Myrdal, Pengamat Rupiah dan Emas Ibrahim Assuaibi menyatakan rupiah melemah juga disebabkan perang Timur Tengah nan hingga sekarang belum jelas arahnya.
Katanya, kondisi ini mendorong penguatan dolar AS, nan pada akhirnya menekan nilai tukar rupiah. Selain itu, potensi gangguan di Selat Hormuz juga dinilai dapat menghalang pengedaran minyak dunia, sehingga berisiko mendorong kenaikan nilai minyak global.
“Ketika nilai minyak naik, pemerintah memerlukan dolar lebih besar. Kondisi itu juga memerlukan biaya besar dan berpotensi memperlebar defisit anggaran,” kata Ibrahim kepada kumparan.
Sementara dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga berasal dari besarnya utang pemerintah nan jatuh tempo pada tahun ini.
Adapun Ibrahim menyatakan rupiah diperkirakan tetap susah untuk kembali menguat ke bawah level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat. Bahkan, dirinya memperkirakan nilai tukar berpotensi bergerak ke kisaran Rp 17.400 pada akhir April ini.
“Karena Rp 17.000 itu adalah level support kunci, nan kemungkinan nilai itu bakal terus mengalami kenaikan,” kata Ibrahim.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·