Dokter Diduga Cibir Pasien BPJS yang Curhat di Medsos, RSUP Sardjito Klarifikasi

Sedang Trending 51 menit yang lalu
Ilustrasi BPJS kesehatan. Foto: Shutter Stock

Media sosial Threads sedang diramaikan sebuah unggahan seorang pasien nan mengaku memakai BPJS. Pemilik akun mengeklaim, dia kudu menunggu selama 8 jam di sebuah rumah sakit nan dirahasiakan untuk mendapatkan bilik lantaran menggunakan asuransi milik negara tersebut.

Unggahan itu pun dibanjiri komentar nan bersuara cibiran. Ada nan menyuruh pemilik akun untuk menderita serangan jantung, apalagi ada nan menyuruhnya memotong nadi agar sigap ditangani rumah sakit.

Salah satu nan berkomentar pun diduga adalah seorang wanita nan berprofesi sebagai master di RSUP Sardjito Sleman dan merupakan lulusan UGM. Akun berjulukan @erudarahaadinii itu menilai pemilik akun tak punya otak lantaran curhatannya itu.

Kasus ini pun semakin ramai usai seorang kerabat dari pemilik akun nan curhat itu mengatakan bahwa pemilik akun telah meninggal bumi usai unggahannya ramai dan meminta agar komentar cibiran tak dilanjutkan.

RSUP Sardjito Jelaskan Bukan Pegawai

Manajer Hukum dan Humas RSUP dr. Sardjito Banu Hermawan mengatakan pihaknya telah menelusuri unggahan tersebut. Dia mengatakan master tersebut bukan pegawai RSUP Sardjito tetapi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

"Yang itu memang dilakukan oleh salah satu peserta didik ya. Jadi bukan pegawai RSUP dr. Sardjito. Dia adalah murni peserta didik ya," kata Banu dihubungi wartawan, Selasa (4/8).

Dokter berinisial EPR tersebut merupakan peserta PPDS dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM).

RSUP Sardjito Koordinasi dengan FKKMK UGM

Terkait persoalan ini, pihaknya bakal bekerja-sama dengan FKKMK UGM untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.

"Karena ini peserta didik, kami bakal lakukan kerjasama dalam penanganan persoalan ini," katanya.

"Dengan adanya upload-an seperti ini kami ya cukup kaget. Namun demikian kami tidak bisa menjustifikasi seperti apa kondisi itu sehingga kita bakal melakukan penjelasan berbareng terlebih dahulu," tuturnya.

Banu menegaskan baik RSUP Sardjito maupun FKKMK UGM berkomitmen untuk menciptakan lingkungan pelayanan pendidikan nan aman.

Banu mengatakan pihaknya mempunyai Tim Pendidikan Bermartabat. Tim itu terdiri dari pihak RSUP dr. Sardjito dan FKKMK UGM. Nanti tim itu bakal bergerak bersama-sama.

"Nah, tim ini kelak nan bakal bergerak bersama. Jadi bukan kok parsial Sardjito bergerak sendiri, UGM bergerak sendiri, itu tidak. Tapi kami adalah satu kesatuan di mana tim nan ada ya, Tim Pendidikan Bermartabat inilah nan kelak bakal memanggil, meminta penjelasan kepada nan bersangkutan," pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan