Diam-Diam Trump Minta Tolong Banget ke Xi Jinping, Soal Apa?

Sedang Trending 16 jam yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah mengusulkan permintaan langsung secara "empat mata" kepada Presiden China Xi Jinping dalam pertemuan puncak KTT AS-China bulan lalu. Ini guna meminta support dan intervensi Beijing dalam mengakhiri perang berkepanjangan antara Rusia dan Ukraina.

Mengutip laporan Asia Business Daily dari South China Morning Post (SCMP) pada Senin, beberapa sumber nan mengetahui jalannya KTT tersebut mengungkapkan bahwa Trump menyampaikan permintaan unik ini agar Xi bersedia "membujuk Presiden Rusia Vladimir Putin untuk segera kembali ke meja perundingan". Pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Xi itu sendiri berjalan di Beijing, China, pada tanggal 14 hingga 15 Mei lalu.

Sejak kembali menduduki takhta di Gedung Putih, Trump memang telah menetapkan resolusi penghentian perang di Ukraina sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya. Kendati demikian, satu-satunya pembicaraan tingkat tinggi nan pernah terjadi antara pihak-pihak nan bertikai ialah Rusia dan Ukraina, hanya terjadi di Türkiye pada Juli tahun lalu.

Tidak hanya itu, pada Maret tahun ini, Trump juga diketahui telah melancarkan tekanan politik nan kuat kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky untuk segera menyepakati sebuah perjanjian tenteram dengan Rusia. Namun, di tengah beragam upaya diplomatik tersebut, eskalasi serangan militer di medan perang justru terus melonjak secara mengerikan di lapangan.

Hal ini terbukti ketika Rusia secara sadis menggempur ibu kota Ukraina, Kyiv, menggunakan rudal balistik hipersonik Oreshnik pada tanggal 25 Mei, nan kemudian langsung dibalas oleh Ukraina pada tanggal 30 Mei melalui serangan udara ke pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia nan saat ini berada di bawah pendudukan militer Rusia.

Sampai saat ini, baik Trump maupun pihak istana White House tetap memilih untuk tutup mulut dan enggan memberikan komentar resmi kepada publik mengenai perincian pembicaraan rahasia mengenai perang Ukraina tersebut.

Trump hanya memberikan pernyataan singkat nan mengonfirmasi bahwa rumor krusial tersebut memang sempat diangkat dalam pertemuan. "Itu adalah salah satu perihal nan kami minta dapat segera diselesaikan," kata Trump, dikutip Selasa (2/6/2026).

Di sisi lain, lembar kebenaran resmi nan dirilis oleh White House sama sekali tidak mencantumkan poin pembahasan mengenai topik Ukraina tersebut. Sementara itu, pernyataan resmi dari pihak pemerintah China hanya menyebut secara normatif bahwa kedua pemimpin bumi itu saling berganti pandangan mengenai isu-isu internasional utama, termasuk krisis nan terjadi di Ukraina.

Hanya berselang beberapa hari setelah KTT AS-China usai, Xi langsung menggelar pertemuan puncak lanjutan dengan Putin di Beijing pada tanggal 20 Mei. Dalam sebuah pernyataan berbareng nan dikeluarkan setelah pertemuan, kedua pemimpin negara sekutu tersebut menegaskan keteguhan sikap mereka.

"Kedua negara mengakui bahwa akar penyebab krisis Ukraina kudu dihilangkan dan kerangka kerja untuk keamanan berbareng serta perdamaian kekal kudu dibentuk, secara penuh dan komprehensif berasas prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)," tegas Xi dan Putin.

Mengutip kembali laporan SCMP, meskipun Trump telah memohon kepada Xi untuk menyeret Putin kembali ke meja negosiasi, permintaan ini nyatanya hanya menjadi agenda sekunder alias rumor sampingan dalam KTT tersebut. Sebagian besar jalannya obrolan antara AS dan China justru berfokus pada masalah perdagangan dan investasi, sementara untuk rumor geopolitik, masalah Taiwan dan Iran jauh lebih diprioritaskan daripada urusan Ukraina.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News