ilustrasi.(MI)
EKONOM Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai defisit neraca dagang Indonesia pada Juni 2026 belum mencerminkan pelemahan sektor eksternal. Menurutnya, kondisi tersebut lebih tepat dipandang sebagai bagian dari proses penyesuaian struktur perdagangan, meski defisit terjadi selama dua bulan berturut-turut.
Berdasarkan info terbaru, neraca jual beli Juni 2026 mencatat defisit sebesar US$0,45 miliar, setelah pada Mei mengalami defisit nan lebih besar, ialah US$1,61 miliar. Meski demikian, Yusuf menilai kondisi tersebut tetap berada dalam pemisah nan wajar.
"Realisasi neraca jual beli Juni 2026 nan kembali defisit sebesar US$0,45 miliar perlu dibaca secara proporsional. Ini memang menjadi defisit dua bulan berturut-turut setelah Mei mencatat defisit US$1,61 miliar. Namun saya memandang kondisi ini lebih sebagai proses penyesuaian struktur perdagangan daripada sinyal melemahnya sektor eksternal," ujar Yusuf saat dihubungi, Senin (3/8).
Ia menjelaskan, keahlian ekspor sebenarnya tetap menunjukkan tren positif. Nilai ekspor pada Juni mencapai US$25,46 miliar alias tumbuh 8,84% secara tahunan, terutama ditopang oleh ekspor nonmigas seperti nikel, bahan bakar mineral, dan minyak nabati.
Sebaliknya, tekanan terhadap neraca jual beli berasal dari lonjakan impor nan meningkat 34,27% menjadi US$25,91 miliar. Kenaikan paling besar terjadi pada impor migas nan melonjak lebih dari 100% sehingga mendorong defisit sektor migas mencapai US$3,49 miliar. Surplus perdagangan nonmigas sebesar US$3,04 miliar belum bisa menutupi defisit tersebut.
Menurut Yusuf, meningkatnya impor juga mencerminkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap cukup kuat. Ia menilai sebagian besar peralatan nan diimpor merupakan bahan baku, peralatan penolong, dan peralatan modal nan digunakan untuk mendukung aktivitas produksi maupun investasi.
"Di sisi lain, kenaikan impor juga menunjukkan bahwa permintaan domestik tetap cukup kuat. Sebagian besar impor berasal dari bahan baku, peralatan penolong, dan peralatan modal nan digunakan untuk produksi dan investasi. Dalam kajian ekonomi, impor seperti ini condong berkarakter produktif lantaran mendukung peningkatan kapabilitas industri," katanya.
Meski demikian, Yusuf mengingatkan, ketergantungan terhadap impor daya tetap menjadi tantangan utama. Menurutnya, setiap kenaikan nilai minyak bumi alias meningkatnya kebutuhan daya di dalam negeri bakal langsung memberikan tekanan terhadap neraca perdagangan.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan surplus perdagangan Indonesia selama beberapa tahun terakhir tetap sangat dipengaruhi oleh siklus nilai komoditas. Karena itu, diversifikasi ekspor dengan nilai tambah nan lebih tinggi dinilai perlu terus diperkuat agar ketahanan sektor eksternal semakin baik.
Secara kumulatif, Yusuf mencatat neraca jual beli Indonesia sepanjang semester pertama 2026 tetap membukukan surplus sebesar US$3,58 miliar. Hal itu, menurutnya, menunjukkan posisi eksternal Indonesia tetap relatif terjaga.
Ke depan, dia memperkirakan arah neraca jual beli bakal sangat dipengaruhi oleh perkembangan nilai daya bumi serta permintaan dari mitra jual beli utama, seperti Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara-negara ASEAN. Apabila ekspor nonmigas tetap memperkuat kuat dan pertumbuhan impor mulai melambat, kesempatan kembalinya surplus perdagangan tetap terbuka.
"Sebaliknya, jika impor terus tumbuh lebih sigap daripada ekspor dalam periode nan panjang, tekanan terhadap transaksi melangkah dan nilai tukar bakal semakin besar," pungkas Yusuf. (Mir/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·