Cermin Retak Bernama IHSG

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi IHSG. Foto: Danawan Purbanggoro/Shutterstock

Ada nan ganjil dari langkah kita membaca keruntuhan IHSG tahun ini. Narasi dominan di ruang publik memotret penanammodal asing sebagai pihak nan pergi tanpa permisi, seolah mereka nan bersalah. Padahal, jika kita bersedia berkaca lebih jujur, nan tampak bukanlah wajah asing nan sadis melainkan retakan di cermin itu sendiri.

Sepanjang tahun melangkah hingga akhir Mei 2026, IHSG melemah sekitar 29 persen dari penutupan 2025, alias sekitar 33 persen dihitung dari puncak intraday 9.174 nan dicapai pada 20 Januari 2026. IHSG apalagi mencatat delapan hari turun beruntun pada 5–21 Mei 2026, penurunan beruntun terpanjang dalam lebih dari dua dekade, melampaui rekor tujuh hari pada awal pandemi Covid-19. Dalam sepekan 18–22 Mei saja, indeks ambruk 8,35 persen. Lima bulan negatif berturut-turut, preseden nan menurut kajian historis CNBC Indonesia hanya tertandingi oleh periode menjelang krisis 1997–1998. Dua kali trading halt. Dana asing keluar lebih dari Rp50 triliun secara year-to-date. Rupiah melemah lebih dari 7 persen, menembus Rp17.880 per dolar AS pada akhir Mei. IHSG mencatatkan keahlian terburuk di antara seluruh indeks saham utama dunia.

Banyak nan menunjuk MSCI sebagai pemicu. Memang betul pada 13 Mei 2026, MSCI mengeluarkan 18 saham Indonesia dari indeksnya, termasuk enam saham berkapitalisasi besar dari MSCI Global Standard: AMMN, BREN, TPIA, DSSA, CUAN, dan AMRT. Tekanan dari FTSE Russell menyusul. Potensi biaya keluar diperkirakan mencapai Rp165 triliun di skenario terburuk. Tapi berakhir di sini adalah kesalahan analitis. MSCI bukan pelaku, dia hanyalah auditor nan menolak menandatangani laporan nan angkanya tidak bisa diverifikasi.

Bursa nan Terlihat Besar, tapi Berongga

Masalah sesungguhnya jauh lebih tua dari pengumuman MSCI pada Januari 2026. Bertahun-tahun, pasar modal kita membiarkan tumbuhnya saham-saham dengan free float nan jauh di bawah standar kelayakan. Data OJK mengungkap bahwa pada awal 2026, sekitar 268 emiten tetap mempunyai free float di bawah 15 persen (standar minimum) nan baru dipaksakan naik dari 7,5 persen sebagai respons atas tekanan MSCI. Selama ini, kategori kepemilikan “Lainnya” nan kabur menjadi tempat berlindung identitas pengendali sesungguhnya. Kita membangun pasar nan terlihat besar dari luar, tetapi berliang dari dalam.

Ironisnya, beberapa saham nan sekarang paling terpukul justru adalah saham nan pernah diagung-agungkan sebagai “the next big thing” bursa domestik. Saham-saham hubungan konglomerat besar melejit ratusan persen dalam waktu singkat, namun likuiditasnya berkarakter semu, diciptakan oleh transaksi nan terkoordinasi, bukan oleh permintaan nyata penanammodal independen. MSCI memandang ini. Mereka tak perlu menjadi pengamat berbulan-bulan untuk mendeteksi pola nan semestinya sudah ditangkap oleh regulator sendiri jauh lebih awal.

Mengapa IHSG Lebih Dalam dari Bursa Asia Lainnya

Satu pertanyaan sederhana nan jarang diajukan: kenapa IHSG ambruk jauh lebih dalam dibanding bursa Asia lainnya, padahal tekanan eksternal: ketidakpastian suku kembang Fed, penguatan dolar, tarif Trump, geopolitik Timur Tengah, sebenarnya dihadapi semua pasar berkembang secara bersamaan? Jawabannya ada pada struktur, bukan pada sentimen. Ketika kepercayaan terguncang, penanammodal dunia pertama-tama meninggalkan pasar dengan tata kelola nan lemah. Indonesia bukan nan pertama tertekan tetapi Indonesia nan paling dalam tertekan, lantaran strukturnya nan paling mudah retak.

Analis Mirae Asset mengawasi bahwa tekanan terbesar bukan hanya pada penurunan harga, melainkan pada lonjakan volatilitas akibat free float nan tipis. Ketika biaya pasif nan mengikuti indeks MSCI kudu keluar secara berbarengan dari saham-saham berkonsentrasi tinggi, tidak ada pembeli nan cukup untuk menyerap tekanan jual itu. Pasar nan sehat mempunyai kedalaman (market depth) nan menjadi peredam guncangan. Pasar kita kekurangan kedalaman tersebut lantaran terlalu banyak saham nan sesungguhnya tidak “mengambang” secara bebas.

Reformasi nan Terlambat Datang, tapi Masih Bisa Bermakna

Sejak guncangan Januari 2026, OJK dan BEI bergerak cepat: meningkatkan periode pemisah free float dari 7,5 persen menjadi 15 persen, mewajibkan keterbukaan kepemilikan saham di atas 1 persen, dan Ketua OJK Mahendra Siregar apalagi berkantor di Gedung BEI sebagai sinyal simbolis nan tak lazim. Langkah-langkah ini perlu diapresiasi namun sekaligus perlu ditanyakan: kenapa kita memerlukan tekanan eksistensial dari lembaga asing untuk melakukan perihal nan semestinya sudah menjadi prasyarat dasar pasar modal nan sehat?

Reformasi nan lahir dari kepanikan condong berkarakter kosmetik. nan dibutuhkan bukan sekadar nomor free float nan naik di atas kertas, melainkan perubahan ekosistem: penegakan norma terhadap transaksi terkoordinasi nan membentuk likuiditas semu, transparansi nyata tentang siapa nan sesungguhnya mengendalikan saham melalui nominee alias entitas berlapis, dan keberanian regulator untuk mendelisting emiten nan tak layak memperkuat di bursa, bukan menunda-nunda demi menjaga nomor jumlah emiten nan terlihat impresif di statistik.

Cermin nan Retak Bisa Diperbaiki

Pasar modal bukan sekadar papan angka. Ia adalah sistem alokasi modal jangka panjang nan menentukan seberapa efisien sumber daya produktif nasional didistribusikan. Ketika IHSG ambruk seperti ini; bukan lantaran pandemi, bukan lantaran perang di tanah air, melainkan lantaran struktur tata kelolanya tidak dipercaya, itu bukan hanya tragedi penanammodal ritel nan portofolionya tergerus. Ini adalah kegagalan sistemik dalam menciptakan pasar nan layak dipercaya sebagai fondasi investasi jangka panjang.

Cermin nan retak memang tetap bisa memantulkan bayangan. Tapi tidak ada nan bisa berdandan dengan baik di depannya. Indonesia butuh cermin nan utuh: pasar nan betul-betul transparan, likuid, dan dipercaya, bukan sekadar bursa nan angkanya besar namun rentan saat diuji. Krisis ini, jika direspons dengan reformasi tata kelola nan sungguh-sungguh dan bukan sekadar basa-basi regulasi, justru bisa menjadi titik kembali menuju pasar modal nan sesungguhnya dewasa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan