Cek Huntara Desa Tunyang, Tito Puji Penataan Lingkungan-Kualitas Bangunan

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta -

Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian meninjau langsung perkembangan kediaman sementara (huntara) di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh, kemarin.

Dalam kunjungannya, Tito mengapresiasi percepatan pembangunan huntara nan mengalami kemajuan signifikan hanya dalam waktu dua bulan. Ia mengaku terkejut memandang perubahan kondisi di letak nan sebelumnya tetap berupa lahan kosong.

"Saya datang dua bulan lampau berbareng Pak Bupati dan Pak Wagub, saat itu letak ini tetap tahap awal. Sekarang sudah berubah total. Ini luar biasa," ujar Tito dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tito menilai salah satu aspek kunci keberhasilan pembangunan huntara adalah kesiapan lahan nan memadai. Ia menyebut support pemerintah daerah, khususnya Bupati Bener Meriah nan menyediakan lahan datar, turut membantu percepatan pembangunan.

"Di banyak daerah, mencari lahan datar untuk huntara sangat susah lantaran kondisi perbukitan. Di sini, lahan sudah siap sehingga pembangunan bisa sigap dilakukan," tambahnya.

Saat ini, huntara di Desa Tunyang, Kecamatan Timang Gajah, Kabupaten Bener Meriah, Aceh menjadi contoh penataan kediaman layak bagi penyintas. Huntara ini tidak hanya sigap dibangun, tetapi juga memenuhi standar kenyamanan bagi penghuninya.

Berbeda dari huntara di wilayah lain, area huntara Tunyang dinilai unggul dari sisi penataan lingkungan. Permukaan tanah nan relatif datar dan berbatu membikin area kediaman tidak becek, apalagi saat hujan. Selain itu, akses jalan di dalam area telah diperkeras, sehingga memudahkan mobilitas warga.

"Penataan seperti ini penting, lantaran huntara bukan hanya tempat tinggal sementara, tapi juga ruang hidup nan kudu layak," papar Tito.

Tito menambahkan, kualitas bentuk gedung huntara di letak tersebut juga telah memenuhi standar dasar hunian. Setiap unit dilengkapi akomodasi nan mendukung kebutuhan sehari-hari, sementara akomodasi umum dibangun secara terintegrasi dalam satu kawasan.

Ketersediaan dapur umum, toilet, dan bilik mandi, ruang berkumpul, hingga tempat ibadah menunjukkan pendekatan pembangunan huntara tidak lagi berkarakter darurat semata, melainkan mulai mengarah pada konsep kediaman nan manusiawi dan berkelanjutan.

Selain itu, keberadaan ruang terbuka seperti area bermain anak dan akomodasi olahraga turut memperkuat kegunaan sosial kawasan. Hal ini membikin huntara tidak terasa sempit alias membatasi aktivitas warga.

Tito menyampaikan model huntara tersebut dapat menjadi rujukan dalam pembangunan huntara di wilayah lain, terutama di wilayah dengan kondisi geografis nan menantang.

Namun, dia menegaskan huntara tetap berkarakter sementara. Oleh lantaran itu, pemerintah terus mendorong percepatan pembangunan kediaman tetap (huntap) agar masyarakat dapat segera mempunyai tempat tinggal permanen.

"Kita mau memastikan selama di huntara, masyarakat tetap tinggal di tempat nan layak, sembari menunggu huntap selesai dibangun," pungkasnya.

(ega/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News