Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah bersambung hari ini, Selasa (12/5/2026). Mengutip Refinitiv, pada sesi penutupan perdagangan hari ini, posisi Rupiah terjadap Dolar AS melemah 0,49% ke Rp17.490 per US$.
Posisi ini jadi level penutupan terlemah terbaru sepanjang sejarah. Sepanjang perdagangan, pelemahan rupiah sempat semakin dalam hingga menembus level psikologis Rp17.500/US$. Rupiah apalagi sempat menyentuh level terlemah intraday di posisi Rp17.525/US$.
Ketua Umum Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso mengatakan, pelemahan rupiah ini berakibat pada kenaikan biaya produksi.
"Salah satu karakter industri kosmetik (beauty & individual care) adalah tetap tingginya persentase bahan baku dan sebagian bungkusan nan diimpor. Dengan pelemahan rupiah terhadap mata duit asing utama (hard currencies), tentu perihal ini bakal menyebabkan kenaikan biaya produksi," kata Sancoyo kepada CNBC Indonesia, Selasa (12/5/2026).
Tak hanya itu, dia mengakui, pelemahan rupiah saat ini bakal berakibat pada keberlangsungan produksi di pabrik.
"Apakah produsen menahan pembelian bahan baku (raw material purchase)? Pada umumnya industri bakal tetap menjaga keberlangsungan produksi untuk memenuhi demand pasar dan menjaga kontinuitas produk di pasar," ujarnya.
"Namun tentu perusahaan bakal menjadi lebih selektif dan hati-hati dalam pengelolaan inventory serta pembelian bahan baku, terutama di tengah volatilitas kurs seperti saat ini," imbuh Sancoyo.
Di sisi lain, Sancoyo menekankan karakter industri kosmetik nan diyakini tetap bertumbuh meski ada tantangan kondisi ekonomi.
"Industri kosmetik juga dikenal mempunyai karakter "lipstick effect". Yaitu sektor nan relatif tetap bertumbuh apalagi dalam situasi ekonomi nan menantang," tuturnya.
"Hanya saja, perilaku konsumen biasanya berubah menjadi lebih selective dan smarter purchase," paparnya.
Dia menegaskan, perubahan perilaku konsumen ini tetap mengutamakan kualitas produk.
"Konsumen bakal semakin jeli memilih produk nan betul-betul sesuai dengan kebutuhan mereka, termasuk memperhatikan ingredients, faedah produk, serta value nan diperoleh," jelasnya.
"Konsumen kosmetik Indonesia semakin canggih dan knowledgeable. Mereka bakal cari tahu produsennya siapa, asal usul bahannya, praktek berlanjutan, jenis bahan bakunya, pengaruh kepada kulit/badan mereka," tegas Sancoyo.
Sementara, cetusnya, dari sisi perusahaan, bakal mengambil strategi masing-masing sesuai dengan kekuatan skala bisnis, jaringan, dan keuangannya.
"Hampir semua tentu bakal mengedepankan efisiensi internal, meninjau ulang strategi procurement mereka - misalnya menentukan mana bahan baku alias bungkusan nan perlu mempunyai persediaan lebih panjang, mana nan bisa lebih pendek, renegosiasi dengan supplier, dan sebagainya - sampai kepada penyesuaian pricing strategy: produk mana nan dapat disesuaikan harganya, kapan waktunya, dan seberapa besar penyesuaiannya," bebernya.
"Semua ini perlu dilakukan dengan sangat jeli mengingat situasi daya beli konsumen juga sedang tidak mudah," kata Sancoyo.
Dia pun berharap, ke depan. dengan penemuan nan berkelanjutan, industri kosmetik Indonesia tetap dapat terus bertumbuh.
(dce/dce)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
55 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·