Ilustrasi(Magnific.com)
BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kejadian El Nino bakal memperkuat hingga kuartal pertama 2027 dengan kesempatan mencapai kategori kuat. Kendati demikian, BMKG menegaskan akibat El Nino terhadap Indonesia diperkirakan mulai mereda pada pertengahan Oktober 2026 seiring masuknya musim hujan di sebagian besar wilayah Tanah Air.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan perkembangan kondisi suasana tahun ini menjadi perhatian pemerintah lantaran berpotensi memengaruhi beragam sektor.
Sesuai pengarahan Presiden Prabowo Subianto, BMKG terus memperbarui info suasana untuk menjadi dasar langkah antisipasi pemerintah, bumi usaha, dan masyarakat dalam menghadapi cuaca ekstrem, kekeringan, hingga ancaman kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
"BMKG memprediksi kejadian El Nino bakal memperkuat paling tidak hingga awal kuartal pertama tahun 2027 dengan kesempatan puncak intensitas mencapai kategori kuat. Selain itu terdapat potensi Indian Ocean Dipole (IOD) positif pada September hingga Desember 2026," kata Faisal dalam konvensi pers berjudul Update Perkembangan Musim Kemarau dan Dampak El Nino 2026, Kamis (30/7).
Ia menjelaskan, hingga pertengahan Juli sebanyak 509 area musim alias sekitar 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.
Sementara itu, 77 area musim alias sekitar 11,8% wilayah tetap mengalami musim hujan, sedangkan 113 area musim mempunyai satu musim. BMKG memperkirakan puncak musim tandus bakal terjadi pada Agustus dan September.
Pada kesempatan nan sama, Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, hasil pemantauan suhu muka laut menunjukkan indeks Nino 3.4 telah mencapai lebih dari 1,56 alias melampaui periode pemisah El Niño kategori kuat.
Sementara itu, kondisi di Samudra Hindia juga menunjukkan kesempatan cukup besar terbentuknya IOD positif pada September hingga Desember nan berpotensi memperkuat kondisi kering di Indonesia.
Meski demikian, Adhasena menegaskan masyarakat tidak perlu menyamakan El Niño dengan musim kemarau. Menurutnya, El Nino memang diperkirakan tetap berjalan hingga awal 2027, tetapi dampaknya terhadap Indonesia hanya terjadi ketika bertepatan dengan musim kemarau.
"El Nino-nya tetap berjalan hingga paling tidak kuartal pertama tahun 2027, tetapi dampaknya itu hanya berjumpa dengan musim tandus untuk wilayah Indonesia," ujarnya.
Ia menjelaskan sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada Oktober. Curah hujan bakal semakin meluas pada November sehingga akibat El Niño terhadap Indonesia ikut berkurang meskipun fenomenanya tetap memperkuat di Samudra Pasifik.
Adhasena menambahkan setiap kejadian El Nino mempunyai karakter berbeda sehingga dampaknya tidak selalu sama dengan kejadian sebelumnya.
Besarnya pengaruh El Nino terhadap Indonesia juga dipengaruhi suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia sehingga masyarakat perlu terus mengikuti pembaruan info suasana nan diterbitkan BMKG setiap bulan.
BMKG juga mengingatkan musim tandus tahun ini berpotensi lebih kering dan berjalan lebih lama dibandingkan kondisi normal di sebagian besar wilayah Indonesia.
Karena itu, beragam sektor seperti pertanian, sumber daya air, energi, kesehatan, hingga kebencanaan diminta menyiapkan langkah penyesuaian menghadapi puncak tandus pada Agustus hingga September. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·