Bulan Zulhijah sudah nyaris separuh berlalu. Sejak awal sudah banyak sekali pesan-pesan menarik nan akhir-akhir ini muncul mengenai keistimewaan 10 hari pertama bulan Zulhijah. Ya, sejujurnya, salah satu akibat baik media sosial saat ini adalah sigap sekali tersebarnya sebuah pesan.
Jika dulu jangankan mengingat keistimewaan bulan Zulhijah, mungkin keistimewaan bulan Ramadan saja baru sering tersiar saat menonton TV, alias mengikuti kajian di masjid. Namun saat ini, banyak orang nan mulai tersadar, apalagi sejak jauh-jauh hari.
Semakin bertambah usia, saya mulai menyadari bahwa menjaga semangat beragama rupanya tidak sesederhana dan semudah nan dibayangkan. Hari ini, hidup terasa jauh lebih padat. Pikiran dipenuhi banyak hal. Tanggung jawab datang nyaris bersamaan: pekerjaan, kesehatan, dan beragam urusan nan membikin hari-hari sering berlalu begitu cepat.
Tidak jarang malam datang berbareng tubuh nan sudah terlalu capek untuk melakukan banyak perihal selain beristirahat. Di titik itu, saya mulai memahami bahwa keterbatasan bukan hanya soal usia, melainkan juga soal tenaga, fokus, dan keahlian mengatur suasana hati agar tetap hidup di tengah rutinitas nan melelahkan.
Hari ini, Bulan Zulhijah datang lagi, apalagi sudah nyaris separuh perjalanan. Ada harapan, tetapi juga ada kegelisahan dan emosi tertinggal. Sering kali ketika mendengar banyak keistimewaan bulan ini, awalnya ada semangat untuk ikut mengupayakannya, tapi tidak semua rencana selalu tepat berjalan.
Ada kondisi tidak terduga, seperti badan sedang kurang sehat ketika memasuki awal Zulhijah, kesibukan dengan tanggung jawab, apalagi ada juga nan capek lantaran tetap berdempetan di transportasi umum sekaligus melawan macet jalanan.
Beruntung bagi para remaja alias mereka nan berada di usia lebih muda, rasanya waktu melangkah lebih lapang. Fokus belum terbagi terlalu banyak. Energi tetap penuh. Jika mau menghabiskan waktu untuk mengikuti kajian, semuanya terasa lebih mungkin dilakukan. Namun, tentunya waktu tidak bisa diputar kembali, untuk sekadar kembali ke masa muda dan memperbaiki waktu nan terlewat.
Sementara ketika memasuki usia dewasa, hidup berubah menjadi lebih kompleks. Ada pekerjaan nan tidak bisa ditinggalkan. Ada kesehatan nan mulai perlu dijaga. Ada target, dan beragam tanggung jawab nan terus datang silih berganti. Terkadang, apalagi untuk duduk tenang beberapa menit saja terasa sulit.
Di titik itulah saya mulai memahami kenapa banyak orang dewasa sebenarnya mau menjadi lebih baik, tetapi sering merasa tertinggal dalam urusan ibadah. Bukan lantaran tidak peduli, melainkan lantaran hidup mereka sedang penuh oleh hal-hal nan menuntut perhatian dan daya nyaris sepanjang waktu.
Termasuk dalam urusan berkurban. Ada orang-orang nan sebenarnya sangat mau berkurban setiap tahun. Ingin ikut merasakan kebahagiaan berbagi, mau menghadirkan kebaikan terbaik di hari-hari spesial itu. Namun, realita hidup tidak selalu memberi ruang nan mudah. Belum lagi beragam kondisi ekonomi nan membikin sebagian orang kudu menguras nyaris seluruh tenaganya hanya untuk memperkuat hidup dengan layak.
Dan mungkin, salah satu keterbatasan orang dewasa hari ini adalah ketika kemauan untuk beragama lebih baik kudu berhadapan dengan realitas hidup nan tidak sederhana. Kekhawatiran itu terasa semakin nyata di tengah kehidupan hari ini nan bergerak begitu cepat. Kita hidup dalam budaya nan sering mengukur banyak perihal dari capaian nan tampak. Kesuksesan dan prestasi diukur dari nan terlihat, sementara ketenangan jiwa justru sering terabaikan.
Dalam realitas seperti ini, saya mulai memahami bahwa orang dewasa sering kali bukan tidak mau beragama lebih baik. Mereka hanya sedang berupaya memperkuat sembari tetap mencari semangat nan sering turun naik.
Lalu saya mulai bertanya pada diri sendiri: Jika hidup orang dewasa memang sedemikian melelahkan, ibadah seperti apa nan sebenarnya paling mungkin dijaga? Mungkin jawabannya bukan selalu amal-amal besar, mungkin kebaikan terbaik justru datang dalam corak nan sederhana tetapi terus diupayakan.
Menyempatkan membaca beberapa ayat Al Quran meski hanya sebentar.
Menyisihkan sedikit rezeki meski kondisi ekonomi belum betul-betul longgar.
Mungkin tidak semua sanggup berpuasa lantaran satu dan lain hal, hanya bisa melafalkan takbir absolut di sela-sela waktu.
Barangkali di usia dewasa, kebaikan bukan lagi soal seberapa banyak nan bisa dilakukan, melainkan seberapa tulus seseorang tetap berupaya mendekat di tengah segala keterbatasannya. Sebab, ada orang-orang nan mungkin tidak bisa melakukan banyak ibadah tambahan, tetapi setiap hari tetap berjuang mencari nafkah halal, menahan diri agar tidak mengambil kewenangan orang lain, dan tetap mencoba menjadi manusia nan lebih baik meski hidup sedang tidak mudah. Dan berambisi perjuangan seperti itu pun dicatat sebagai kebaikan.
Di tengah semua itu, saya juga belajar bahwa semangat beramal rupanya tidak selalu lahir dari diri sendiri. Ada kalanya niat melemah dan langkah terasa berat. Namun justru di saat seperti itu, semangat datang melalui orang lain.
Kadang lewat kawan nan mengingatkan.
Kadang lewat tulisan sederhana nan menyentuh hati.
Kadang lewat percakapan singkat nan membikin kita kembali sadar.
Dari situ saya memahami pentingnya terus belajar dan tetap berada di lingkungan nan menjaga semangat kebaikan. Sebab manusia tidak selalu kuat melangkah sendirian. Ada masa ketika seseorang memperkuat bukan lantaran dirinya paling kuat, melainkan lantaran tetap ada orang-orang nan mengingatkannya untuk terus melangkah.
Mungkin itu pula salah satu makna sosial dari ibadah. Bahwa kepercayaan tidak hanya membangun hubungan manusia dengan penciptanya, tetapi juga menjaga hubungan antarmanusia agar tetap saling menguatkan.
Meski langkahnya pelan—tidak selalu bisa berlari cepat—tetapi tetap berupaya berjalan. Karena pada akhirnya, keistimewaan 10 hari pertama Zulhijah bisa dirasakan juga oleh setiap orang meskipun dengan segala keterbatasan—tetapi tetap mau mengetuk pintu kebaikan sekali lagi.
Mudah-mudahan kita selalu diberikan kesempatan mengupayakan nan terbaik di Bulan Istimewa ini, sekalipun belum setidaknya mengupayakan sesuai kemampuan.
Selamat menanti Hari Raya Idul Adha 1447 H.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·