Wayang Orang Sriwedari: Budaya Berkomunikasi Melampaui Bahasa

Sedang Trending 27 menit yang lalu
Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari di Surakarta, Senin (13/7/2026), saat mementaskan lakon Bumiloka–Mustakaweni Lair. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ada satu kekhawatiran mini nan mengganjal ketika saya memutuskan menonton Wayang Orang Sriwedari di Solo: apakah saya bakal mengerti?

Malam itu, pada Juli 2026, lakon “Bumiloka–Mustakaweni Lair” dipentaskan di Gedung Wayang Orang Sriwedari. Selama kurang lebih dua jam, panggung didominasi oleh perbincangan berkata Jawa—bahasa nan tidak sepenuhnya saya kuasai untuk menangkap setiap perincian maknanya.

Dua jam jelas bukan waktu nan singkat, apalagi untuk menyelami bumi cerita, tokoh, dan bahasa nan tidak familier. Namun, kekhawatiran itu rupanya perlahan luruh.

Saya memang tidak memahami setiap kalimat nan diucapkan para pemain. Saya mungkin juga melewatkan sejumlah perincian plot cerita. Tetapi anehnya, saya tetap tahu kapan situasi sedang menegang, kapan bentrok mulai memanas, kapan seorang tokoh merasa kesal, dan—yang paling mudah dikenali—kapan saya kudu tertawa.

Bahkan, saya sama sekali tidak merasa mengantuk. Bagi saya, pengalaman di Sriwedari malam itu terasa magis, layaknya menonton movie di bioskop.

Saya duduk takzim, memperhatikan panggung, mengikuti arus konflik, menantikan segmen demi adegan, dan sesekali tertawa lepas berbareng penonton lain. Bedanya, tidak ada subtitle di bagian bawah panggung.

Bahasa Bukan Satu-satunya Pintu

Dalam komunikasi, bahasa memang menjadi perangkat utama untuk menyampaikan pesan. Kita berbincang agar orang lain memahami isi kepala kita; kita menulis agar sebuah pendapat dapat diterima. Namun, komunikasi tidak pernah bekerja semata-mata melalui rangkaian kata. Malam itu, saya memandang kebenaran tersebut dengan sangat jelas di atas panggung Sriwedari.

Ketika saya luput menangkap makna satu alias dua dialog, ekspresi wajah pemain segera memberi petunjuk. Gerakan tubuh mereka menjelaskan dinamika relasi antartokoh. Nada bicara menyiratkan amarah, kelucuan, alias ketegangan. Alunan musik membangun atmosfer. Tata rias dan kostum mempertegas karakter. Bahkan, jarak antarpemain dan langkah mereka menguasai ruang panggung ikut merajut makna.

Pesan membanjiri indera penonton dari beragam arah sekaligus. Dalam kajian komunikasi, kejadian ini dikenal sebagai komunikasi multimodal: makna tidak hanya dibentuk oleh bahasa verbal, tetapi melalui orkestrasi suara, visual, gestur, ruang, hingga ekspresi. Barangkali lantaran itulah saya tetap bisa larut dalam pagelaran meski tidak menguasai seluruh dialognya.

Wayang Orang Sriwedari tidak memaksa penontonnya fasih berkata Jawa sebelum mengizinkan mereka masuk ke dalam cerita. Tubuh para pemain, irama gamelan, tata panggung, konflik, dan lawakberasosiasi menjadi "bahasa universal" nan menjembatani pagelaran dengan penonton. Di sinilah saya menyadari bahwa kebudayaan mempunyai jauh lebih banyak instrumen untuk berkomunikasi daripada nan sering kita sangka.

Humor nan Menembus Batas Bahasa

Satu perihal nan paling membekas dari malam itu adalah komponen komedinya. Di tengah cerita nan serius, suasana bisa mendadak cair. Ada satu babak nan apalagi terasa seperti menyaksikan stand-up comedy dalam bebatan wayang orang. Lelucon, improvisasi, permainan ekspresi, hingga hubungan langsung dengan penonton membikin pemisah antara panggung dan bangku penonton seolah lenyap.

Menariknya, malam itu bukan hanya penonton lokal nan hadir. Di beberapa deret kursi, tampak rombongan mahasiswa dari National University of Singapore (NUS) nan sedang berjamu ke Solo untuk studi budaya. Kehadiran mereka rupanya tidak luput dari perhatian para pemain.

Dalam segmen Goro-Goro, para Punakawan rupanya menyadari keberadaan rombongan mahasiswa asing di antara penonton. Mereka kemudian mulai membujuk para mahasiswa itu berbincang dari atas panggung. Bahasa Inggris nan digunakan pun bukan bahasa Inggris nan rumit—lebih berupa percakapan sederhana nan bercampur dengan bahasa Indonesia. Pertanyaan seperti, “You from ndi?” —percampuran bahasa Inggris dan Jawa dilemparkan dengan style unik para Punakawan diselingi ekspresi dan improvisasi nan justru membikin suasana semakin lucu.

Yang menyenangkan, mahasiswa-mahasiswa itu tetap mengerti. Mereka menjawab pertanyaan para pemain, ikut menimpali, dan tertawa berbareng penonton lainnya. Dari percakapan itulah saya apalagi mengetahui bahwa mereka merupakan mahasiswa National University of Singapore (NUS) nan datang ke Solo untuk mempelajari kebudayaan.

Momen itu sederhana, tetapi bagi saya cukup membekas. Tidak ada tata bahasa Inggris nan sempurna, tidak ada penerjemah, apalagi percakapannya berjalan campur-campur. Namun, komunikasi tetap terjadi. Para pemain memahami bahwa ada penonton nan tidak berbincang dalam bahasa nan sama, lampau mencari langkah agar mereka tetap bisa diajak masuk ke dalam pertunjukan.

Saya tertawa. Penonton lain tertawa. Mereka pun tertawa. Untuk beberapa saat, perbedaan bahasa tidak lagi terasa sebagai tembok. Justru dari bahasa nan seadanya, gestur, ekspresi, dan lawakitulah tercipta pemahaman bersama. Para pemain tidak menuntut penonton asing memahami seluruh kode budaya nan ada di atas panggung. Sebaliknya, mereka mendatangi penontonnya melalui bahasa nan lebih familier, tanpa membikin pagelaran kehilangan karakter Jawanya.

Bagi saya, momen tersebut memperlihatkan sesuatu nan menarik tentang komunikasi budaya. Pesan tidak selalu sukses lantaran pengirim dan penerima menggunakan bahasa nan sama sejak awal. Kadang, komunikasi sukses lantaran ada kesediaan untuk mencari titik temu—melalui beberapa kata dalam bahasa Inggris, bahasa Indonesia, gestur, intonasi, ekspresi, hingga lawakyang dapat dibaca bersama-sama.

Dalam tradisi pewayangan, Punakawan memang dikenal menghadirkan lawaksekaligus mendekatkan cerita dengan kehidupan penonton. Namun, menyaksikannya secara langsung malam itu membikin kegunaan tersebut terasa jauh lebih hidup. Di panggung Sriwedari, mereka bukan hanya menjadi sumber kelucuan, tetapi juga semacam jembatan komunikasi antara bumi pewayangan dengan orang-orang nan datang dari luar bahasa dan budaya Jawa.

Adegan Goro-Goro dalam pagelaran Wayang Orang Sriwedari nan menghadirkan lawakdan hubungan dengan penonton. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Humor di panggung Sriwedari bukan sekadar selingan pengusir bosan; dia adalah pintu masuk nan ramah bagi mereka nan tak punya bekal pengetahuan mendalam soal wayang. Penonton tidak dituntut menghafal silsilah tokoh kerajaan untuk bisa menikmati sebuah lelucon. Kita hanya perlu disajikan sesuatu nan terasa dekat dan manusiawi.

Tetap Jawa, Tetap Bisa Dinikmati

Pengalaman ini membawa saya pada sebuah perenungan tentang stigma nan kerap melekat pada budaya tradisional: bahwa semakin lokal suatu budaya, semakin susah dia dipahami oleh orang luar.

Bahasanya berbeda. Simbolnya sarat makna masa lalu. Ceritanya berakar dari ratusan tahun silam. Ada tumpukan konteks budaya nan tidak otomatis dimiliki oleh penonton modern. Karena itu, saat membicarakan pelestarian, kita sering kali tergoda menyodorkan solusi instan: tradisi kudu dimodernisasi agar relevan dengan selera zaman.

Kini, saya meragukan pandangan tersebut. Wayang Orang Sriwedari malam itu tidak perlu menanggalkan ke-Jawa-annya agar saya bisa menikmatinya. Bahasa Jawa kromo tetap dipertahankan. Gamelan tetap bertalu. Kostum dan tata rias tetap memegang pakem visual pewayangan. Ceritanya pun tidak perlu dirombak menjadi kisah urban ibu kota alias dikemas menyerupai serial pop agar dianggap menarik.

Yang dilakukan pagelaran itu adalah sesuatu nan jauh lebih esensial: menyediakan pintu masuk bagi penontonnya. Pintu itu bisa berbentuk humor, ekspresi wajah nan teatrikal, emosi nan mudah dikenali, alias ritme segmen nan membikin penonton bisa menyelami suasana sebelum mencerna kata-katanya.

Budaya tidak selalu kudu disederhanakan hingga kehilangan jati dirinya agar bisa dimengerti. Kadang-kadang, dia hanya perlu menemukan langkah nan tepat untuk berkomunikasi.

Budaya Tak Cukup Hanya Dipentaskan

Sebagai pengajar nan kerap membedah komunikasi etnik Nusantara, malam di Sriwedari memantik kembali pemikiran saya mengenai makna sejati dari pelestarian budaya.

Selama ini, narasi pelestarian kerap terjebak pada bahasa administratif: jumlah pementasan, regenerasi seniman, pemugaran gedung, nomor kunjungan wisata, alias digitalisasi arsip. Semuanya tentu krusial. Tetapi ada satu pertanyaan esensial nan sering terlupa: apakah kebudayaan tersebut tetap bisa berbincang kepada mereka nan berada di luar organisasi asalnya?

Sebuah pagelaran bisa saja terus dipentaskan selama puluhan tahun. Namun, jika penonton baru merasa tak punya celah untuk masuk ke dalamnya, jarak antara tradisi dan masyarakat perlahan bakal berubah menjadi lembah pemisah.

Sebaliknya, pelestarian menjadi hidup dan bernapas ketika generasi baru—dan orang-orang dari latar budaya berbeda—bisa datang, duduk, menonton, lampau menemukan sesuatu nan menggetarkan emosi mereka. Mereka tidak kudu pulang dengan predikat mahir pewayangan. Saya pun tidak.

Saya melangkah keluar dari Gedung Wayang Orang Sriwedari malam itu tetap sebagai seseorang awam nan belum menguasai bumi pewayangan Jawa, dan tidak memahami sepenuhnya perbincangan berdurasi dua jam tersebut.

Tetapi saya pulang membawa kepenuhan rasa. Saya tertawa, saya merasa penasaran, dan saya mau menceritakan pengalaman ini kepada orang lain.

Dan barangkali, justru di titik itulah komunikasi budaya bekerja pada tingkat tertingginya. Ia tidak selalu menuntut kita untuk memahami segalanya sejak awal. Kadang, dia cukup membikin seseorang merasa disambut hangat, menikmati momennya, lampau perlahan menumbuhkan rasa mau kenal lebih jauh.

Wayang Orang Sriwedari membuktikan bahwa budaya tidak perlu melucuti bahasa, simbol, dan identitas lokalnya demi merangkul audiens nan lebih luas. Sebuah kebudayaan berkuasa untuk tetap sangat Jawa, sangat lokal, dan sangat khas—selama dia tetap mau dan bisa berkomunikasi.

Itulah sebabnya, malam di Sriwedari menjadi salah satu ingatan terbaik saya tentang Solo. Jika kelak ada nan bertanya apa perihal pertama nan kudu dilakukan saat mengunjungi kota ini, menonton wayang orang pasti bakal berada di daftar teratas saya.

Bukan lantaran semua orang diwajibkan memahami pewayangan. Tetapi lantaran setidaknya sekali seumur hidup, kita perlu merasakan langsung gimana budaya nan terasa asing, justru merangkul kita untuk tertawa bersamanya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan