Water Guardian, Dari Peduli Jadi Aksi Sanitasi Bagi Warga Kemayoran

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepedulian terhadap persoalan air bersih dan sanitasi mendorong Darren Ismaya Karmaina mengambil langkah lebih jauh. Sebagai seorang pelajar, dia memandang rumor tersebut bukan sekadar persoalan nan dapat dibicarakan, tetapi tantangan nan memerlukan tindakan di tengah masyarakat.

Dari kepedulian itu lahir Water Guardian, sebuah inisiatif sosial nan digagas Darren untuk menerjemahkan perhatian generasi muda terhadap persoalan lingkungan dan masyarakat menjadi tindakan nyata.

Langkah pertama Water Guardian diwujudkan melalui pembangunan akomodasi mandi, cuci, dan kakus (MCK) bagi masyarakat di area Kemayoran, Jakarta Pusat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Proyek ini menjadi upaya untuk menghadirkan akses sanitasi sekaligus membangun kesadaran bahwa keberadaan akomodasi saja tidak cukup tanpa pengelolaan dan pemanfaatan nan berkelanjutan.

Gagasan tersebut berangkat dari kesukaan Darren terhadap rumor air bersih dan sanitasi, nan sejalan dengan Sustainable Development Goal (SDG) 6 tentang Clean Water and Sanitation.

Ketertarikan itu kemudian berkembang menjadi sebuah proyek nan mempertemukan generasi muda dengan masyarakat, pemerintah daerah, tokoh setempat, mitra CSR, dan beragam pihak lainnya.

"Saya mulai bertanya, apa nan sebenarnya bisa dilakukan seorang pelajar untuk membantu menghadapi persoalan nyata di masyarakat?" ujar Darren.

Pertanyaan tersebut menjadi titik awal bagi Darren untuk membawa Water Guardian dari sebuah pendapat menuju tindakan di lapangan.

Groundbreaking akomodasi Water Guardian dilakukan pada Juni 2026 dengan melibatkan unsur pemerintah setempat, tokoh masyarakat, dan warga. Setelah melalui proses pembangunan, akomodasi MCK sekarang telah rampung dan memasuki tahap operasional.

Namun, bagi Darren, berdirinya sebuah akomodasi bukanlah garis akhir. Justru setelah pembangunan selesai, muncul tantangan nan lebih panjang, ialah memastikan akomodasi tersebut digunakan, dirawat, dan betul-betul memberikan faedah bagi masyarakat.

"Membangun akomodasi adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah memastikan akomodasi tersebut betul-betul digunakan, dirawat, dan memberikan faedah secara berkepanjangan bagi masyarakat," kata Darren.

Atas dasar itu, proyek di Kemayoran diposisikan sebagai Site #1 Water Guardian. Lokasi tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memandang gimana sebuah akomodasi sanitasi berbasis masyarakat dapat beraksi secara berkelanjutan.

Water GuardianFoto: Arsip Water Guardian

Tahap berikutnya bakal diarahkan pada pemeliharaan fasilitas, keterlibatan masyarakat, pemantauan penggunaan, kualitas air, kebersihan dan higiene, hingga pengukuran akibat secara berkala.

Water Guardian mau menjadikan proses tersebut sebagai perjalanan nan terus berkembang. Setelah akomodasi dibangun, perhatian beranjak pada gimana akomodasi itu beroperasi.

Dampaknya kemudian perlu diukur dan dipelajari melalui riset untuk mengetahui apa nan sudah melangkah baik dan bagian mana nan tetap perlu diperbaiki.

Hasil pembelajaran itu nantinya diharapkan dapat membantu Water Guardian mengembangkan model nan lebih baik. Jika pendekatan di Kemayoran terbukti efektif dan berkelanjutan, pengalaman tersebut dapat menjadi injakan untuk direplikasi.

Dengan pendekatan tersebut, Water Guardian tidak semata-mata mau membangun infrastruktur. Inisiatif ini juga mau mempelajari gimana sebuah akomodasi sanitasi dapat dikelola dan dipertahankan agar manfaatnya tidak berakhir setelah proyek pembangunan selesai.

Bagi Darren, perjalanan Water Guardian sekaligus menjadi pengalaman belajar tentang kepemimpinan.

Persoalan sosial nan ditemuinya di lapangan membikin Darren memahami bahwa tantangan di masyarakat jauh lebih kompleks dibandingkan ketika rumor tersebut dibahas di dalam kelas.

Menjalankan proyek ini membuatnya belajar mendengarkan masyarakat, berkomunikasi dengan beragam pemangku kepentingan, meminta support dari mereka nan lebih berpengalaman, menggalang dukungan, hingga menghadapi beragam keterbatasan dalam pelaksanaan.

Dari pengalaman itu, Darren memahami bahwa sebuah proyek sosial tidak dapat melangkah hanya dengan mengandalkan pendapat satu orang.

Water GuardianFoto: Arsip Water Guardian

Karena itu, Water Guardian tidak mau dipandang sebagai proyek seorang pelajar nan datang untuk "menyelamatkan" sebuah komunitas.

Sebaliknya, inisiatif tersebut mau tumbuh sebagai ruang kerjasama antara generasi muda, masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan ke depan, kalangan akademisi.

Masyarakat tetap ditempatkan sebagai bagian krusial dalam proses tersebut. Darren dan Water Guardian berupaya mempertemukan kepedulian, sumber daya, pengetahuan, dan tindakan agar solusi nan dibangun dapat relevan dengan kebutuhan di lapangan.

Melalui Water Guardian, Darren mau menunjukkan bahwa generasi muda tidak kudu menunggu sampai dewasa untuk mulai berkontribusi terhadap persoalan di sekitarnya.

Namun, kepedulian saja tidak cukup. Sebuah persoalan sosial memerlukan aksi, kolaborasi, pengukuran dampak, serta perbaikan agar solusi nan dihadirkan dapat memperkuat dalam jangka panjang.

Karena itu, akomodasi MCK nan telah selesai dibangun di Kemayoran bukan menjadi penutup perjalanan Water Guardian.

"Bagi kami, pertanyaan terpenting setelah akomodasi ini digunakan bukan hanya apakah fasilitasnya sudah selesai, tetapi apakah nan kami bangun betul-betul bekerja dan memberikan faedah bagi masyarakat?" tutur Darren.

Bagi Darren, jawaban atas pertanyaan itu bakal menjadi injakan bagi perjalanan Water Guardian berikutnya. Jika pengalaman di Kemayoran menunjukkan hasil nan positif, proyek tersebut tidak hanya menjadi satu akomodasi sanitasi, tetapi juga menjadi pembelajaran tentang gimana sebuah inisiatif nan digerakkan generasi muda dapat dikembangkan dan diterapkan di tempat lain.

(ory/ory)

Selengkapnya
Sumber CNN Indonesia Nasional
CNN Indonesia Nasional