Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta menyebut sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau ke wilayah Jakarta mulai mengalami penurunan signifikan sejak Senin (7/9).
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan, berasas pemantauan berbareng BMKG dan lembaga terkait, saat ini sudah tidak ada lagi sebaran abu vulkanik nan masuk ke wilayah Jakarta.
“Sejak kemarin untuk wilayah DKI Jakarta sebaran abu vulkanisnya sudah mulai turun. Sudah sangat turun sekali. Bahkan sudah tidak ada lagi masuk ke wilayah DKI Jakarta berasas peta sebaran abu vulkanis nan dikeluarkan oleh BMKG,” kata Marulitua saat dihubungi kumparan, Selasa (8/9).
Meski begitu, BPBD tetap menemukan residu abu vulkanik di sejumlah wilayah. Residu tersebut merupakan sisa abu nan sebelumnya terbawa angin dan sekarang tetap menempel, terutama pada pepohonan.
“Ya itu sisa-sisa kemarin aja (abu vulkanik). Itu ya rata-rata adanya di pepohonan, tetap menyangkut di pepohonan. Tinggal pembersihan-pembersihan aja,” ujarnya.
Untuk membantu membersihkan residu sekaligus menekan partikel di udara, Pemprov DKI tetap mengerahkan water mist hingga hari ini, Selasa (8/9) di sejumlah wilayah di Jakarta.
Marulitua mengatakan pengerahan water mist bakal dilakukan sembari memandang perkembangan kondisi di lapangan.
“Iya, kita tetap lakukan hari ini water mist. Sambil memandang perkembangan nanti. Kalau misalnya sudah terkendali, sudah aman, ya sudah kita enggak lakukan lagi water mist,” jelasnya.
Sementara itu, BPBD DKI juga telah mengaktifkan posko untuk penyelenggaraan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Namun, OMC belum dilaksanakan lantaran tetap menunggu waktu dan kondisi atmosfer nan memungkinkan.
“Poskonya kita sudah aktifkan. Tapi kan lantaran abu vulkanis itu kan berada di lapisan udara, itu bakal mengganggu untuk penerbangan tentunya,” kata Marulitua.
Menurutnya, penyelenggaraan OMC tidak bisa dilakukan sembarangan. Salah satu pertimbangannya adalah keberadaan awan nan memungkinkan operasi tersebut memberikan hasil.
“Kita sedang menunggu waktu nan paling tepat. Karena jika dilakukan OMC rupanya pertumbuhan awannya tidak ada juga, ya enggak bakal mendapatkan hasil juga,” ujarnya.
Marulitua menegaskan, OMC bakal dilakukan andaikan kondisi atmosfer dan kesiapan awan memungkinkan. BPBD tetap berkoordinasi dengan BMKG untuk menentukan waktu nan tepat.
“Untuk OMC, kami tetap memperhatikan info dari BMKG untuk dilakukan OMC. Kami sedang berupaya untuk bisa dilakukan OMC,” katanya.
Lebih lanjut dia menambahkan, kondisi sebaran abu vulkanik tetap bergerak lantaran dipengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau serta arah dan kecepatan angin. Karena itu, BPBD tetap berkoordinasi dengan BMKG dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Ya kami tetap terus memantau ya,” ujar Marulitua.
“Kami koordinasikan terus ini dengan BMKG dan PVMBG ya, untuk memantau terus aktivitas daripada Gunung Anak Krakatau itu,” sambungnya.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·