Waspada Tangan Kaku saat Bangun Tidur, Kenali Gejala Reumatik Autoimun Kronis

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Waspada Tangan Kaku saat Bangun Tidur, Kenali Gejala Reumatik Autoimun Kronis Ilustrasi nyeri sendi pada jari tangan, tanda reumatik.(Dok. Magnific)

KEKAKUAN pada kedua tangan saat bangun tidur di pagi hari nan berjalan lama dan berulang, terutama jika disertai bengkak, patut diwaspadai. Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi awal penyakit Rheumatoid Arthritis (RA) alias reumatik autoimun kronis.

Dokter ahli penyakit dalam konsultan reumatologi dari Siloam Hospitals Lippo Village, dr. Sandra Sinthya Langow, menekankan pentingnya masyarakat untuk tidak mengabaikan nyeri sendi nan berkepanjangan.

"Nyeri sendi nan berkepanjangan sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai keluhan biasa. Kita perlu mengetahui penyebabnya lantaran setiap penyakit mempunyai penanganan nan berbeda. Khusus reumatik autoimun kronis, peradangan nan berjalan terus-menerus dapat menyebabkan kerusakan sendi dan pada akhirnya mengganggu kegunaan serta kualitas hidup," ujar dr. Sandra dalam paparan kesehatan di Karawaci, Tangerang, Rabu (12/8).

Mengenali Gejala Awal Rheumatoid Arthritis

Menurut dr. Sandra, banyak masyarakat nan tetap menganggap nyeri sendi hanya sebagai akibat kelelahan, aktivitas berlebih, alias cedera ringan. Padahal, terdapat karakter spesifik nan mengarah pada reumatik autoimun kronis, ialah kekakuan nan dirasakan terutama pada jari dan pergelangan tangan secara simetris (kanan dan kiri).

Pada tahap awal, gejalanya mungkin terlihat sederhana, seperti:

  • Sulit menggerakkan jari tangan saat bangun tidur.
  • Membutuhkan waktu lama sebelum bisa beraktivitas normal.
  • Jari tangan terasa bengkak alias cincin terasa lebih ketat di pagi hari.
  • Rasa kaku membaik setelah mandi alias mulai bergerak.

Karena indikasi sering membaik setelah tubuh beraktivitas, kondisi ini kerap diabaikan. Namun, jika dibiarkan, peradangan dapat meluas ke sendi lain seperti lutut, bahu, siku, hingga pergelangan kaki. "Pada kondisi nan terlambat ditangani, kerusakan sendi dapat menyebabkan perubahan corak dan kecacatan permanen," tambahnya.

Diagnosis dan Bahaya Obat Tanpa Pengawasan

dr. Sandra juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati terhadap penggunaan obat tradisional alias alami nan tidak mempunyai bukti keamanan jelas. Beberapa produk tersebut dikhawatirkan mengandung kortikosteroid alias obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) nan tidak tercantum pada kemasan, sehingga berisiko menimbulkan pengaruh samping jika digunakan tanpa pengawasan medis.

Untuk mendiagnosis RA, master tidak hanya mengandalkan satu indikasi alias satu hasil laboratorium saja. Proses pemeriksaan melibatkan penilaian riwayat keluhan, pemeriksaan fisik, serta pemeriksaan penunjang seperti:

  • Tes darah Rheumatoid Factor (RF).
  • Tes Anti-Citrullinated Protein Antibody (ACPA) termasuk anti-CCP.
  • Pemeriksaan pencitraan (imaging) jika diperlukan.

Ia menjelaskan adanya kondisi Rheumatoid Arthritis seronegative, di mana hasil tes autoimun negatif namun pasien tetap mengalami RA. Oleh lantaran itu, kombinasi indikasi klinis dan pemeriksaan master ahli reumatologi (Rheumatologist) sangat krusial.

Pentingnya Penanganan Dini

Diagnosis dan terapi sejak awal adalah kunci utama dalam pengelolaan RA. Semakin sigap penyakit dikenali, semakin efektif strategi pengobatan untuk mengendalikan peradangan, mempertahankan kegunaan sendi, dan mencegah kecacatan permanen.

Selain terapi medis, pasien RA disarankan untuk menjalankan pola hidup sehat, meliputi edukasi mengenai penyakit, menjaga berat badan ideal, pengaturan pola makan dan rehat cukup, pengelolaan stres, olahraga teratur sesuai kondisi fisik.

"Tujuan pengobatan Rheumatoid Arthritis bukan sekadar menghilangkan rasa nyeri. Kita perlu mengendalikan penyakit dan mencegah kerusakan sendi agar pasien tetap dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan baik," pungkas dr. Sandra. (Ant/H-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia