Waspada! Paparan Asap Karhutla Berulang Picu Risiko Kanker Paru

Sedang Trending 53 menit yang lalu
Waspada! Paparan Asap Karhutla Berulang Picu Risiko Kanker Paru Paparan asap karhutla berulang tidak hanya mengganggu pernapasan.(Dok. Magnific)

PAPARAN asap kebakaran rimba dan lahan (karhutla) nan terjadi secara berulang dan dalam jangka waktu lama meningkatkan akibat gangguan kesehatan serius, termasuk kanker paru. Hal ini melampaui akibat sesaat seperti gangguan jarak pandang alias penurunan kualitas udara nan biasa dirasakan masyarakat.

Dokter Spesialis Paru sekaligus Subspesialis Onkologi Toraks MRCCC Siloam Semanggi, dr. Linda Masniari, SpP(K), menjelaskan bahwa partikel asap karhutla mempunyai ukuran nan sangat kecil, ialah di bawah 0,5 mikron. Ukuran ini memungkinkan partikel masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mengendap di alveolus, tempat terjadinya pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

Risiko Penyakit Paru Kronis

Menurut dr. Linda, akibat asap karhutla tidak hanya terbatas pada gangguan pernapasan akut. Paparan jangka panjang dan berulang berangkaian erat dengan beragam penyakit paru kronis, seperti bronkitis dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

"Paparan asap merupakan salah satu aspek akibat kanker paru," ujar dr. Linda dalam aktivitas MRCCC Siloam Semanggi Media Hospital Tour 2026 di Jakarta, sebagaimana dikutip dari Antara, Jumat (4/9).

Langkah Pencegahan

Masyarakat nan berada di wilayah terdampak karhutla diimbau untuk lebih waspada, terutama saat kondisi udara memburuk. Salah satu langkah mitigasi nan disarankan adalah penggunaan masker dengan spesifikasi tinggi untuk menyaring partikel mikro.

Dr. Linda merekomendasikan penggunaan masker N95 lantaran kemampuannya membantu mengurangi paparan asap secara lebih efektif dibandingkan masker biasa, meski tidak memberikan perlindungan total. Selain itu, masyarakat diminta membatasi aktivitas di luar ruangan saat kabut asap menyelimuti lingkungan.

Kesadaran bakal ancaman jangka panjang ini krusial mengingat asap karhutla sering kali dianggap sebagai gangguan musiman biasa, padahal akibat akumulatifnya dapat menakut-nakuti nyawa melalui kerusakan jaringan paru nan permanen. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia