Ilustrasi.(Magnific)
SAAT ini, tampaknya nyaris setiap jenis makanan dan minuman mempunyai jenis berprotein tinggi, apalagi untuk produk nan mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Mulai dari pasta protein, yogurt, popcorn, kue kering, hingga air mineral berprotein sekarang membanjiri pasar dan media sosial.
"Protein sedang berada di puncaknya," ujar Lisa Ganjhu, DO, seorang mahir gastroenterologi di NYU Langone Health. Namun, di kembali popularitasnya, para mahir memperingatkan bahwa sebagian besar orang sebenarnya sudah mendapatkan asupan protein nan lebih dari cukup dari pola makan sehari-hari.
Berapa Banyak Protein nan Benar-Benar Dibutuhkan?
Kebutuhan protein setiap orang berkarakter personal, berjuntai pada usia, jenis kelamin, ukuran tubuh, tingkat aktivitas, dan kondisi kesehatan secara keseluruhan. Berdasarkan pedoman National Library of Medicine, protein sebaiknya mencakup 10% hingga 35% dari total kebutuhan kalori harian.
Secara umum, Angka Kecukupan Gizi (RDA) menyarankan minimal 0,36 gram protein per pon berat badan (sekitar 0,8 gram per kilogram). Sebagai ilustrasi:
- Seseorang dengan berat 63 kg memerlukan sekitar 50 gram protein per hari.
- Seseorang dengan berat 90 kg memerlukan sekitar 70 gram protein per hari.
Bagi mereka nan aktif berolahraga alias berumur di atas 60 tahun, kebutuhannya bisa meningkat hingga 70-140 gram per hari. Namun, Dr. Amy Burkhart, MD, RD, menekankan pemisah atas kronis berada di nomor 2 gram per kilogram berat badan per hari.
4 Tanda Anda Mengonsumsi Terlalu Banyak Protein
Tubuh mempunyai pemisah dalam memproses protein. Jika asupan melampaui kapabilitas penggunaan, sisa protein tersebut tidak memberikan faedah tambahan dan justru memicu pengaruh samping fisik:
- Bau Mulut (Halitosis): Konsumsi protein tinggi nan dibarengi rendah karbohidrat memicu kondisi ketosis. Proses pembakaran lemak ini menghasilkan unsur kimia nan menyebabkan napas berbau tidak sedap alias sering disebut keto breath.
- Masalah Pencernaan: Protein dalam jumlah besar susah dicerna oleh lambung. Hal ini dapat menyebabkan diare alias sembelit, terutama jika asupan serat (karbohidrat) berkurang.
- Dehidrasi: Saat memecah protein, hati menghasilkan produk limbah berjulukan urea. Ginjal kudu bekerja ekstra keras untuk menyaring urea ini melalui urine, nan secara tidak langsung membikin tubuh lebih sigap kehilangan cairan.
- Kenaikan Berat Badan: Protein tetap mengandung kalori (4 kalori per gram). Jika asupan kalori dari protein melampaui daya nan dibakar, tubuh bakal menyimpannya sebagai lemak, bukan otot.
Risiko Kesehatan Jangka Panjang
Selain indikasi bentuk jangka pendek, kelebihan protein dalam waktu lama dapat memicu komplikasi serius:
- Osteoporosis: Tubuh menggunakan kalsium untuk menetralkan masam hasil pencernaan protein. Jika asupan protein terlalu tinggi, kalsium dapat diambil dari tulang, nan melemahkan integritas strukturalnya.
- Gangguan Hati dan Ginjal: Kerja berat ginjal dalam menyaring limbah protein meningkatkan akibat batu ginjal dan penyakit masam urat (gout).
- Penyakit Kardiovaskular: Sumber protein nan didominasi daging merah dan olahan dapat meningkatkan penumpukan plak di arteri, nan memperbesar akibat serangan jantung dan stroke.
- Penurunan Diversitas Bakteri Usus: Fokus berlebih pada protein sering kali membikin seseorang mengabaikan nutrisi lain, nan pada akhirnya merusak keseimbangan mikrobioma usus dan memicu peradangan.
Meskipun protein adalah blok gedung utama bagi kesehatan, prinsip lebih banyak lebih baik tidak bertindak di sini. Keseimbangan nutrisi tetap menjadi kunci utama dibandingkan sekadar mengikuti tren produk bercap protein di internet. (Self/I-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·