Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan bentrok Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah upaya gencatan senjata dan perundingan tenteram kandas total, memicu ancaman blokade dan memperparah krisis di Selat Hormuz, jalur vital daya dunia.
Washington apalagi bersiap memblokade pelabuhan Iran, sementara Teheran memperingatkan akibat serius jika ada intervensi militer di area tersebut. Kondisi ini langsung mengguncang pasar minyak dunia dan membikin lampau lintas kapal di Hormuz kian tertekan.
Berikut pembaruan terbaru mengenai situasi di Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia pada Senin (13/4/2026).
1. Trump Klaim Efektif Blokade Pelabuhan Iran
Presiden AS Donald Trump menegaskan rencana blokade terhadap pelabuhan Iran bakal menjadi langkah strategis untuk menekan ekonomi Teheran, khususnya dari sektor energi. Pernyataan itu disampaikan kepada awak media sebelum dia bertolak menuju Washington, DC.
Trump menyebut operasi ini bakal didukung oleh sejumlah negara lain, meski tidak merinci pihak-pihak nan terlibat. Ia menyatakan koordinasi internasional tersebut bermaksud menghentikan penjualan minyak Iran ke pasar global.
"Blokade ini bakal sangat efektif," kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera. Ia juga menekankan bahwa langkah tersebut merupakan respons atas kegagalan diplomasi terbaru antara kedua negara, nan sebelumnya diharapkan bisa meredakan ketegangan.
2. Harga Minyak Melonjak Usai Pengumuman Blokade
Pengumuman blokade langsung mengguncang pasar daya global. Harga minyak mentah melonjak tajam pada awal perdagangan, mencerminkan kekhawatiran penanammodal terhadap gangguan pasokan dari area Timur Tengah.
Minyak mentah AS tercatat naik 8% menjadi US$104,24 per barel alias sekitar Rp1,7 juta. Sementara itu, minyak Brent sebagai referensi dunia naik 7% ke level US$102,29 per barel.
Lonjakan ini memperpanjang volatilitas nilai sejak bentrok memanas. Sebelum serangan campuran AS-Israel pada 28 Februari, nilai Brent berada di kisaran US$70 (Rp1,19 juta) per barel. Namun setelah bentrok meningkat, nilai sempat melonjak hingga di atas US$119 (Rp2 juta) sebelum kembali terkoreksi.
Pada Jumat lalu, menjelang upaya perundingan di Pakistan, nilai Brent sempat turun 0,8% ke US$95,20 (Rp1,6 juta) per barel. Namun, sentimen pasar kembali berbalik tajam setelah rencana blokade diumumkan, menunjukkan sungguh sensitifnya pasar terhadap perkembangan geopolitik.
3. Negara Teluk Cari Alternatif, Hormuz Masih Tertutup
Situasi di Selat Hormuz semakin tegang setelah Iran menegaskan tidak ada kapal militer AS nan sukses melintas. Teheran juga menakut-nakuti bakal mengambil tindakan terhadap setiap upaya pelanggaran di jalur strategis tersebut.
Bagi negara-negara Teluk nan tergabung dalam GCC, kondisi ini sangat mengkhawatirkan. Selat Hormuz merupakan jalur utama pengedaran minyak mereka ke pasar global, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berakibat besar pada perekonomian kawasan.
Data terbaru menunjukkan penurunan drastis lampau lintas kapal. Dalam 24 jam terakhir, hanya tiga kapal nan sukses melintas, ialah dua berbendera China dan satu Liberia, masing-masing dengan kapabilitas sekitar 2 juta barel. Jumlah ini jauh di bawah kondisi normal nan mencapai sekitar 100 kapal per hari.
Selain itu, terdapat dua kapal nan sempat mencoba melintas namun akhirnya berbalik arah. Alasan pasti belum diketahui, namun kondisi keamanan diduga menjadi aspek utama.
Sebagai langkah mitigasi, negara-negara Teluk mulai mencari jalur alternatif. Qatar mengumumkan pelonggaran pembatasan maritim, sementara Arab Saudi telah memperbaiki pipa East-West nan sekarang bisa mengalirkan hingga 7 juta barel per hari tanpa melalui Selat Hormuz. Selain itu, Saudi juga menyiapkan ladang minyak Manifa nan dapat menambah pasokan hingga 300.000 barel per hari.
4. Negosiasi Nuklir Diprediksi Tak Cepat
Upaya diplomasi antara AS dan Iran diperkirakan tidak bakal menghasilkan kesepakatan dalam waktu dekat. Mantan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa sekaligus negosiator JCPOA, Federica Mogherini, mengingatkan bahwa proses negosiasi semacam ini memerlukan waktu panjang dan kerja teknis nan kompleks.
"Butuh 12 tahun dan kerja teknis nan sangat besar untuk mencapai kesepakatan sebelumnya. Apakah ada nan betul-betul berpikir kesepakatan bisa dicapai dalam 21 jam?" tulisnya di platform X.
Kesepakatan JCPOA sendiri merupakan hasil perundingan panjang antara Iran dan kekuatan dunia, termasuk AS, China, Rusia, Inggris, Prancis, dan Jerman. Perjanjian itu memungkinkan pencabutan hukuman terhadap Iran dengan hadiah pembatasan program nuklirnya.
Namun, AS keluar secara sepihak dari kesepakatan tersebut pada 2018 di masa pemerintahan Trump, nan menjadi salah satu pemicu ketegangan nan terus bersambung hingga saat ini.
5. Iran Siap Perang Panjang, Dampak Global Mengintai
Dari pihak Iran, sinyal keras terus disampaikan. Akademisi Universitas Teheran, Zohreh Kharazmi, menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi bentrok berkepanjangan demi mempertahankan kedaulatan, khususnya di Selat Hormuz.
"Amerika Serikat tidak berada dalam posisi untuk menentukan gimana rakyat Iran kudu bertindak, alias memilih kapal mana nan boleh melintas," ujarnya.
Ia juga menyebut Iran telah menunjukkan pendekatan selektif terhadap kapal asing, di mana negara-negara nan menjalin kerja sama dengan Teheran mendapatkan perlakuan lebih baik.
Lebih jauh, Kharazmi memperingatkan akibat dunia dari potensi blokade. Menurutnya, Selat Hormuz tidak hanya krusial bagi pengedaran minyak, tetapi juga beragam komoditas strategis lain seperti pupuk dan helium.
"Blokade di area ini berpotensi melumpuhkan industri secara global," katanya. Ia menambahkan bahwa Iran "siap untuk perang nan berkepanjangan".
6. Pernyataan Trump vs Militer AS Bikin Bingung
Di tengah eskalasi, muncul kebingungan mengenai penerapan blokade. Pernyataan Trump dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan penjelasan resmi dari Komando Pusat AS (CENTCOM).
Trump sebelumnya menyebut bahwa semua kapal nan melintas di Selat Hormuz dapat menjadi target, termasuk kapal internasional nan bayar biaya kepada Iran untuk melintas.
Namun, CENTCOM memberikan penjelasan bahwa blokade hanya bakal menyasar kapal nan menuju alias berasal dari pelabuhan Iran. Kapal internasional nan tidak mengenai dengan Iran disebut tetap mempunyai kebebasan navigasi.
Selain itu, CENTCOM menyatakan kebijakan tersebut mulai bertindak pada Senin pukul 14.00 GMT, berbeda dengan pernyataan Trump nan menyebut penerapan segera.
Perbedaan ini memunculkan pertanyaan mengenai kepastian patokan di lapangan, termasuk aspek legalitas internasional. Sejumlah analis menilai AS mungkin perlu memberikan justifikasi norma atas tindakan tersebut, terutama jika menyasar kapal komersial di perairan internasional.
7. Risiko Militer Tinggi Jika Hormuz Dipaksa Dibuka
Pakar militer sekaligus penasihat Atlantic Council, Harlan Ullman, menilai bahwa meskipun AS mempunyai keahlian untuk membuka Selat Hormuz secara paksa, operasi tersebut bakal membawa akibat besar.
"Pertanyaan kuncinya adalah seberapa besar kekuatan nan siap dikerahkan AS, dan gimana respons Iran," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Iran dapat menggunakan beragam strategi asimetris, seperti penempatan ranjau laut dan penggunaan drone dalam jumlah besar, nan berpotensi membanjiri kapabilitas pertahanan AS.
"Ini bakal menjadi pertarungan nan sangat sulit," kata Ullman. Ia juga memperingatkan bahwa jika kapal AS mengalami serangan, meski tidak tenggelam, dampaknya terhadap opini publik domestik bisa sangat besar.
8. Australia Dorong Diplomasi, Tolak Ikut Blokade
Dari sisi internasional, tekanan untuk kembali ke jalur diplomasi semakin menguat. Perdana Menteri Australia Anthony Albanese menyerukan agar perundingan tenteram segera dilanjutkan.
"Kami mau memandang dimulainya kembali pembicaraan damai. Kami mau bentrok ini berakhir," ujarnya.
Ia menegaskan bahwa bentrok nan berkepanjangan telah memberikan akibat serius terhadap ekonomi dunia dan berpotensi semakin memburuk jika tidak segera diselesaikan.
Albanese juga memastikan bahwa Australia tidak terlibat dalam rencana blokade tersebut. "Kami tidak menerima permintaan apa pun untuk berpartisipasi. Pengumuman ini dilakukan secara sepihak," katanya.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·