Yogyakarta, CNN Indonesia --
Universitas Gadjah Mada (UGM) berencana untuk menempuh jalur norma mengenai dugaan kekerasan nan dialami lima mahasiswanya saat mengikuti unjuk rasa di Simpang Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, Selasa (1/9).
Selain dari UGM, tetap ada seorang mahasiswa lagi dari UNY nan dugaannya juga jadi korban tindakan kekerasan ketika demonstrasi kemarin.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sudjito, mengatakan langkah norma tersebut tengah disiapkan sebagai corak pembelaan terhadap mahasiswa nan diduga menjadi korban kekerasan dalam tindakan penyampaian aspirasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rencananya kayaknya begitu (langkah hukum), lagi nyiapin. Tapi, sekali lagi pesan terpentingnya itu. Siapapun melakukan kekerasan kudu bertanggung jawab," kata Arie di Balairung, UGM, Sleman, DIY, Rabu (2/9).
Arie mengatakan pihak universitas berbareng mahasiswa sedang mempertimbangkan proses pembelaan dengan melibatkan sejumlah pihak. Menurutnya, dugaan kekerasan nan terjadi tidak dapat dibiarkan tanpa pertanggungjawaban.
Sikap tersebut diambil UGM lantaran Arie menilai kekerasan dalam situasi demonstrasi berpotensi menjadi pola nan berulang andaikan tidak ditindak. Ia mengingatkan bahwa tindakan semacam itu pada akhirnya dapat menakut-nakuti lebih banyak orang.
"Saya cemas ini bakal menjadi model jika dibiarkan kekerasan ini bisa menakut-nakuti pada siapapun. Karena itu tidak ada toleransi untuk praktik-praktik kekerasan," tegasnya.
Arie menegaskan bahwa tindakan kekerasan tidak dapat dibenarkan dengan argumen apa pun. Menurut dia, perlindungan terhadap mahasiswa dan masyarakat merupakan bagian krusial dalam menjaga kerakyatan dan kemanusiaan, terlebih ketika mahasiswa sedang menjalankan haknya untuk menyampaikan aspirasi.
"Jadi apapun itu tidak boleh ada kekerasan. Atas nama kemanusiaan, atas nama demokrasi, atas nama lembaga juga kekerasan tidak dibenarkan," tegas Arie.
Pada konteks tindakan nan berjalan dalam situasi ramai dan penuh sesak, Arie meminta kepolisian menjalankan peran aktif untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dan mahasiswa. Ia menilai langkah preventif diperlukan agar situasi demonstrasi tidak berkembang menjadi kekerasan alias praktik premanisme politik.
"Bahwa situasi crowded dan sebagainya saya berambisi kepolisian bisa mengambil perannya untuk melindungi masyarakat, melindungi mahasiswa. Jangan sampai terjadi kekerasan. Saya tidak mau juga premanisme politik terjadi," tandas Arie.
Ia juga menekankan bahwa penyampaian aspirasi oleh mahasiswa merupakan bagian dari sikap kritis nan semestinya didengar. Karena itu, Arie membujuk seluruh pihak menjaga ruang kerakyatan sekaligus mencegah praktik kekerasan dalam setiap proses penyampaian pendapat.
"Kalau mahasiswa itu menyampaikan aspirasi ya didengarkan. Itu adalah bagian dari sikap kritis," tuturnya.
Sebelumnya, sebanyak 6 mahasiswa dilaporkan mengalami luka dalam unjuk rasa Aliansi Masyarakat Sipil di Simpang Empat Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Yogyakarta, DIY, Selasa (1/9).
"Ada enam mahasiswa, lima mahasiswa dari UGM dan satu mahasiswa dari UNY nan kemarin akhirnya kudu sempat dirawat di rumah sakit," kata Direktur Direktorat Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna di Balairung, UGM, Sleman, Rabu (2/9).
Berdasarkan info nan dibagikan Hempri, para mahasiswa mengalami luka berupa memar di pelipis, luka robek di jidat, luka robek di bibir, memar bagian perut dan kepala belakang. Ada pula dua mahasiswa nan mengalami trauma dan sesak nafas dalam tindakan tersebut.
Menurut Hempri, para mahasiswa tersebut pada Rabu awal hari sekitar pukul 00.30 WIB sudah diperbolehkan meninggalkan Rumah Sakit Panti Rapih, tempat mereka mendapat penanganan medis.
"(Keterangan mahasiswa korban) ya mereka tiba-tiba jalan terus ada nan mukul," imbuh Hempri.
Hempri bilang, pihaknya kemarin telah meminta jejeran Kantor Keamanan Keselamatan Kerja Kedaruratan, dan Lingkungan (K5L) UGM memantau tindakan mahasiswa sejak sore hingga awal hari.
Berdasarkan laporan nan dia terima, tindakan mahasiswa melangkah kondusif dan menghindari tindakan provoaktif. Kata Hempri, tindakan provokasi justru datang dari golongan lain di lokasi.
"Saya kira di pukul 19.00 ini juga sudah ada bentuk-bentuk provokasi ya, nan saya kira dilakukan oleh kelompok-kelompok masyarakat tertentu nan saya kira sempat menyebabkan ya mungkin bentrok sesaat," papar Hempri.
"Tapi waktu itu kan situasinya sudah kembali normal ya, sekitar jam 19.20-an dan saya pikir itu bakal bisa melangkah dengan baik. Tapi sekitar jam 22.00 saya kira teman-teman mahasiswa dipukul mundur oleh kelompok-kelompok masyarakat dan ironisnya dengan beragam corak tindakan kekerasan nan tidak sepantasnya terjadi ya," sambungnya.
(kum/wis)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·