Uni Emirat Arab (UEA) mendorong Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengakhiri perang dengan Iran dalam beberapa hari terakhir, berasosiasi dengan upaya Arab Saudi dan Qatar.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (23/5), percakapan itu didorong oleh ketakutan negara-negara bahwa setiap pembalasan dari Teheran bakal menjerumuskan ekonomi Teluk Arab ke dalam kekacauan.
UEA, Arab Saudi, dan Qatar berbeda dalam jenis kesepakatan diplomatik nan kudu dikejar AS. Namun, mereka menggarisbawahi kewaspadaan terulang kembali situasi pada akhir Februari, ketika Israel dan AS meluncurkan perang terhadap Iran dan gencatan senjata pada awal April.
Iran dan golongan militan nan didukung Teheran di Irak membalas dengan menembakkan ribuan drone dan rudal melintasi Teluk, menewaskan banyak orang dan menyebabkan kerusakan senilai miliaran dolar pada pelabuhan dan prasarana energi.
"Negara-negara Teluk Arab memandang ketakutan terburuk mereka menjadi kenyataan. Mereka terjebak di tengah perang AS-Iran dan menderita banyak dampaknya. Mereka sekarang menghadapi prospek konfrontasi baru jika gencatan senjata tidak dapat diterjemahkan menjadi kesepakatan permanen, dengan gambaran mereka sebagai surga regional nan stabil dalam risiko,” kata analis di Bloomberg Economics, Dina Esfandiary.
Iran dan AS menyetujui gencatan senjata pada 8 April dan berganti pesan melalui Pakistan mengenai kesepakatan damai. Masing-masing mengatakan bahwa mereka siap untuk melanjutkan pertikaian dan menunjukkan sedikit tanda membikin konsesi.
Meski begitu, Menteri Luar Negeri Trump, Marco Rubio mengatakan ada sedikit kemajuan dalam negosiasi dan media Iran membikin komentar serupa. Panglima tentara Pakistan, Asim Munir, bakal mengunjungi Iran pada hari nan sama, sebagai kemungkinan tanda kedua belah pihak semakin dekat dengan kesepakatan.
Ancaman Negara Teluk
Kemarahan UEA dengan sesama negara Arab memuncak dalam keputusan mengejutkannya pada akhir April untuk meninggalkan OPEC nan dipimpin Arab Saudi.
Namun sejak itu, hubungan dengan negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) telah membaik. Organisasi tersebut adalah badan beranggotakan UEA, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Oman.
Pada hari nan sama, semua personil GCC melarang Oman mengirim surat kepada pengawas pengiriman dunia nan menolak upaya Iran untuk mengendalikan lampau lintas maritim secara permanen melalui Selat Hormuz.
Ancaman terhadap negara-negara Teluk terlihat pada Minggu dengan serangan drone terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir UEA, nan Abu Dhabi salahkan pada milisi nan didukung Iran di Irak.
Sehari kemudian, Trump mengatakan bahwa dia telah berbincang dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed, dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad dan bahwa mereka telah membujuknya dari menyerang Iran.
Beberapa pemimpin Teluk tidak percaya seruan mereka bakal diperhatikan dan cemas Israel bakal meyakinkan Trump untuk menyerang Iran lagi, kata salah satu orang.
Adapun Israel telah menjalin hubungan pertahanan dan keamanan nan lebih dalam dengan UEA sejak awal perang, memandang Iran sebagai ancaman eksistensial.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah mengisyaratkan lebih banyak serangan diperlukan untuk semakin menurunkan militer Iran.
“Ada kemungkinan 50-50 bahwa kita bakal mencapai kesepakatan dengan Iran. Kekhawatiran saya adalah bahwa Iran selalu bermusyawarah berlebihan. Saya minta mereka tidak melakukan itu kali ini lantaran wilayah ini memang memerlukan solusi politik. Putaran kedua konfrontasi militer hanya bakal memperumit segalanya,” kata penasihat senior presiden UEA, Anwar Gargash.
Trump Berada dalam Desakan
Di sisi lain, Trump sedang terdesak. Perang telah merugikan AS puluhan miliar dolar. Dengan nilai daya nan melonjak lantaran penutupan Selat Hormuz, bentrok tersebut semakin tidak terkenal di kalangan orang Amerika.
Hal ini pun membikin pemimpin AS ragu-ragu antara menakut-nakuti serangan udara besar-besaran di Iran dan mengatakan negara-negara tersebut mendekati perjanjian damai.
Arab Saudi mendukung mediasi melalui Pakistan dan percaya bahwa membikin Iran mengekang program rudal nuklir dan balistiknya hanya dapat diselesaikan melalui pembicaraan, kata beberapa orang.
Kata sumber Bloomberg, Arab Saudi dan UEA pun menilai AS kudu konsentrasi membikin Iran membuka kembali selat Hormuz dan mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan Iran untuk menekan Teheran.
Sementara itu, Qatar terus mendukung upaya mediasi nan dipimpin Pakistan, kata seorang diplomat dari negara tersebut. Doha telah secara konsisten menganjurkan deeskalasi demi wilayah dan rakyatnya.
Di sisi lain, seorang pejabat kementerian luar negeri Saudi, merujuk ke pernyataan Menteri Luar Negeri Faisal Bin Farhan, mengatakan kerajaan sangat menghargai keputusan Trump untuk memberikan diplomasi kesempatan untuk mencapai kesepakatan nan dapat diterima untuk mengakhiri perang.
44 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·