Presiden Donald Trump mengatakan bakal melonggarkan tarif impor daging sapi sementara untuk membantu menurunkan harga.
Mengutip Reuters, para produsen daging sapi AS memperingatkan langkah tersebut bakal merusak upaya pemulihan populasi ternak dan para ahli ekonomi menilai kebijakan itu tidak berakibat banyak pada harga.
Trump bakal menandatangani perintah pelaksana dalam dua minggu ke depan untuk memperluas volume impor daging sapi giling nan dapat masuk ke AS dengan tarif impor lebih rendah sebanyak 300.000 metrik ton, nan bakal bertindak selama 90 hari, guna menekan nilai di tengah kesulitan konsumen AS menghadapi tagihan shopping bahan makanan, menurut keterangan Gedung Putih.
Dalam unggahan media sosial sebelumnya, Trump menyatakan dia mempunyai "komitmen" bahwa daging impor tersebut bakal dijual dengan nilai 25 persen di bawah nilai pasar saat ini di bawah rencana tersebut.
Presiden tidak merinci lebih lanjut, dan Gedung Putih tidak menanggapi pertanyaan Reuters mengenai negara mana nan bakal memasok daging sapi tersebut alias memangkas nilai ekspor mereka.
"Kesepakatan ini bakal mengurangi nilai bagi penduduk Amerika sekaligus memberikan ruang bagi Kawanan Daging Sapi Hebat Amerika kita untuk kembali berkembang," ujar Trump dikutip Minggu (23/8).
Asosiasi Peternak Sapi Nasional (National Cattlemen’s Beef Association), golongan lobi terbesar nan mewakili para peternak dan pengusaha penggemukan sapi AS, menyatakan rencana Trump bakal merugikan para petani serta peternak dan dapat menghalang ekspansi kawanan sapi AS.
"Meskipun para produsen daging sapi Amerika mempunyai tujuan nan sama untuk menjaga agar nilai bahan makanan tetap terjangkau bagi konsumen, membanjiri pasar dengan daging sapi bersubsidi pemerintah di bawah nilai pasar bukanlah langkah untuk memulihkan kawanan sapi Amerika," kata CEO asosiasi tersebut, Colin Woodall, dalam sebuah pernyataan.
Presiden Asosiasi Peternak Sapi Amerika Serikat (United States Cattlemen’s Association), Justin Tupper, dalam pernyataan terpisah mengatakan, "Anda tidak menempatkan Amerika di urutan pertama dengan menempatkan produsen daging sapi AS di urutan terakhir. Langkah ini bakal melemahkan pasar kita dan memperjudikan keamanan pangan dalam prosesnya," jelas dia.
Harga makanan nan terus tinggi telah menjadi rumor sentral bagi para pemilih menjelang pemilu paruh waktu bulan November, dengan Partai Republik berupaya melindungi kebanyakan bangku kongres mereka dari frustrasi publik akibat inflasi.
Harga daging sapi terus berada di dekat rekor tertinggi, dengan persediaan ternak AS berada di level terendah dalam 75 tahun terakhir, setelah para peternak memangkas jumlah ternak mereka akibat kekeringan bertahun-tahun nan menghanguskan lahan gembala dan melonjakkan biaya pakan.
Pasokan semakin ketat setelah AS menangguhkan impor ternak Meksiko tahun lampau di tengah kekhawatiran atas penyebaran (benih)penyakit pemakan daging nan menginfeksi ternak ke arah utara.
Para perusahaan pengemas daging AS juga telah menutup pabrik pengolahan sebagai respons terhadap meroketnya biaya ternak.
Kontrak berjangka daging sapi di Bursa Berjangka Chicago (Chicago Mercantile Exchange) merosot ke level terendah dalam delapan bulan pada hari Jumat menyusul pengumuman tersebut.
Para ahli ekonomi dan pedagang meragukan apakah rencana Trump bakal secara signifikan menurunkan nilai daging sapi, mengingat volume 300.000 ton selama 90 hari hanya mewakili sebagian mini dari konsumsi daging sapi AS, dan beberapa negara belum mencapai pemisah kuota tarif impor mereka.
"Ini hanya setetes air di lautan," kata pedagang independen Dan Norcini. "Ini sama sekali tidak menyelesaikan masalah utama, ialah penurunan pasokan ternak nan sangat drastis di sini, di AS. Itu bakal memerlukan waktu dan sistem pasar untuk memperbaikinya," lanjut dia.
29 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·