Jakarta, CNBC Indonesia- Dalam konvensi dan pameran internasional sektor daya panas bumi, IIGCE (Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition) tahun 2026, Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani mengungkapkan pentingnya peran sektor panas bumi mendukung ketahanan daya dan transisi daya nasional.
Di tengah gejolak geopolitik dunia dan situasi krisis nan tidak menentu, RI memastikan daya tahan sektor daya nasional tetap kuat namun dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan daya tahan daya dalam negeri melalui pengembangan daya baru dan terbarukan (EBt) salah satunya sektor panas bumi alias geothermal.
Indonesia mempunyai potensi 40% potensi geothermal bumi ada di Indonesia alias nyaris mencapai 24.000 Megawatt sehingga menjadi kesempatan RI untuk memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) guna mempercepat transisi daya dan kemandirian energi.
Indonesia nan saat ini baru memanfaatkan potensi Geothermal sebesar 11% memerlukan upaya untuk mengakselerasi PLTP melalui pembuatan suasana upaya panas bumi semakin 'feasible' dan 'bankable'. Saat ini PGE menargetkan peningkatan kapabilitas listrik panas bumi hingga 1,8 GW di tahun 2034 sekaligus menggali kesempatan upaya baru dari rantai pasok panas bumi, salah satunya lewat proyek green hydrogen serta pengembangan kopi Canaya dan industri hijau.
PGE juga menargetkan proyek panas bumi dapat memberi akibat positif bagi masyarakat melalui penyerapan tenaga kerja dan menumbuhkan ekonomi sekitar. PGE turut menggali kesempatan upaya baru dari rantai pasok panas bumi, salah satunya lewat proyek green hydrogen
Seperti apa strategi pengembangan panas bumi PGE? Selengkapnya simak ulasan Andi Shalini dengan Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), Ahmad Yani dalam Squawk Box, CNBC Indonesia (Kamis, 20/08/2026)
11 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·