Tok! AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro Atas Kasus Pembunuhan

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Jaksa penuntut federal di Florida resmi membuka arsip dakwaan nan menjerat mantan pemimpin Kuba Raúl Castro dan lima orang lainnya pada hari Rabu (20/05/2026). Mengutip Reuters, dakwaan ini mengenai dengan kejadian penembakan jatuh dua pesawat sipil oleh militer Kuba 30 tahun lalu, di mana pengumuman resmi tersebut disampaikan oleh para pejabat dalam konvensi pers di Miami.

Tuntutan pidana federal terhadap Castro nan sekarang berumur 94 tahun-saudara laki-laki dari mendiang Fidel Castro dan dipandang luas sebagai salah satu tokoh paling kuat di Kuba-menandai eskalasi baru dalam kampanye tekanan pemerintahan Donald Trump terhadap pemerintah Kuba. Castro sendiri menjabat sebagai presiden Kuba dari tahun 2008 hingga 2018 dan sebagai pejabat tinggi Partai Komunis di negara tersebut dari tahun 2011 hingga 2021.

Castro didakwa di Miami pada 23 April atas satu tuduhan persekongkolan untuk membunuh penduduk negara AS, empat tuduhan pembunuhan, dan dua tuduhan penghancuran pesawat. Seorang pengadil kemudian mengabulkan permintaan jaksa untuk membuka arsip dakwaan setebal 20 laman tersebut pada hari Rabu.

Tuduhan-tuduhan itu berfokus pada keputusan angkatan udara Kuba untuk menembak jatuh dua pesawat sipil nan diterbangkan oleh golongan pengasingan nan berbasis di Florida, Brothers to the Rescue, pada Februari 1996 nan menewaskan empat orang. Dokumen dakwaan menyatakan bahwa pesawat-pesawat tersebut berada di luar wilayah udara Kuba pada saat penembakan terjadi.

Lima terdakwa lain nan disebutkan namanya diidentifikasi sebagai pilot pejuang Kuba, termasuk satu orang nan awalnya didakwa mengenai penembakan tersebut lebih dari dua dasawarsa lalu.

Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche memberikan penegasan keras mengenai komitmen pemerintah dalam menegakkan keadilan bagi para korban. Pihak AS memastikan tidak bakal membiarkan kasus ini menguap begitu saja.

"Selama nyaris 30 tahun, family dari empat penduduk Amerika nan dibunuh telah menunggu keadilan," kata Blanche.

Blanche menambahkan bahwa pesan nan dibawanya hari ini sangat jelas, di mana Amerika Serikat dan Presiden Trump tidak dan tidak bakal melupakan penduduk negaranya.

Masih belum jelas apakah Castro bakal menghadapi persidangan, mengingat Kuba tidak mengekstradisi warganya ke Amerika Serikat. Sebagai perbandingan, mantan pemimpin Venezuela Nicolás Maduro didakwa atas tuduhan narkoba pada tahun 2020 dan awal tahun ini dia ditangkap oleh pasukan AS lampau diterbangkan ke New York untuk diadili, sebuah operasi berani nan berujung pada penempatan pemimpin sementara nan sekarang bekerja sama erat dengan AS.

Ketika ditanya oleh wartawan tentang gimana Castro dapat dibawa ke AS untuk menghadapi persidangan, Blanche tidak memberikan rincian apa pun. Namun, dia menekankan kesungguhan Departemen Kehakiman.

"Ini bukan dakwaan pertunjukan," ujar Blanche.

Blanche menyatakan bahwa Departemen Kehakiman beriktikad untuk mengadili kasus ini dan mengeklaim ada beragam langkah berbeda untuk membawa terdakwa nan berada di negara lain.

Dokumen dakwaan menuduh bahwa Castro-yang memimpin angkatan bersenjata Kuba pada saat itu-melakukan pertemuan dengan para pemimpin militer dan memberi kewenangan kepada mereka untuk menggunakan tindakan tegas dan mematikan terhadap pesawat Brothers to the Rescue pada Januari 1996, menyusul beberapa putaran penerbangan sebelumnya oleh golongan tersebut untuk menjatuhkan selebaran.

"Semua perintah untuk membunuh oleh militer Kuba mengalir melalui rantai komando [angkatan bersenjata] dengan [Raúl Castro] dan Fidel Castro sebagai pengambil keputusan akhir," kata jaksa penuntut.

Dakwaan tersebut juga menuduh bahwa badan intelijen Kuba menugaskan jaringan mata-mata di Florida untuk memberikan info tentang Brothers to the Rescue. Beberapa personil jaringan mata-mata itu telah didakwa lebih dari dua dasawarsa lalu, termasuk satu orang nan dihukum lantaran persekongkolan pembunuhan mengenai dengan penembakan jatuh tahun 1996.

Dokumen dakwaan ini pun menawarkan kritik menyeluruh terhadap rezim Kuba.

"Rezim Castro mendirikan dan mempertahankan kendali atas Kuba dan rakyatnya melalui pemerintahan nan melenyapkan perbedaan pendapat, mempertahankan kekuasaan, wilayah, dan reputasi mereka, serta, melalui penyitaan dan nasionalisasi upaya swasta, mendanai tujuan-tujuan tersebut," bunyi dakwaan tersebut.

Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodríguez Parrilla langsung mengutuk keras langkah norma nan diambil oleh pihak AS. Kuba menilai dakwaan tersebut sepenuhnya melanggar norma internasional dan menegaskan kembali pembelaan diri mereka.

"Tidak sah dan ilegal," kata Rodríguez.

Rodríguez mengulangi argumen lama Kuba bahwa penembakan terhadap penerbangan Brothers to the Rescue dilakukan demi memihak diri serta menyebut golongan tersebut sebagai golongan teroris. Melalui media sosial X, dia menilai AS tengah mencoba membenarkan agresi nan diintensifkan terhadap rakyat Kuba.

Pesawat Brothers to the Rescue Ditembak Jatuh

Insiden tahun 1996 tersebut melibatkan jet tempur MiG-29 Kuba nan menembak jatuh dua pesawat Cessna nan dioperasikan oleh Brothers to the Rescue, golongan nan mencari penduduk Kuba nan mencoba melarikan diri dari negara pulau tersebut menggunakan rakit. Tiga penduduk negara AS dan satu pemegang green card di dalam pesawat tewas seketika.

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional PBB menemukan bahwa pesawat-pesawat itu terbang di luar wilayah udara Kuba ketika ditembak jatuh, meskipun perihal ini dibantah oleh Kuba. Organisasi tersebut juga menyatakan bahwa otoritas Kuba tidak melakukan upaya apa pun untuk menangani pesawat-pesawat itu melalui langkah lain, termasuk menghubungi mereka melalui radio alias memandu mereka keluar dari area tersebut.

Penembakan itu memicu kemarahan besar di mana Organisasi Negara-Negara Amerika mengeklaim Kuba melanggar norma internasional, dan Presiden Bill Clinton kala itu mengutuk keras kejadian tersebut. Kongres AS bereaksi dengan memperketat hukuman ekonomi terhadap Kuba.

Pemerintah Kuba membantah melakukan kesalahan dan bersikeras bahwa pesawat-pesawat itu ditembak jatuh di dalam wilayah udara Kuba. Pihak Kuba menuduh personil Brothers to the Rescue berulang kali melanggar wilayah udara mereka untuk menjatuhkan selebaran, dan mengeklaim golongan tersebut berencana menyabotase prasarana Kuba.

Pada Selasa malam, diplomat top Kuba Lianys Torres Rivera mengunggah tautan catatan FAA nan dideklasifikasi dari tahun 1996 di mana para pejabat AS memperkirakan skenario terburuk bahwa suatu hari kelak orang Kuba bakal menembak jatuh pesawat-pesawat ini.

Pada saat penembakan terjadi, Raúl Castro menjabat sebagai menteri pertahanan negara, dan dakwaan menuduh dia mengizinkan penggunaan kekuatan terhadap Brothers to the Rescue. Dalam wawancara tahun 1996 dengan jangkar "CBS Evening News" Dan Rather, Presiden Kuba kala itu Fidel Castro mengakui bahwa dia mengeluarkan perintah umum untuk menghentikan pesawat nan melanggar pemisah negara.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News