Jakarta, CNBC Indonesia - Sebanyak 90 orang tewas akibat ledakan gas di tambang batu bara di China utara. Insiden ini menjadi musibah pertambangan paling mematikan di negara tersebut dalam lebih dari satu dekade.
Media pemerintah China, CCTV, melaporkan operasi pengamanan tetap berjalan hingga Sabtu waktu setempat. Selain korban tewas, sembilan pekerja lainnya dilaporkan tetap hilang.
"Upaya pengamanan tetap berlangsung. Jumlah korban tetap dihitung," tulis CCTV dalam laporannya, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Ledakan terjadi pada Jumat pukul 19.30 waktu setempat saat terdapat 247 pekerja berada di bawah tanah. Hingga Sabtu pagi pukul 06.00 waktu setempat, setidaknya 201 pekerja sukses dievakuasi.
Insiden maut itu terjadi di tambang batu bara Liushenyu nan berada di Kota Changzhi, Provinsi Shanxi, wilayah penghasil batu bara terbesar di China. Sebelumnya, instansi buletin pemerintah Xinhua melaporkan kadar karbon monoksida di dalam tambang "melebihi batas" sebelum ledakan terjadi.
Hingga kini, penyebab pasti ledakan tambang di Shanxi tetap dalam proses penyelidikan.
Sementara itu Presiden China Xi Jinping langsung memerintahkan operasi pengamanan besar-besaran bagi para pekerja nan tetap terjebak di bawah tanah. Menurut laporan Xinhua, Xi juga meminta dilakukan investigasi menyeluruh mengenai penyebab kecelakaan tersebut.
"Xi mendesak penyelidikan menyeluruh atas penyebabnya, dengan pertanggungjawaban ditegakkan sesuai hukum," demikian laporan Xinhua.
Biro Manajemen Darurat Kabupaten Qinyuan menyebut sebanyak 400 hingga 500 personel dikerahkan untuk melakukan operasi pengamanan bawah tanah. Para pejabat tingkat provinsi juga telah tiba di letak kejadian.
Menurut laporan CNN International, pihak perusahaan pengelola tambang, Shanxi Tongzhou Group Liushenyu Coal Industry, mengaku belum mengetahui perincian kejadian tersebut.
"Saya tidak mengetahui situasinya," kata petugas nan menerima telepon sebelum mengakhiri sambungan.
China tetap sangat berjuntai pada batu bara sebagai sumber daya utama meskipun pemerintah terus mendorong pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Provinsi Shanxi sendiri menyumbang lebih dari seperempat total produksi batu bara nasional.
Industri tambang batu bara di China juga dikenal mempunyai catatan keselamatan kerja nan buruk. Meski standar keamanan disebut meningkat sejak awal 2000-an, kecelakaan fatal tetap kerap terjadi.
Pada 2023 lalu, sebanyak 53 pekerja tewas akibat runtuhnya tambang di Mongolia Dalam, menurut laporan media pemerintah China.
(haa/haa)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·