Sejarah pernah mencatat seorang raja nan tidak dijatuhkan apalagi dikalahkan, tetapi justru memilih pergi. Ibrahim ibn Adham meninggalkan singgasananya, kemewahan istananya, dan segala corak kekuasaan duniawi, bukan lantaran kalah, melainkan lantaran sadar ada sesuatu nan lebih tinggi dari semua itu ialah ketenangan jiwa di hadapan Tuhan. Ia menukar gemerlap bumi dengan kesunyian nan penuh makna.
Kisah itu berulang dalam corak lain pada diri Al-Ghazali. Seorang ustadz besar, ahli filsafat brilian, nan berada di puncak pekerjaan intelektualnya di Madrasah Nizhamiyah. Ia tidak dijatuhkan, tidak pula kehilangan pengaruh. Ia justru melepaskan semuanya dengan kesadaran penuh. Ia memilih keluar dari gemuruh pujian dan prestige, untuk mencari kejujuran jiwa nan tidak bisa dibeli oleh kedudukan apa pun. Ia memberi ruang bagi orang lain, dan pada saat nan sama, menemukan kembali dirinya sendiri.
Dua kisah ini bukan sekadar cerita masa lalu. Ia seperti cermin nan diam-diam menatap wajah kita hari ini.
Di negeri ini, panggung kekuasaan dipenuhi narasi perjuangan. Semua tampak sibuk berbincang tentang rakyat, tentang pengorbanan, tentang masa depan. Tetapi di kembali kata-kata itu, ada keganjilan nan semakin susah disembunyikan. Citra sering kali lebih dipoles daripada kejujuran. Tampilan luar lebih dirawat daripada isi hati. nan terdengar bukan lagi bunyi nurani, melainkan kemandang strategi.
Kita menyaksikan gimana kepentingan satu orang alias satu golongan kerap didahulukan, sementara kepentingan publik hanya menjadi latar belakang. Lembaga-lembaga nan semestinya menjadi penjaga kepercayaan justru kehilangan wibawanya. Rasa percaya publik terkikis, pelan tapi pasti. Hukum, nan semestinya tegak, kadang terlihat seperti bisa dinegosiasikan. Pelanggaran Undang-undang terjadi di depan mata, seolah-olah semua orang dipaksa untuk terbiasa melihatnya.
Ketika kekuasaan tidak lagi dipahami sebagai amanah, melainkan sebagai alat, ketika kedudukan berubah menjadi panggung, bukan pengabdian. Bahkan kebaikan pun terkadang terasa seperti bagian dari skenario, bukan panggilan hati.
Sufisme datang bukan untuk membujuk kita lari dari dunia, tetapi untuk mengembalikan makna di dalamnya. Ia mengajarkan sesuatu nan sederhana, tetapi sering dilupakan bahwa kekuasaan bukan milik, melainkan titipan. Bahwa kedudukan bukan kehormatan, melainkan ujian.
Bayangkan jika kekuasaan dipegang oleh hati nan sadar bakal kefanaan. Jika keputusan dibuat dengan kesadaran bahwa setiap tindakan bakal dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi di hadapan Tuhan. Maka politik tidak lagi terasa kotor, norma tidak lagi terasa dingin, dan kepemimpinan tidak lagi terasa jauh.
Namun realita hari ini terasa sebaliknya. Kita hidup di era di mana sorotan kamera lebih dipercaya daripada kejujuran hati. Di mana ketenaran lebih sigap dihargai daripada integritas. Di mana tepuk tangan lebih dicari daripada kebenaran.
Di tengah semua itu, pertanyaannya menjadi sederhana adakah nan tetap berani jujur pada dirinya sendiri?
Kekuasaan, pada akhirnya, hanyalah bayangan. Ia terlihat besar dari kejauhan, tetapi bisa kosong jika tidak diisi dengan keadilan. Ia bisa tampak megah, tetapi rentan jika hanya berdiri di atas citra. Ia bisa diperebutkan dengan segala cara, tetapi tidak bakal pernah memberi ketenangan jika tidak dipegang dengan kejujuran.
Sufisme mengingatkan kita dengan langkah nan sunyi namun mengguncang bahwa nan paling krusial bukan apa nan kita kuasai, tetapi siapa diri kita saat memegang kekuasaan itu.
Mungkin bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tidak kekurangan orang kuat, apalagi tidak kekurangan orang ambisius. Tetapi dia sedang merindukan sesuatu nan jauh lebih langka ialah manusia nan bersih hatinya, nan jujur pada dirinya sendiri, dan nan takut kepada Tuhan apalagi saat tidak ada nan melihat.
Karena pada akhirnya, bukan kekuasaan nan bakal menyelamatkan manusia, tapi hati nan tidak kehilangan Tuhan, apalagi ketika dia berada di puncak kekuasaan.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·