Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Stunting Kubu Raya 30,2 Persen, Pencegahan Diperkuat Prevalensi stunting di Kubu Raya mencapai 30,2%.(Dok. MI)

PREVELENSI stunting pada balita di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, tetap mencapai 30,2%, lebih tinggi dibandingkan nomor Kalimantan Barat sebesar 26,8% dan rata-rata nasional 19,8% berasas Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024. Di tengah kondisi tersebut, sejumlah desa di Kubu Raya mulai mengembangkan model pencegahan berbasis masyarakat, mulai dari pendampingan family berisiko, pemanfaatan pangan lokal, hingga pelibatan remaja nan diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain.

Bupati Kubu Raya H. Sujiwo, mengatakan penguatan intervensi hingga tingkat desa menjadi krusial agar praktik nan terbukti efektif tidak berakhir pada satu wilayah, tetapi dapat diperluas ke desa-desa lainnya.

“Kami minta akibat nan dihasilkan oleh Program PASTI nantinya dapat kami replikasi di wilayah-wilayah lain, sehingga dapat semakin menurunkan nomor stunting di seluruh Kabupaten Kubu Raya,” ujar Sujiwo di Kubu Raya.

Salah satu pendekatan nan dikembangkan adalah pembentukan empat desa model yang menggabungkan edukasi gizi, pendampingan family berisiko stunting, penguatan kader, keterlibatan remaja, serta pemanfaatan sumber pangan nan tersedia di desa.

Di tingkat keluarga, intervensi dilakukan antara lain melalui Pos Gizi DASHAT (PGD) di 20 desa dan kelurahan. Program tersebut menyasar bayi di bawah dua tahun dan ibu mengandung berisiko melalui pemberian makanan bergizi, edukasi pola asuh, serta pemanfaatan bahan pangan lokal.

Pada semester I 2026, Pos Gizi DASHAT telah melibatkan 290 baduta serta 159 ibu mengandung berisiko Kurang Energi Kronis (KEK) maupun ibu mengandung KEK.

Salah satu peserta Pos Gizi DASHAT di Kubu Raya, Susanti (24), mengatakan perubahan pola pemberian makan nan dipelajarinya selama mengikuti aktivitas berakibat pada pertumbuhan anaknya.

“Saya senang sekali ikut PGD. Setelah mengikuti aktivitas ini, berat anak saya naik hingga 800 gram. Sebelumnya, berat anak saya susah naik lantaran nafsu makannya kurang. Setelah ikut PGD dan belajar beragam menu, saya mencoba mempraktikkannya di rumah dan rupanya anak saya suka. Sekarang nafsu makan anak saya meningkat,” kata Susanti.

Selain pendampingan langsung kepada keluarga, penguatan dilakukan terhadap Tim Pendamping Keluarga (TPK). Sebanyak 67 kader TPK dilatih pada 2025, kemudian 52 kader mengikuti penyegaran pada semester I 2026. Mereka bekerja melanjutkan pendampingan serta pemantauan terhadap family nan mempunyai risiko stunting.

Pendekatan tersebut merupakan bagian dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), kemitraan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN berbareng Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), dan PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui Bakti BCA, nan diimplementasikan Wahana Visi Indonesia.

Berdasarkan monitoring program sepanjang 2025 hingga semester I 2026, sebanyak 1.188 orang tua baduta dan ibu hamil di Kubu Raya telah mengikuti komunikasi, informasi, dan edukasi bagi family berisiko stunting serta family dalam periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dari jumlah tersebut, 1.137 orang alias 95,7 persen tercatat mempunyai pemahaman nan baik mengenai stunting.

Head of Early Childhood Education and Development Tanoto Foundation, Michael Susanto, menilai pencegahan sejak periode 1.000 HPK menjadi krusial lantaran periode tersebut menentukan perkembangan anak dalam jangka panjang.

“Masa depan seorang anak ditentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), ketika otak membentuk lebih dari satu juta hubungan saraf setiap detik sebagai fondasi keahlian belajar, kesehatan, dan produktivitasnya. Karena itu, stunting kudu dicegah sedini mungkin,” kata Michael.

Ia mengatakan keberhasilan empat desa model di Kubu Raya diharapkan dapat membuka kesempatan replikasi pendekatan serupa ke wilayah lain.

“Jika empat desa model di Kubu Raya berhasil, kami optimistis praktik baik ini dapat direplikasi, tidak hanya di 27 desa model Program PASTI, tetapi juga di lebih banyak desa di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Upaya pencegahan juga diperluas kepada golongan remaja. Sebanyak 33 Duta Generasi Berencana (GenRe) tingkat desa dan kecamatan mendapat edukasi mengenai gizi dan pencegahan anemia untuk menjalankan peran sebagai peer educator. Kampanye nan mereka lakukan kemudian menjangkau 460 remaja berumur 15-19 tahun.

Direktur Bina Lini Lapangan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Nurizky Permanajati, mengatakan keterlibatan generasi muda krusial lantaran pencegahan stunting perlu dilakukan apalagi sebelum seseorang memasuki fase menjadi orang tua.

“Para anak muda inilah nan nantinya menjadi calon orang tua bagi anak-anak, dan keterlibatan mereka memastikan akibat stunting tidak diturunkan ke generasi selanjutnya,” ujar Nurizky.

Menurut dia, kementerian juga membuka support akses info untuk memperluas replikasi program ke wilayah lain.

Di tingkat desa, pendekatan pencegahan juga mulai diarahkan pada persoalan akses terhadap sumber pangan bergizi. Salah satunya dilakukan dengan memanfaatkan pekarangan untuk kebun gizi serta budidaya ayam petelur.

Kebun tersebut menghasilkan sejumlah bahan pangan seperti terong, kangkung, kacang panjang, bayam, gambas, dan cabai. Sementara budidaya ayam petelur menghasilkan rata-rata 17-20 butir telur per hari yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemenuhan gizi anak dan keluarga.

Program Manager PASTI Hotmianida Panjaitan mengatakan persoalan stunting tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah di dalam family lantaran dipengaruhi pula oleh kondisi di sekitar keluarga.

“Pengentasan stunting bukan sekadar persoalan internal keluarga. Selain latar belakang ekonomi dan edukasi, faktor-faktor eksternal turut menjadi penyebab masalah kegagalan tumbuh kembang anak ini. Dua di antaranya adalah akses ke bahan pangan bergizi dan rumor pernikahan anak,” kata Hotmianida.

Penguatan pencegahan berbasis desa juga mencakup tata kelola data. Pada 2025, sebanyak 46 perwakilan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) desa/kelurahan dan empat perwakilan TPPS kecamatan mengikuti penguatan kapabilitas pemanfaatan info untuk mendukung intervensi di wilayah masing-masing.

Model intervensi di Kubu Raya sekarang menjadi salah satu upaya untuk menguji gimana pencegahan stunting dapat dijalankan dari tingkat family dan desa dengan menggabungkan pendampingan, perubahan perilaku, kesiapan pangan bergizi, keterlibatan remaja, serta penguatan tata kelola.

Dengan prevalensi stunting Kubu Raya nan tetap berada di atas nomor provinsi maupun nasional, keberhasilan pendekatan di desa-desa model bakal menjadi salah satu parameter krusial apakah pola pencegahan berbasis masyarakat tersebut dapat diperluas ke wilayah lain. (Z-10)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia