Ilustrasi(Dok Istimewa)
GUBERNUR Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X membuka World Union Jesuit Alumni Congress X nan digelar di kampus Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, hari Kamis (30/7). Dalam pidatonya, Sri Sultan mengemukakan, Yogyakarta telah lama menjadi pendhapa bagi jejak pendidikan Jesuit, antara lain Kanisius, De Britto hingga Universitas Sanata Dharma.
"Jalan panjang itu telah menanam bibit ilmu, membesarkan watak, dan melepas generasi demi generasi ke beragam palagan kehidupan. Karena itu, setiap kali saya berada di tengah family besar Jesuit, saya merasa sedang kembali kepada percakapan lama. Percakapan tentang pengetahuan nan menemukan martabatnya ketika dia turun menjadi laku, tentang ketaatan nan menjadi terang ketika menjelma pelayanan, tentang persaudaraan nan tidak berakhir pada ingatan, tetapi bergerak menjadi perutusan," kata Sri Sultan.
Dalam aliran Katolik terdapat telaga bening: di mana ada kasih dan cinta, di sanalah Tuhan hadir. Kalimat itu sederhana, namun kedalamannya seperti sumur tua: semakin lama ditimba, semakin bening air nan diberikan.
Bagi kami, lanjut Sri Sultan, menjadi tuan rumah bukan perkara menerima tamu semata. Dalam tata jiwa Jawa, tamu adalah titipan rasa. Ia datang membawa cerita, pengalaman, doa, dan harapan. Maka, lanjutnya menyambut tamu, berfaedah membuka ruang bagi persaudaraan untuk duduk, mendengar, dan menemukan irama bersama.
Lebih lanjut Sri Sultan berpesan, Sultan Agung melalui Serat Sastra Gendhing, mengajarkan bahwa sastra menghadirkan makna, sedangkan gendhing menghadirkan irama. "Makna tanpa irama dapat menjadi kering. Irama tanpa makna, mudah menjadi bunyi nan berlalu. Keduanya mencapai sampurna ketika saling menuntun dalam harmoni," katanya.
Menyorot tema kongres nan diselenggarakan di Yogyakarta, Sri Sultan mengungkapkan tema kongres "Bersatu dalam Semangat, Memimpin dengan Tujuan," seolah menggemakan falsafah itu. Dikatakan berasosiasi dalam semangat adalah gendhing, sebuah kesediaan, untuk mendengar nada nan berbeda tanpa buru-buru menaklukkannya. "Memimpin dengan tujuan adalah sastra, kejernihan arah, keteguhan nilai, dan keberanian menempatkan diri pada jalan pengabdian," ungkap Ngarsa Dalem.
Dikatakan bumi hari ini mempunyai banyak suara, tetapi sering kehilangan irama. Di tengah kelimpahan informasi, manusia justru sering merindukan keheningan, nan bisa menuntun nurani. Para sufi, menyebut keheningan sebagai ruang tempat hati belajar mendengar. Rumi, mengibaratkan manusia, selayaknya seruling bambu nan merindukan asalnya. Semakin dalam rongga batinnya, semakin mungkin dia mengalunkan bunyi nan menyentuh.
Maka, kepemimpinan tidak cukup diukur dari kuatnya suara. Ia juga tampak dari kesanggupan seseorang untuk mendengar nan lirih, menimbang nan samar, dan menjaga agar kuasa tidak kehilangan rasa. Di sini, seorang pemimpin memasuki jalan nan sunyi dengan merendahkan hati, agar tujuan berbareng dapat berdiri lebih tinggi daripada kehendak pribadi.
Budaya Jawa telah lama menangkap kegelisahan itu. Serat Rama ungkapnya mengajarkan, bahwa laku manusia bergerak di antara tiga tingkatan: nistha nan kudu dijauhi, madya nan perlu dimengerti, dan utama nan wajib dijalankan. Ajaran ini adalah cermin bagi setiap manusia, ketika berhadapan dengan pilihan hidupnya.
Di titik inilah keberanian memperoleh maknanya. Nelson Mandela pernah menunjukkan, bahwa keberanian bukan ketiadaan rasa takut, melainkan kesanggupan untuk menguasainya. Tetapi dalam tafsir batin, keberanian tidak berakhir pada kemenangan atas rasa takut. Keberanian sejati, lahir ketika seseorang tetap memilih jalan utama, meskipun jalan itu tidak selalu mudah.
Tidak selalu populer, dan tidak selalu segera berbuah pujian. Mandela, menuntun bangsanya keluar dari kepahitan, tanpa menyerahkan masa depan kepada dendam. Socrates menempatkan introspeksi sebagai awal kebijaksanaan. Dalam bahasa Jawa, itu adalah laku niti, nitik, napak, nanting laku: menelusuri jejak, membaca tanda, menimbang laku, lampau memilih jalan dengan tanggung jawab.
Sebelum memperbaiki dunia, manusia memang perlu berani memeriksa caranya memandang dunia. Dari situlah Hamemayu Hayuning Bawana memperoleh tenaga batinnya: memuliakan kehidupan, menjaga keelokan ciptaan, dan menghadirkan keselamatan bagi sesama makhluk. Dalam tradisi Ignatian: membedakan mana dorongan nan berasal dari ambisi, dan mana panggilan nan tumbuh dari pengabdian. Ada saatnya, manusia kudu berakhir sejenak. Bukan lantaran dia ragu pada jalan, tetapi lantaran dia mau memastikan, bahwa langkahnya tetap setia kepada bunyi terdalam nurani.
Lebih dari 1000 peserta dari 30 negara menghadiri aktivitas ini serta Pimpinan Tertinggi Serikat Jesuit se Dunia Romo Arturo Sosa SJ juga dihadiri personil Kuria dari Roma Romo Yojo Magadia, Romo Thomas Smolich, Romo Robert Ballecer, Romo Joseph Christie,dan Romo Jimmy Bartolo.
Provinsial Serikat Jesuit Indonesia Romo Albertus Bagus Laksana SJ, nan juga Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) mengatakan kongres ini disebut-sebut menjadi rekor pertemuan alumni Jesuit terbesar sejauh ini.
Mengusung tema United in Spirit, Leading with Purpose alias Bersatu dalam Roh, Memimpin dengan Tujuan, kongres ini menekankan pentingnya peran alumni Jesuit sebagai mitra dalam misi dan pemimpin nan berakar pada nilai iman, namun juga responsif terhadap rumor global. “Di bumi nan terpecah oleh perpecahan, konflik, dan ketegangan, ketulusan kita untuk berjumpa di Yogyakarta ini mengirimkan pesan persatuan nan kuat kepada dunia,” tegas Romo Bagus. (H-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·