Skema Sewa Baterai Bikin Ojol Cuan, tapi Belum Tentu buat Anak Kantoran

Sedang Trending 58 menit yang lalu
Test ride Polytron FOX 350 di GIIAS 2026. Foto: Polytron

Skema kepemilikan motor listrik di Indonesia sekarang makin beragam, mulai dari beli putus hingga sewa baterai. Kehadiran pilihan sewa baterai dinilai menjadi solusi efektif untuk menekan biaya awal kepemilikan (Capital Expenditure/Capex) kendaraan listrik.

Model upaya sewa baterai nan sekarang mulai diterapkan produsen seperti Polytron dianggap sangat membantu calon konsumen nan tetap ragu terhadap akibat penurunan kualitas baterai.

Menurut Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Purwadi skema ini secara finansial memindahkan sebagian biaya modal di awal menjadi biaya operasional (Operational Expenditure/Opex) bulanan.

"Sewa beli itu menolong. Satu, menolong risiko. Kemudian nan kedua juga mendapatkan nilai awal Capex-nya nan lebih murah. Jadi sebagian di dalam corak Opex dipindahkan biayanya," ujar Agus kepada kumparan, Selasa (11/8/2026).

sopir ojek online menunjukkan baterai motor listrik. Foto: Dok. BPMI Setpres/Muchlis Jr

Ia menilai skema sewa baterai sangat cocok untuk konsumen kategori heavy user alias pengguna intensif, seperti pengemudi ojek online (ojol) nan mempunyai mobilitas tinggi setiap hari.

Bagi pengemudi ojol nan menempuh jarak sekitar 100 kilometer per hari, penggunaan motor listrik dengan skema sewa baterai jauh lebih ekonomis dibandingkan memakai motor berbahan bakar minyak (BBM).

"Jadi jika misalnya dia jalan sehari 100 kilometer, paling enggak dia butuh BBM lebih dari 2 literan. Kalau 2 liter BBM nan subsidi pun Rp 20ribu. Kalau dia operasi katakanlah sebulan 20 hari, itu udah Rp 400 ribu untuk BBM-nya doang," kata Agus.

Sebaliknya, dengan memanfaatkan skema sewa baterai motor listrik, pengeluaran bulanan pengemudi dapat ditekan secara signifikan tanpa perlu mengkhawatirkan kerusakan baterai.

Mencoba motor listrik Alva N3 dengan rute Bogor-Jakarta. Foto: Arya Ahyani Fadianur/kumparan

"Tapi jika dia pakai motor listrik dengan sewa baterai, dia cuman bayar Rp 200 ribu ataupun Rp 300 ribu, tapi dia gak worry about baterai lantaran ada garansi. Dari sini menurut saya memang Opex-nya pasti beda lah, minimal Rp 200 ribu banding Rp 400 ribu itu udah cukup signifikan," tambahnya.

Namun, Agus memberikan catatan bahwa skema sewa baterai ini belum tentu menarik bagi pengguna harian dengan jarak tempuh pendek commuter misal dari rumah ke kantor.

Bagi golongan masyarakat nan hanya menggunakan motor untuk jarak dekat, biaya sewa baterai bulanan justru bisa terasa lebih mahal daripada membeli BBM secara satuan alias berkala.

"Tapi sebaliknya, bagi orang nan cuman rumah-kantor, itu mungkin even Rp 200 ribu per bulan sewa itu lebih mahal daripada BBM motornya. Karena pengeluaran BBM dia mungkin sehari jika cuman rumah-kantor itu paling 20 kilometer," jelasnya.

Ilustrasi motor matik isi bensin. Foto: Shutterstock

Selain efisiensi biaya energi, operasional motor listrik juga dinilai lebih irit dari segi perawatan rutin bulanan jika dibandingkan dengan motor bermesin pembakaran internal.

Motor bensin memerlukan pergantian oli, perawatan CVT, dan komponen berkala lainnya nan menambah beban Opex penggunanya.

"Kalau ini (motor listrik) kan enggak. Ya baterainya ya itu aja, selama gak ada nan signifikan ya paling berkala periodik gak kudu tiap bulan ke bengkel lah," tutur Agus.

Secara umum, dia menyimpulkan bahwa model upaya sewa baterai terbukti cukup sukses menarik minat masyarakat Indonesia, khususnya golongan pengguna berjarak tempuh panjang.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan