Jakarta, CNBC Indonesia - Kolombia menetapkan tiga hari masa berkabung nasional setelah gempa luar biasa mengguncang wilayah barat negara itu dan menewaskan sedikitnya 250 orang. Gempa berkekuatan magnitudo 7,4 tersebut disebut sebagai nan terkuat nan melanda negara Amerika Selatan itu dalam satu abad terakhir.
Pemerintah Kolombia menyatakan bendera bakal dikibarkan separuh tiang di gedung-gedung pemerintahan dan instansi kedutaan besar di beragam negara "sebagai penghormatan bagi semua korban tewas."
Di tengah masa berkabung, operasi pencarian dan pengamanan terus digenjot untuk menemukan korban nan tetap terjebak di bawah reruntuhan. Tim penyelamat di Pereira dan Cali mengerahkan derek, anjing pencari hingga perangkat berat untuk menyisir gedung nan ambruk.
Warga juga turut membantu dengan membentuk rantai manusia dan mengangkat puing secara manual. Upaya ini dilakukan lantaran 72 jam pertama setelah gempa menjadi periode krusial untuk menemukan korban nan tetap memperkuat hidup di bawah reruntuhan.
Dari udara, sejumlah area permukiman di Cali terlihat porak-poranda, dengan rumah dan apartemen berubah menjadi tumpukan puing. Sejumlah mobil juga hancur tertimpa tembok dan lempengan beton, sementara sebagian Rumah Sakit Universitario del Valle mengalami kerusakan sehingga pasien kudu dipindahkan ke area parkir untuk mendapat perawatan.
Bencana tersebut membikin sistem kesehatan Kolombia berada di bawah tekanan besar. Banyak penduduk memilih tidur di luar rumah lantaran rumah mereka rusak alias cemas terhadap gempa susulan, sementara sebuah taman di Pereira diubah menjadi tempat penampungan darurat nan dilengkapi tenda dan kasur.
Solidaritas penduduk pun bermunculan di beragam wilayah terdampak. Ribuan orang mengirimkan air, makanan dan kebutuhan pokok, sementara antrean panjang terbentuk di sejumlah pusat donor darah.
Presiden Abelardo de la Espriella telah menetapkan status darurat dan menjanjikan subsidi sewa bagi family terdampak. Amerika Serikat juga mengumumkan support darurat sebesar US$5,5 juta alias sekitar Rp97,9 miliar (asumsi kurs Rp17.800/US$), sementara tawaran support dari beragam negara terus berdatangan.
(tfa/tfa)
[Gambas:Video CNBC]
58 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·