Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura tercatat sebagai negara dengan proporsi daratan reklamasi terbanyak di dunia, di mana lahan buatan ini telah menyantap lebih dari seperempat dari total 744 kilometer persegi luas daratannya. Mengutip Channel News Asia, Kamis (03/09/2026), proporsi tersebut diproyeksikan bakal segera membengkak seiring dengan adanya rencana pengerjaan reklamasi besar-besaran di masa mendatang.
Perdana Menteri Lawrence Wong pada Rapat Umum Hari Nasional 2026 mengumumkan bahwa Singapura sedang serius mempertimbangkan penggabungan beberapa pulau di selatan Pulau Jurong menjadi satu pulau barat nan jauh lebih besar dalam beberapa dasawarsa mendatang. Selain itu, pekerjaan persiapan untuk proyek perlindungan pantai berskala raksasa berjudul "Long Island" juga dijadwalkan bakal dimulai pada akhir 2026 sebagai landasan bagi proyek seluas 800 hektare nan bakal menyantap waktu puluhan tahun tersebut.
Akan tetapi, para mahir mulai memperingatkan bahwa metode reklamasi lahan konvensional, seperti penimbunan, sekarang mulai tersendat oleh melonjaknya biaya dan semakin terbatasnya pasokan material urukan. Belum lagi kekhawatiran mengenai akibat fatalnya terhadap lingkungan nan turut membayangi. Profesor Chu Jian, Ketua Teknik Sipil di Nanyang Technological University (NTU), membeberkan perjalanan reklamasi Singapura.
"Untuk reklamasi tanah beberapa tahun belakangan ini, kita tidak lagi mempunyai bukit untuk dipotong, jadi kita mulai mengimpor pasir," ungkapnya.
Mengingat terbatasnya kesiapan pasir impor, Singapura terpaksa beranjak menggunakan tanah liat laut dari pembangunan tembok laut serta material galian dari bangunan MRT dan gedung-gedung tinggi. Profesor Chu menekankan bahwa pasir sejatinya tetap menjadi material nan paling ideal.
"Idealnya, pasir kudu digunakan lantaran mudah ditangani, dan juga pasir kurang dapat dimampatkan. Jika Anda menggunakan tanah liat, bakal sangat susah untuk mengolahnya ... biaya perbaikannya juga bakal lebih tinggi," paparnya.
Tantangan untuk mendapatkan material urukan nan cukup semakin dipersulit oleh kebutuhan volume nan jauh lebih besar lantaran Singapura sekarang kudu mereklamasi area laut nan semakin dalam. David Ng dari Institution of Engineers Singapore (IES) memperkirakan bahwa setiap satu hektare laut dengan kedalaman sekitar 10 meter memerlukan sekitar 100.000 meter kubik material urukan.
Dengan dugaan kedalaman dasar laut rata-rata 20 meter, proyek Long Island nan seluas 800 hektare diperkirakan memerlukan setidaknya 160 juta meter kubik material infill, alias secara kasar setara dengan volume 64.000 kolam renang berukuran Olimpiade.
Menyiasati krisis material ini, Singapura mulai bergeser pada September lampau dengan mereklamasi 800 hektare daratan di Pulau Tekong melalui metode empoldering (pembuatan polder). Metode revolusioner ini terbukti sukses memangkas penggunaan pasir hingga nyaris setengahnya, meski menyantap biaya pemeliharaan nan jauh lebih tinggi.
Profesor Madya Edward Park, penyelidik utama di Earth Observatory of Singapore, menyatakan bahwa penggunaan material daur ulang seperti tanah galian alias lempung laut nan diolah sebagai pengganti pasir adalah inisiatif keberlanjutan nan sangat baik. Namun, volume nan dihasilkan sering kali hanya sebagian mini dari ratusan juta meter kubik nan dibutuhkan.
"Mereka sering kali tidak dapat memasok permintaan skala besar," tegasnya.
Park juga menambahkan bahwa memproduksi pasir buatan dari batu nan dihancurkan dalam skala reklamasi sangat padat daya dan mahal, sehingga pasir alami diperkirakan bakal terus mendominasi permintaan di masa mendatang. Untuk proyek Long Island, para insinyur kemungkinan besar bakal mengangkat sistem polder hibrida, menggunakan tanggul pemisah pelindung dan jaringan drainase untuk menciptakan daratan di bawah permukaan laut guna memangkas drastis volume timbunan nan dibutuhkan.
Sementara itu, rencana penggabungan pulau di wilayah barat, jika disetujui, kemungkinan bakal mengikuti cetak biru Pulau Jurong dengan membangun tanggul penahan nan berat dan menimbun perairan dangkal di sekitarnya.
Di sisi lain, para master lingkungan telah lama memperingatkan bahwa proyek reklamasi raksasa bakal menghancurkan ekosistem secara permanen. Menanggapi kekhawatiran ini, Kementerian Pembangunan Nasional Singapura memastikan bakal melakukan studi teknis dan penilaian lingkungan secara mendalam untuk memandu semua rencana pembangunan. Ng dari IES turut menegaskan pentingnya pendekatan berkelanjutan.
"Untuk proyek-proyek reklamasi lahan nan bakal datang ini, sangat krusial untuk mempelajari dan mengeksplorasi penggunaan metode dan material kreasi dan bangunan nan lebih berkepanjangan guna meminimalkan akibat pada lingkungan laut dan pesisir di sekitarnya," pungkasnya.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·