Simbol Buang Sifat Buruk, Warga Lembang Gelar Perang Tomat

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Simbol Buang Sifat Buruk, Warga Lembang Gelar Perang Tomat Sejumlah penduduk Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, bersiap melakukan perang tomat.(MI/DEPI GUNAWAN)

SEBANYAK 1,5 ton tomat dihabiskan dalam tradisi Rempug Tarung Adu Tomat nan digelar di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat (26/6).

Awalnya, tradisi perang tomat ini rutin diselenggarakan setiap tahun sejak 2011 pada bulan Muharam. Namun, sempat vakum sejak 2020 akibat pandemi Covid-19.

Prosesi perang tomat diawali dengan Upacara Ngayag Sayur nan dibawa oleh beberapa orang perempuan. Sementara dari dua arah, prajurit berkostum komplit menggunakan topeng dan tameng anyaman bambu telah siap untuk bertempur tomat.

Tanpa aba-aba, peserta dan penonton langsung larut dalam kemeriahan dengan saling melempar tomat nan telah disiapkan di dalam keranjang-keranjang besar. Hanya dalam waktu sekitar 20 menit, jalan kampung berubah menjadi lautan merah setelah diguyur lemparan sekitar 1,5 ton tomat.

Ketua pelaksana, Acep Unan mengatakan, tomat nan digunakan merupakan tomat busuk nan sudah tidak layak konsumsi sehingga tidak mengganggu pasokan pangan.

"Sambil jalan dibersihkan, seluruh tomat nan dipakai untuk perang dikumpulkan kembali untuk dijadikan kompos. Pemprosesan kompos langsung dilakukan di kebun selama dua minggu," katanya.

Menurut dia, perang tomat mempunyai filosofi membuang sifat-sifat jelek dan menumbuhkan kembali kebaikan. Ini sekaligus menjadi corak rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi.


Dari protes petani


Acep mengungkapkan, tradisi ini berasal dari corak protes petani pada 2011 saat nilai tomat ambruk hingga hanya sekitar Rp500 per kilogram. Harga itu tidak sebanding dengan biaya produksi seperti untuk membeli pupuk, obat-obatan pertanian dan lainnya.

"Daripada terbuang sia-sia, tomat busuk nan tidak laku kemudian dimanfaatkan sebagai media pagelaran budaya melalui perang tomat ini," ucapnya.

Dia menyebut, sekarang nilai tomat di tingkat petani mulai membaik mencapai sekitar Rp12 ribu per kilogram, sedangkan di pasaran berkisar Rp18 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram. Kondisi tersebut dinilai jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu.

Ia berharap, tradisi perang tomat dapat terus dilestarikan dengan tetap membawa pesan pelestarian budaya, kepedulian terhadap petani, serta semangat menjaga kebersamaan masyarakat.

"Alhamdulillah, setelah vakum beberapa tahun, aktivitas tahun ini sangat bagus, masyarakat antusias. Insya Allah tahun depan bakal lebih meriah. Kita juga berambisi kemakmuran petani lebih meningkat," jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia