Silvofishery di Bulungan, Transformasi Tambak Udang Windu lewat Mangrove

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Silvofishery di Bulungan, Transformasi Tambak Udang Windu lewat Mangrove Herman menunjukkan sebagian hasil panen tambak silvofishery.(MI)

HAMPARAN tambak tradisional membentang luas mengikuti garis pantai di Desa Tanjung Buka, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara. Di sinilah Herman, Ketua Kelompok Tani Tambak (KTT) Tias Berkah, berbareng anggotanya menggantungkan hidup pada komoditas udang windu. Namun, setelah nyaris 20 tahun mengelola tambak, Herman mulai merasakan perubahan lingkungan nan mencemaskan.

Hasil panen udang windu nan menjadi urat nadi ekonomi penduduk tidak lagi stabil akibat kualitas air laut nan memburuk. Kondisi ini memaksa Herman memutar otak mencari solusi agar upaya tambaknya tetap produktif dan berkepanjangan bagi masa depan keluarganya.

Titik Balik melalui Silvofishery

Harapan baru muncul pada tahun 2024 melalui Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR). Herman dan kelompoknya mulai mengangkat pendekatan budi daya berkepanjangan dengan metode silvofishery, pola nan mengintegrasikan penanaman mangrove di dalam area pertambakan.

Awalnya, langkah ini tidak melangkah mulus. Keraguan sempat menyelimuti para petambak. Mereka cemas akar mangrove nan besar bakal mempersempit ruang mobilitas udang dan mengurangi luasan efektif tambak. Namun, melalui pendampingan intensif, kekhawatiran tersebut perlahan sirna.

Program M4CR melakukan sosialisasi melalui proses Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (PADIATAPA) dan edukasi mendalam lewat sekolah lapang. Para petambak dibekali wawasan teknis modern, mulai dari manajemen pintu air, kontrol salinitas, hingga pengecekan pH air nan ideal bagi pertumbuhan udang.

Aksi Nyata dan Lonjakan Hasil Panen

Berbekal pemahaman baru, KTT Tias Berkah merehabilitasi area mangrove seluas 77 hektare dengan pola tanam 800 bibit per hektare. Herman dan anggotanya secara konsisten merawat bibit, melakukan penyulaman pada tanaman nan mati, hingga membersihkan gulma secara berkala.

Hasilnya luar biasa. Dampak ekologis dari mangrove nan tumbuh subur langsung dirasakan pada produktivitas tambak:

  • Sebelum Rehabilitasi: Hasil panen udang windu berkisar 100-150 kilogram.
  • Sesudah Rehabilitasi: Produksi melonjak tajam mencapai 150-300 kilogram dalam satu kali panen.

Akar mangrove nan kokoh sekarang berfaedah menjaga stabilitas pesisir dari abrasi, memperbaiki kualitas perairan, dan menjadi kediaman alami bagi organisme pendukung ekosistem tambak.

Apresiasi dan Ekonomi Berkelanjutan

Atas dedikasi tersebut, KTT Tias Berkah meraih tingkat keberhasilan tumbuh mangrove hingga 87 persen. Sebagai corak apresiasi, Program M4CR memberikan support lanjutan melalui skema Matching Grants untuk pengembangan upaya penggemukan kepiting bakau.

"Pelestarian ekosistem mangrove kudu sejalan dengan ketahanan pangan pesisir. Ketika lingkungan pulih, pasokan pangan dan pendapatan pun ikut naik tanpa kudu saling mengorbankan," ujar Sarif, PPIU Manager M4CR Kalimantan Utara.

Dukungan nan diberikan meliputi fiber boat beserta mesin tempel, bibit kepiting bakau, keranjang penggemukan, serta peralatan pendukung lainnya. Dengan ekosistem mangrove nan semakin sehat, masyarakat sekarang mempunyai sumber pendapatan pengganti nan kokoh melalui budidaya kepiting bakau, membuktikan bahwa kelestarian alam adalah kunci kesejahteraan pesisir. (Ant/I-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia