Dosen dan penulis buku, Muhammad Sufyan Abdurrahman berbincang dalam Worskhop "Menulis Kreatif Berbasis AI Etis" di Perpustakaan Kementerian Dikdasmen.(ISTIMEWA)
DOSEN Telkom University Bandung, Muhammad Sufyan Abdurrahman mendapat kepercayaan sebagai narasumber Muhammad Sufyan Abdurrahman, dalam Worskhop "Menulis Kreatif Berbasis AI Etis" di Perpustakaan Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Dikdasmen), Jakarta Pusat.
Penulis kitab Digital Public Relations Writing nan terbit pada Juni 2026 itu menekankan perlunya produktivitas humas saat menulis rilis, terutama dari sisi perspektif pandang (angle) pemberitaan. Hal ini krusial lantaran pemberitaan lembaga tidak boleh sekedar menggugurkan kewajiban, tapi bisa mencapai titik persuasi optimal dalam akal masyarakat.
"Menulis rilis nan baik dan mudah difahami adalah salah satu langkah terbaik humas berkomunikasi kepada masyarakat. Sebab, rilis adalah induk dari semua corak penulisan humas lainnya. Mulai dari caption, advertorial, laporan tahunan, apalagi membikin penulis lebih terampil berpidato," tambahnya, Selasa (11/8).
Kegiatan ini diinisasi Kepala Biro Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (BKHM) Kemendikdasmen RI Yudhistira Nugraha. Acara resmi dibuka oleh Kepala Bagian Informasi dan Fasilitasi Layanan Terpadu Anandes Langguana dengan moderator Ilma Avitrianty (Katim Fasilitasi Hubungan Antar Kementerian).
Turut datang Anang Kusuma (Kasubag Tata Usaha), An An Anwar Hikmat (Katim Unit Pelayanan Terpadu), Shahwin Purnomo Aji (Katim Pengelolaan Medsos), Bunga C Anastasia (Katim Fasilitasi Hubungan Lembaga Non Pemerintahan) serta lebih dari 30 personel dari sejumlah unit di bawah BKHM.
AI PELUANG EMAS
Lebih jauh, Dosen Digital Public Relations Telkom University tersebut mengungkapkan, era kepintaran buatan (AI) menjadi kesempatan emas humas unjuk gigi. Ketika tulisan di ruang publik condong homogen atas fasilitasi AI, humas bisa menulis secara menarik, relevan, dan unik, lebih dari lainnya.
Untuk mencapai perihal tersebut, sambung penulis kitab humas terbitan PT Simbiosa Rekatama Media itu, humas perlu lebih peka menulis terutama saat menetapkan angle pemberitaan. Jika selama ini umumnya berpusat pada lembaga ataupun ketua institusi, maka sesekali bisa lebih menekankan kepentingan dari pemangku kepentingan institusi.
Sufyan menegaskan, tantangan penulisan di lingkungan pemerintahan saat ini bukan semata-mata menghasilkan sebanyak mungkin informasi, melainkan gimana mengubah info institusional menjadi cerita nan mempunyai nilai bagi publik. Pola penulisan terlalu institusional malah berpotensi membikin info krusial kehilangan daya tarik.
"Misalnya mengenai kerja sama teknologi pembelajaran dengan negara luar. Jika diberitakan seremoni kegiatannya, maka itu sudah sering kita lihat. Mari imajinatif menuliskan angle lain, misal apa sih faedah utama kepada para guru, siswa bakal bisa apa dengan seperti itu, serta apa kebaruan teknologi nan bisa diterima sekolah se-Indonesia," ujar eks wartawan lintas media nasional itu.
Selain dalam paparan, materi nan disampaikan Sufyan juga banyak diterapkan dalam simulasi penulisan dalam corak lima soal selama sekitar 1,5 jam. Dua golongan terbaik dari total 16 golongan lantas dipilih Sufyan dan Kepala Bagian Informasi dan Fasilitasi Layanan Terpadu Anandes Langguana sebagai pemenangnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·