Sehari Bersama Suku Naulu di Pelosok Maluku, Bersahaja Meski Hidup Tanpa Cahaya

Sedang Trending 3 bulan yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ibu-ibu Kampung Rohua, Desa Sepa, Kecamatan Amahai, Maluku Tengah, lebih sibuk dari biasanya. Mereka berkumpul di satu rumah penduduk. Meramu daging kurban jadi hidangan lezat.

Daging sapi memang bukan lauk rutin penduduk di sana. Nyaris setiap hari, ikan laut tak pernah tidakhadir di meja makan.

"Nasib penduduk kepulauan," kata mereka tersenyum saat berjumpa Liputan6.com pada Jumat (29/6/2026) lalu.

Sementara anak-anak Kampung Rohua tampak serius berlatih di bawah tenda. Mereka mau menampilkan sebuah tarian. Di kampung pesisir itu, seremoni Idul Adha tak sekadar penyembelihan hewan kurban. Biasanya, mereka membikin beragam perlombaan untuk seluruh warga. Dari anak-anak hingga dewasa. Seperti lomba lari, sepak bola hingga panjat tebing. Persis kemeriahan jelang Hari Kemerdekaan 17 Agustus.

"Di sini jika Idul Adha enggak kalah meriah dengan 17-an," kata salah satu warga.

Warga Kampung Adat Hidup Tanpa Sekat

Di antara kerumunan penduduk nan memadati tanah lapang untuk menyaksikan pentas tarian, sekumpulan laki-laki dengan ikat kepala merah mencuri perhatian. Semua mengenakan kain sarung setinggi betis. Dua simbol nan melekat dengan keseharian mereka.

Meski penampilannya berbeda dengan penduduk pada umumnya, tak sedikit pun terlihat sekat di antara mereka. Berbaur dan bersilaturahmi antartetangga.

"Beliau-beliau adalah penduduk budaya dari Suku Naulu," kata Amin, tokoh kepercayaan di kampung itu.

Suku Naulu adalah masyarakat budaya nan menetap di Pulau Seram, Maluku Tengah. Mereka hidup berbaur dengan masyarakat. Meski dalam kesehariannya, Suku Naulu tetap mempertahankan tradisi para leluhur secara kuat.

Jurnalis Liputan6.com berkesempatan mengunjungi kampung budaya Suku Naulu. Permukiman Suku Naulu tersebar di Kampung Rohua. Bahkan jumlahnya, lebih banyak dari masyarakat biasa. Tak jarang, mereka juga ditunjuk sebagai kepala dusun di sana. Sebab, sebelum banyak pendatang, konon Suku Naulu sudah lebih dulu ada di sana.

"Jadi mereka orang original di sini. Bahkan mereka kebanyakan jika di kampung kita," ujar Amin.

Tak hanya mempunyai simbol tertentu dalam berpakaian, Suku Naulu juga mempunyai bahasa nan berbeda dengan penduduk pada umumnya. Sebenarnya, beberapa masyarakat budaya bisa berkata Indonesia. Tetapi kurang lancar, lantaran memang jarang digunakan.

Setiap keluar rumah, laki-laki dewasa Suku Naulu bakal mengenakan ikat kepala merah. Ikat merah itu dipakai sebagai pembeda dengan penduduk pada umumnya. Sementara untuk wanita sudah menikah diwajibkan mengenakan sarung setiap hari.

"Tabea" kata rombongan nan tiba di kampung adat.

Pada tokoh di kampung menyambut baik. Mereka mempersilakan masuk. Suatu kehormatan lantaran tak sebarang orang bisa masuk ke rumah adat. Bahkan untuk memotret perkampungan budaya kudu meminta izi terlebih dahulu.

"Ikat merah ini tanda berani. Waktu era peperangan ikat itu menjadi simbol identitas, sudah dewasa baru boleh pakai ikat merah," kata salah satu tokoh saat ditanya makna dari penutup kepala nan dipakai.

Menjaga Tradisi Leluhur, Hidup Tanpa Pencahayaan

Sehari-hari, mereka beraktivitas seperti biasa. Mencari makan dengan bertani dan nelayan. Perbedaan hanya pada langkah mereka menjalani keseharian. Rumah-rumah Suku Naulu, kebanyakan tetap terbuat dari susunan papan alias bambu. Sementara bagian atapnya dari daun sagu nan tersusun rapi.

Rumah-rumah itu gelap sepanjang hari walaupun wilayah sekitarnya sudah dialiri listrik. Mereka memang belum mengenal cahaya. Hunian tanpa sinar adalah tradisi para leluhur nan tetap dijaga kuat.

"Menurut leluhur sudah seperti itu, meskipun sekarang sudah ada penerangan, sejak dulu dia punya lampu enggak bisa pakai," kata Ketua Adat Suku Naulu di Kampung Rohua.

Sebagai gantinya, mereka membikin pencahayaan sendiri dengan langkah tradisional dari kayu. Pencahayaan itu biasanya hanya dinyalakan malam hari.

Suku Naulu di Kampung Rohua terdiri dari lima marga. Di Dusun Rohua, kebanyakan suku budaya nan menetap bermarga Soumory. Menurut ketua adat, setiap marga mempunyai larangan berbeda. Utamanya dalam perihal makanan dikonsumsi. Misal, ada nan tidak boleh menyantap daging.

"Dan itu kudu betul-betul dipatuhi pantangannya," ujarnya.

Ada tradisi lainnya nan kudu dijalani para wanita dewasa Suku Naulu. Selain wajib mengenakan kain setelah menikah, mereka juga bakal dipisahkan dengan suaminya ketika baru melahirkan. Mereka bakal menghuni rumah unik di kampung budaya unik ibu baru melahirkan dan bayinya.

"Waktunya tiga bulan. Jadi setelah melahirkan langsung masuk ke rumah ini, tidak boleh kembali ke rumahnya."

Toleransi Antar Warga hingga Berkah Hewan Kurban

Tahun ini, masyakarat budaya Suku Naulu bahagia. Mereka ikut menikmati hewan kurban sumbangan penduduk Kampung Rohua. Total ada tiga hewan kurban pengedaran Dompet Dhuafa untuk penduduk di sana. Daging sudah disembelih diletakkan di anyaman daun kelapa nan disebut Kamboti.

"Kami sebut ini bingkisan untuk mereka, lantaran kita berkerabat juga. Sama-sama kami di sini semua merayakan kurban," ujar Amin.

Tokoh budaya semringah menyambut pemberian. Bahkan rombongan Dompet Dhuafa nan melakukan penyerahan hewan kurban diperkenankan masuk ke dalam rumah adat.

"Kami anggap ini sebagai rezeki, lantaran makanan kan rezeki," kata Ketua Adat setempat.

Masyarakat budaya merasa sangat tersentuh. Kebaikan hari itu, katanya, menunjukkan kerukunan antar umat muslim dan masyarakat budaya di Kampung Rohua terjalin indah.

"Terima kasih atas kita semua punya kerukunan umat muslim. Di hari kurban kita bisa dapat bagian," ujarnya tersenyum.

Sebelum menyudahi silaturahmi hari itu, ketua budaya bergurau. Daging kurban nan diberikan seumpama kejutan. Di tengah tangkapan ikan laut nan lagi berkurang akibat cuaca, daging kurban menjadi jawaban persoalan.

"Makasih atas kurbannya, kita mau goreng. Kebetulan juga tangkapan ikan sepi," kelakarnya disambut tawa pada rombongan.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita