Sementara itu di sisi lain, Mu'ti juga angkat bicara mengenai viral sekolah di NTT menerima smart board, tetapi rupanya sekolah tersebut belum ada aliran listrik.
"Khusus buletin nan viral, tentang sebuah SD negeri di NTT itu sesungguhnya nan beredar di media sosial itu tidak akurat. Karena sebenarnya SDN itu mempunyai beberapa ruang kelas, nan lainnya itu tetap berfungsi," kata dia.
"Jadi nan di video itu nan tidak berfungsi, nan rusak, tapi kelas nan lainnya itu berfungsi. Dan IFP-nya juga berfungsi, Mas. nan di video nan sedang tidak berfungsi, nan kelas nan lain berfungsi," sambung Mu'ti.
Dia juga menegaskan mengenai dengan program digitalisasi di sekolah ada empat setengah.
"Yang pertama pemberian IFP-nya. nan kedua training gurunya, jadi gurunya kita latih. nan ketiga itu pemberian laptop. Kemudian nan keempat itu akses jaringan. Nah, itu empat. Nah, setengahnya itu, jaringan itu ada dua ialah jaringan internet dan jaringan listrik," papar Mu'ti.
"Internet nan belum ada kami bantu melalui Starlink, dan itu sudah kami lakukan di daerah-daerah 3T, nan lantaran harganya sangat bisa terjangkau dan sudah kami lakukan," sambung dia.
Kemudian, lanjut Mu'ti, listrik itu ada dua skema, pertama melalui panel surya dan kedua melalui pembangunan jaringan baru.
"Dan kami sudah ada pembahasan dengan PLN untuk pembangunan jaringan ini, sehingga insyaallah ke depan itu bisa kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," jelas Mu'ti.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·