Sebelum Tabrak KRL, Masinis Argo Bromo Sudah Rem 1,3 Km dan Bunyikan 'Semboyan 35'

Sedang Trending 2 minggu yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek telah melakukan pengereman pelan sekitar 1,3 kilometer sebelum kejadian tabrakan dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat pada 27 April 2026.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan pengereman dilakukan masinis kereta api jarak jauh itu setelah menerima info adanya temperan (tabrakan) kereta di depan.

"Tadi saya sampaikan bahwa dari jarak 1.300 meter setelah menerima buletin bahwa di depan ada temperan, masinis sudah melakukan pengereman," kata Soerjanto usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi V DPR RI di Jakarta, Kamis (22/5/2026).

Menurut KNKT, info mengenai adanya tabrakan di jalur depan disampaikan oleh pusat pengendali operasi kepada masinis melalui komunikasi bunyi sehingga kondisi sebenarnya di lapangan belum dapat diketahui secara langsung.

Karena hanya menerima info melalui komunikasi suara, petugas pengendali operasi tidak mengetahui secara rinci situasi di letak kejadian dan meminta masinis mengurangi kecepatan sebagai langkah antisipasi keselamatan.

Selain mengurangi kecepatan, masinis juga diminta memperbanyak penggunaan semboyan 35 alias membunyikan klakson sebagai peringatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi ancaman di jalur kereta.

"Cuma lantaran situasinya kan di Pusdal itu tidak tahu riil sebenarnya lantaran komunikasinya kan lewat bunyi saja, lewat voice," ujarnya.

"Jadi kondisi lapangannya seperti apa dia enggak tahu, cuman menunjukkan bahwa ada temperan di depan, rem-rem dikit. Terus kemudian banyak-banyak melakukan semboyan 35," tambah Soerjanto.

KNKT menyatakan masinis telah merespons pengarahan dari pusat pengendali operasi di Manggarai dengan melakukan tindakan sesuai info nan diterima sebelum kejadian kecelakaan terjadi.

"Nah itu aja nan disampaikan, sehingga masinis sudah melakukan, merespon apa nan disampaikan oleh Pusdal dari pengendali operasi di Manggarai," bebernya.

Meski demikian, KNKT menegaskan tetap terlalu awal untuk menyimpulkan penyebab utama kecelakaan lantaran sejumlah aspek teknis dan operasional tetap dalam proses penelitian lebih lanjut.

Tim investigasi saat ini tetap mengumpulkan, memverifikasi, dan mengolah beragam info pendukung nan diperlukan guna memperoleh gambaran menyeluruh mengenai rangkaian peristiwa sebelum kecelakaan terjadi.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita