Sampah rumah tangga di TPS Pasar Cikurubuk, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya menggunung dan sekarang telah menutup akses jalan hingga banyak penduduk maupun pedagang mengeluhkan atas masalah tersebut.(MI/Kristiadi)
SEBANYAK 116 orang tenaga sukawan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya mogok kerja dan menuntut pengangkatan sebagai pegawai. Ratusan pegawai tersebut, memilih membiarkan tumpukan sampah tempat pembuangan sementara (TPS) dan sejumlah titik jalan protokol.
Pantauan di letak sampah rumah tangga menumpuk setiap TPS mulai Cikurubuk, Pasar Lama, Pancasila, Tanuwijaya, Lingkar Dadaha, SL Tobing dan beberapa ruas jalan protokol. Namun, tumpukan sampah rumah tangga banyak di buang ke TPS dan mulai tercium aroma menyengat lantaran ratusan petugas mogok bekerja.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah DLH Kota Tasikmalaya, Fery Arif Maulana, mengatakan, tumpukan sampah rumah tangga nan dibuang di setiap TPS paling banyak dan disusul sampah pasar hingga volumenya meningkat mencapai 350 ton per hari. Namun, tindakan mogoknya ratusan tenaga sukwan telah membikin tumpukan sampah meningkat lantaran semua belum terangkut.
"Kami memilki 11 armada dengan kondisi baik 3 unit, tidak layak pakai 8 unit, dump truck 5 unit dalam kondisi baik, 9 unit layak pakai dan 13 unit tidak layak. Akan tetapi, mogoknya 116 tenaga sukwan bagi DLH sangat kewalahan mengangkut sampah di setiap TPS termasuk jalan protokol hingga beberapa titik letak menutup badan jalan," ujar Fery, Senin (11/5/2026).
Menurut Fery, volume sampah terjadi di wilayahnya meningkat mencapai 350 ton per hari dan beberapa langkah dilakukan secara bergilir menggunakan truk dengan menyisir jalan protokol. Karena, langkah ini agar tidak menganggu kendaraan dan pejalan kaki nan mana sampah sudah tercium aroma menyengat.
"Kurangnya armada dan ratusan pekerja mogok membikin sampah tidak terangkut hingga penduduk mengeluhkan atas kejadian tersebut. Kami berupaya menyelesaikan tumpukan sampah di TPS, lantaran ada beberapa titik letak menutup akses jalan sembari menunggu ekskavator maupun loder agar semua dapat ditanggulangi," katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Pasar induk Cikurubuk, Deri Herlisana, mengatakan, tumpukan sampah di TPS paling banyak sampah rumah tangga hingga kondisi ini telah menutup akses jalan hingga banyak pedagang mengeluhkan. Namun, sampah tersebut sudah mengeluarkan aroma hingga membikin pejalan kaki kudu menutup hidung.
"Dinas Lingkungan Hidup menunggu perangkat berat dan tumpukan sampah di TPS telah menutup akses jalan. Akan tetapi, penduduk setempat maupun pembeli berbelanja ke pasar sering membuang ke TPS hingga sekarang sampah sudah mengeluarkan aroma tak sedap bagi para pejalan kaki," pungkasnya. (AD)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·