Cerita Yusuf, Remaja yang Mengais Rezeki dari Sketsa Wajah di Bundaran HI

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Wawancara dengan Muhammad Yusuf (17), Pelukis sketsa wajah di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Goresan tangannya telah melukis ribuan wajah nan berlalu lalang di Bundaran HI, Jakarta Pusat. Di atas kertas, pensil di tangannya bergerak mengikuti lekuk wajah orang-orang nan digambarnya. Itulah keseharian dari seorang remaja berjulukan Muhammad Yusuf (17).

Setiap akhir pekan, Yusuf datang ke area Bundaran HI untuk menawarkan jasa sketsa wajah. Ia tidak mematok harga, orang nan mau digambar cukup bayar seikhlasnya.

Namun, aktivitas Yusuf di tengah keramaian Jakarta bukan sekadar tentang menggambar. Di kembali kertas dan pensil nan dibawanya, ada upaya seorang remaja untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan hidup.

“Sehari-hari saya jika weekdays jualan roti di Stasiun Sudirman dari pagi sampai sore. Dan jika setiap weekend itu jualan pagi doang. Sorenya ngelukis di HI,” kata Yusuf saat ditemui di Bundaran HI, Jakarta, Sabtu (12/9).

Kegemarannya menggambar sudah muncul sejak kecil. Yusuf aktif menekuni aktivitas menggambarnya itu. Namun, ketika kondisi ekonomi keluarganya memburuk, dia mulai berpikir untuk menjadikan keahlian menggambarnya sebagai sumber penghasilan tambahan.

“Waktu mini memang kegemaran gambar. Cuma sejak ekonominya mulai down, saya mikir buat jadiin talenta saya sebagai sampingan gitu, Bang,” ungkap Yusuf.

Dari Ngamen hingga Jualan Roti di Stasiun

Kondisi ekonomi tersebut bermulai setelah orang tua Yusuf berpisah. Saat itu, keluarganya tidak mempunyai penghasilan sama sekali. Sebelum berdagang roti, Yusuf sempat mengamen menggunakan darbuka, perangkat musik nan berasal dari Timur Tengah. Ia juga pernah mencoba berdagang makanan di sekolah.

“Awal mulanya lantaran orang tua pisah, dan ekonominya saat itu mulai down dan nggak ada penghasilan sama sekali. Jadi, awal mulanya tuh saya ngamen dulu,” kata Yusuf.

“Terus dari situ coba jualan di sekolahan. Jualan donat, roti goreng, martabak. Terus lantaran di sekolahan nggak laku, akhirnya coba terjun ke lapangan, ke Stasiun Sudirman,” tambahnya.

Yusuf mulai berdagang di Stasiun Sudirman sejak duduk di bangku kelas 7 SMP pada 2023. Baginya, berdagang di sekolah bukan perkara mudah. Makanan nan dibawanya kerap tak lenyap sehingga dia kudu menanggung kerugian.

“Saya jualin keliling kelas alias saya titipin ke kantin gitu. Cuma sering banget nggak laku. Maksudnya sering nombok,” ungkapnya.

Berbeda dengan di sekolah, Stasiun Sudirman memberinya lebih banyak pelanggan. Menurut Yusuf, para pembeli di stasiun mempunyai kebutuhan nan berbeda dengan teman-temannya di sekolah.

Beberapa hasil karya Muhammad Yusuf di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

“Dari pengguna lebih banyak di Sudirman. Karena di sekolahan tuh anak-anak lebih pilih nan murah dan kenyang," ungkapnya.

Meski begitu, berdagang di jalanan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Yusuf mengaku pernah mengalami beragam kejadian, mulai dari dimintai duit oleh preman hingga berhadapan dengan Satpol PP.

“Suka itu jika ada pengguna terus ada tip gitu, nah itu senang banget. Tapi dukanya ada banyak dari Satpol PP, dari preman-preman. Dari pedagang lain nan iri gitu,” kata Yusuf.

Ia apalagi pernah dimintai duit Rp 5.000 oleh preman setiap hari. Namun, perihal itu sekarang sudah tidak terjadi lagi.

“Dari preman pernah dipalakin Rp 5.000 sehari. Cuma sekarang sudah enggak, alhamdulillah,” tutur dia.

Salah satu kejadian nan paling membekas baginya terjadi ketika ada penertiban. Saat itu, kotak nan digunakannya untuk memajang roti direbut hingga roti nan dibawanya jatuh.

“Saya lagi jalan, tahu-tahu Satpol datang ngerebut boks saya buat nge-display roti. Terus saya tahan, akhirnya roti jatuh-jatuhan tuh, Bang. Satpol nginjak satu roti,” tutur Yusuf.

“Waktu itu agak sedih sih, Bang. Terus sempat adu mulut juga sama Satpol-nya, sempat kata-kataan gitu. Saling maki-maki. Cuma ya sudahlah ridho-ridho aja,” lanjutnya.

Sketsa Wajah Dibayar Seikhlasnya

Di sela perjuangannya berjualan, Yusuf tetap mempertahankan keahlian menggambar nan telah menjadi hobinya sejak kecil. Saat akhir pekan, selain berdagang dia juga mengasah kemampuannya melalui kertas gambar.

Di sana, Yusuf menawarkan jasa sketsa wajah dengan sistem pembayaran seikhlasnya. Ia sengaja tidak menetapkan tarif agar orang-orang tetap bisa menggunakan jasanya sesuai kemampuan.

“Karena di HI sini kan banyak orang-orang nan kelas menengah kan, nan mungkin pengin dapat lukisan tapi dengan budget nan rendah gitu. Jadi saya atur budget mereka sesuai nan mereka pengenin gitu, Bang. Biar nggak keberatan mereka juga” kata Yusuf.

Sistem tersebut membikin penghasilannya dari menggambar tidak menentu. Rata-rata orang nan menggunakan jasanya memberikan sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Bahkan, Yusuf pernah menerima penghasilan hanya Rp 5.000.

“Paling rendah itu pernah bayar Rp 5.000, itu sakit banget,” ungkap Yusuf.

Sementara dari berdagang roti, penghasilannya juga berjuntai pada jumlah roti nan terjual. Dalam sehari, Yusuf membawa 30 roti, masing-masing 15 pada pagi dan sore hari.

“Sehari itu bawa roti 2 kali 15 biji kan, pagi-sore. Jadi kira-kira bisa menghasilkan Rp 300.000 sehari, itu tetap kotor. Kalau bersih itu kisaran Rp 100.000-an jika nggak salah,” ujar Yusuf.

Beberapa hasil karya Muhammad Yusuf di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9/2026). Foto: Pradya Tirta/kumparan

Bertahan untuk Ibu

Bagi Yusuf, sang ibu mempunyai peran krusial dalam kehidupannya. Selain menjadi sosok nan menghidupinya, ibu Yusuf juga membikin sendiri roti nan kemudian dijualnya setiap hari.

“Selain dari buat kesehatan mental, Ibu juga nan menghidupi saya, Bang. Jadi itu roti-roti semua Ibu nan bikin tuh. Misalkan nggak ada Ibu, saya mau hidup pakai gimana gitu," ujar Yusuf.

Karena itu, ketika merasa capek alias berada dalam kondisi sulit, sosok ibunya pula nan membikin Yusuf tetap bertahan.

"Karena kudu menghidupi Ibu, kudu tetap hidup,” katanya.

Meski kudu bekerja untuk membantu kebutuhan keluarga, Yusuf tidak sepenuhnya meninggalkan pendidikan. Setelah sebelumnya tidak melanjutkan sekolah formal, sekarang dia mengikuti pendidikan Paket C di PKBM Muslimin di area Senen, Jakarta Pusat.

Pendidikan apalagi menjadi salah satu perihal nan mau lebih dia dalami jika suatu hari kondisi ekonominya sudah tercukupi. Selain sekolah, Yusuf juga mau kembali mendalami seni.

“Kalau tercukupi, saya konsentrasi ke pendidikan sih. Lebih konsentrasi ke sekolah, ke mendalami seni juga sih,” katanya.

Namun, Yusuf tidak membayangkan dirinya menjadikan menggambar sebagai pekerjaan utama. Ia justru mempunyai mimpi nan berbeda.

“Pengin nan utama itu jadi bos perusahaan. Perusahaan roti Ibu saya, gitu,” ungkap dia.

“Yang jelas saya pengin bahagiain Ibu, saya pengin berangkatin Ibu umrah dan haji sekalian. Saya pengin buatin Ibu perusahaan, pengin buatin Ibu rumah di luar negeri, di Makkah, sebagai ucapan terima kasih,” pungkasnya.

Bagi Yusuf, perjalanan hidupnya saat ini belum selesai. Di satu sisi dia tetap kudu membawa roti untuk membantu ibunya. Di sisi lain, pensil tetap berada di tangannya sebagai keahlian nan dia rawat sejak kecil.

Dan di kembali semua itu, Yusuf tetap menyimpan satu angan lain: terus belajar dan mengembangkan dirinya. Sebab, jika kelak kebutuhan hidupnya telah tercukupi, dia mau mempunyai lebih banyak ruang untuk pendidikan dan seni nan sejak mini telah menjadi bagian dari dirinya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan